Halo warga ku!!!
Hehehehe sorry to sorry yaaa kalo aku baru update sekarang😁
Btw,
Happy reading!!!
Yangyang berjalan keluar dari halaman rumah Lia dengan tergesa. Dirinya tidak menyangka jika Lia berbohong dengan alibi sang adik ingin bertemu dan bermain dengan Yangyang.
Ternyata, tidak.
"Yang, lo mau kemana sih?! Lita nungguin lo dirumah--YANG?!"
Didalam rumah Lia hanya ada dirinya sendiri.
Yangyang menyentak tangan Lia yang menahan lengannya agar tetap berada dirumah gadis itu. Yangyang menatap tajam Lia.
"Bukan Lita yang mau ketemu gue. Tapi, elo yang mau ketemu gue." balas Yangyang dengan nada dinginnya.
"Brengsek!"
Setelah mengumpat, Yangyang berjalan meninggalkan Lia yang berdiri di teras rumahnya sembari meneriaki namanya.
-Liu Yangyang-
Aku berdiri di halte seraya menunduk menatap bayanganku dalam genangan air yang semalam hujan deras.
Memikirkan bagaimana caranya agar pikiranku bisa melupakan semua hal tentang Yangyang.
Dan hari ini Yangyang tidak masuk sekolah. Entah karena apa, yang jelas aku tidak ingin tahu.
((Padahal dalam hatinya penasaran))
Puk!
Aku berjengit sebab terkejut. Menatap empu yang memukul bahuku.
"Ngapain kamu bengong gini? Bukannya langsung pulang," tanya Mas Umin yang langsung menarikku menuju motornya yang terparkir di warung depan sekolahku.
"Mas abis dari mana emang?" alih-alih menjawab aku malah bertanya balik.
Mas Umin tersenyum. "Abis bahas tugas kuliah bareng Mas Jongin," jawab Mas Umin.
Setelah berhenti disamping motor matic nya, dia menatapku sejenak. Itu membuatku sedikit gugup.
"Ih, kenapa natap aku kayak gitu?" tanyaku sembari memukul lengannya.
Mas Umin tertawa, kemudian kembali diam menatapku. "Kamu lagi marahan sama Yangyang? Tumben lho udah hampir mau dua minggu Yangyang ngga ke kafe. Biasanya kan bareng kamu tuh," tanya Mas Umin membuatku terdiam.
Hampir dua minggu, katanya, ya?
Selama itu aku lost contact dengannya?
Huhuhuhu rasanya aku ingin cepat-cepat pulang dan menangis sepuasnya di kamar.
Mas Umin menatapku khawatir karena terdiam dengan wajah sedih.
"Dhea? Mas, ada salah ngomong yaa? Maaf, kalo gitu, ayo kita--"
Aku memegang lengan Mas Umin yang mulai merogoh kantong jaketnya. Mungkin ingin mengeluarkan kunci motor.
Mas Umin memandang ku dengan lembut. "Kenapa? Ada yang mau diomongin?" tanya nya, aku mengangguk pelan.
"Didalem aja yuk?" ajak Mas Umin yang segera aku tolak. "Gausah. Disini aja, Mas."
Mas Umin mengangguk. "Yaudah, sok mau ngomong apa?"
Aku memainkan ujung jaket yang Mas Umin pakai. Menatapnya sendu. "Mas Umin..." panggilku yang mulai serak.
"Iya, kenapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
IMAGINE | NCT
FanfictionBecause we both like to imagine :) • Start; 25 Oktober 2022
