LEE JENO

84 3 0
                                        

Jeno as Jaya
Y/n as Dinda

*****

"Mas berangkat dulu, kamu dirumah hati-hati." Pamit Jaya pada Dinda yang hanya menganggukkan kepalanya.

Ia menyalimi tangan sang suami dan Jaya mencium dahi Dinda.

"Assalamualaikum,"

"Waalaikumussalam, hati-hati, Mas."

Setelah kepergian Jaya, Dinda kembali masuk ke dalam rumahnya. Ia mengelus perut hamil empat bulannya yang sudah terlihat buncit itu.

Mengusapnya dengan sayang, "Adek, kalo mau minta ke ayah, nggak boleh yang aneh-aneh ya. Ngerepotin." Gumam Dinda seraya tersenyum kecil.

Ia teringat beberapa bulan lalu, tepatnya saat kehamilannya baru menginjak dua bulan.

Dimana dirinya saat itu tengah memuntahkan isi perutnya pada waktu tengah malam. Selesai itu, ia membangunkan Jaya, suaminya.

Flashback.

"Mas, bangun~"

Jaya masih enggan memberikan gerak-gerik akan bangun. Dinda kembali membangunkan Jaya seraya menggoyangkan lengannya.

"Mas~"

"Hm, kenapa sayang?"

Dinda melihat jam di dinding, menunjukkan pukul dua dini hari. Tapi, entah kenapa Dinda ingin sesuatu yang harus dituntaskan saat itu juga.

"Mas, aku mau es krim roti..." Dinda bergumam sambil menundukkan kepalanya.

Jaya membuka matanya sebelah, melirik jam berapa saat ini.

Ia berdecak pelan, "besok aja ya? Ayah capek banget, ibu." Jawab Jaya tak sesuai harapan Dinda.

"Tapi, Mas, aku maunya sekarang:("

Jaya membuka matanya sempurna, bangun dari tidurnya. Menatap lelah istrinya. "Kalo minta apa-apa tuh bisa nggak sih nggak nyusahin? Ini udah jam berapa, Dek? Mas capek, baru tidur jam sebelas tadi. Tolong ngerti, masih ada besok." Ucap Jaya tegas membuat nyali Dinda menciut.

"Lagian aneh aja minta es krim malem-malem. Nanti kamu pilek." Lanjutnya, setelah itu kembali merebahkan tubuhnya.

Dinda berjalan keluar kamar menuju ruang makan. Ia duduk di salah satu kursi yang sudah ia tarik. Menenggelamkan wajahnya diantara lipatan kedua tangannya.

Menangis dalam diam.

"Maaf, aku nyusahin kamu, Mas... Ini juga kemauan adek, ayah, bukan kemauan ibu..." Gumam Dinda yang sudah sesenggukan.

Ia bangkit dan mengambil roti tawar di rak. Beruntung es krim sisa ia beli beberapa hari lalu masih tersisa walaupun sudah tinggal sedikit.

"Lain kali nggak boleh nyusahin ayah ya dek? Nyusahin ibu aja, kalo mau pengen sesuatu jam segini, sama ibu aja yaa? Ayah capek kerja buat kita..." Dinda bergumam. Sambil mengusap perut juga setelahnya menyendok es krim ke roti yang diambilnya.

"Baca doa dulu ya, nak. Selamat makan ibu~"

Flashback end.


Sampai di bulan menginjak ke empat ini, Dinda terus melaksanakan acara mengidamnya dimalam hari.

Ia menuruti apa kata Jaya, bahwa ia tidak boleh menyusahkan suaminya. Ia harus bisa sendiri.

Karena memang sebelum di lamar dan menikah dengan Jaya, Dinda adalah wanita yang memang mandiri karena dia anak pertama dari dua bersaudara.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

IMAGINE | NCTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang