-14-

261 29 6
                                    

"pembohong"
.

.

.

Okkotsu, my beloved❤️

Yuta

Yaa?? Ada apa?? Kau ingin sesuatu??

Temui aku di depan gerbang sekolah.

Baik!

Kau ingin mengatakan tentang eksekusi mu kepada Okkotsu, namun kau selalu berpikir, pasti Okkotsu akan kecewa padamu karena janji yang kau buat telah kau ingkari lagi.

Okkotsu, pria yang kau cintai saat ini. Tapi kau juga merasa bersalah kepada Ryota. Kau membohongi nya selama ini.

Tapi kau merasa kalau ini adalah hukuman yang adil untukmu, dengan ini kau bisa kembali bertemu dengan Ryota. Tapi.. kau juga tak ingin egois, kau tak dapat berhenti memikirkan tentang Okkotsu.

Okkotsu berlari menuju gerbang sekolah, tempat yang kau janjikan itu. Dia merasa sangat senang akhirnya kau ingin bertemu dengannya.

Saat sudah sampai, Okkotsu mencari-cari keberadaan mu. Dan akhirnya dia melihat mu berdiri tak jauh dari sana.

Okkotsu langsung menghampirimu, dan memelukmu dari belakang. Kau memang agak sedikit terkejut, tapi kau juga berusaha untuk bersikap lebih tenang lagi kali ini.

"(Name).. aku merindukanmu" ucapnya

"Aku juga.. Yuta, ada yang ingin aku katakan"

Okkotsu melepaskan pelukannya dan menghadap kepadamu.

"Katakan saja" ucapnya sambil tersenyum.

"Dalam hitungan satu Minggu lagi, aku akan melanjutkan eksekusi hukuman mati ku."

Okkotsu dan kau terdiam sejenak, kau sedikit menunduk. Okkotsu memasang ekspresi tak percaya di wajahnya.

"Hahah, lelucon yang lucu (name)! Kau berusaha untuk membuatku tertawa ya??"

"Aku tidak bercanda!.. tanya saja Satoru-sensei"

Okkotsu kembali terdiam, tangannya mengepal sangat keras, dia mulai emosi namun dia berusaha untuk menahannya.

"Pasti ini karena para petinggi, iya kan?"

Kau mengangguk pelan.

Okkotsu semakin mengepalkan tangannya.

"(Name), kita bisa kabur dari sini! Kau bisa kabur bersamaku.. ayo kita kabur dari sini!"

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Okkotsu, ya pelakunya adalah dirimu sendiri.

Okkotsu sangat terkejut, lalu di menoleh dan menatapmu sambil memegangi pipinya yang agak sedikit merah.

Matamu perlahan basah, dan sebuah buliran air menetes dari matamu.

"Okkotsu Yuta.. bahkan di saat seperti ini kau tak berhenti memikirkan ego mu sendiri.."

Ekspresi wajah Okkotsu berubah menjadi ekspresi kecewa dan sedih.

"Pembohong.."

Kau sedikit terkejut karena kata-kata Okkotsu.

"Kau pembohong.. kau bilang kau akan selalu di sisi ku, kenapa kau berbohong?.."

Kau mundur satu langkah ke belakang, dan kau akhirnya mengingat janjimu pada Okkotsu saat itu. Kau menunduk dan membiarkan rambutmu menutupi wajahmu.

"Maaf.. Yuta"

"Kenapa? Kenapa kau tidak ingin tetap bersamaku saja?"

Kau hanya terdiam.

"Kenapa kau mengikuti para petinggi bodoh itu? Kenapa kau mau di permainkan oleh para petinggi itu? Kenapa kau tidak ingin melanjutkan hidupmu? Kenapa kau membohongi ku?.."

"Okkotsu Yuta.. Hentikan!.."

"Kenapa kau lebih memilih pergi dari sisi ku?.. kenapa.. kenapa orang yang aku cintai selalu pergi meninggalkan ku?" Mata Okkotsu kini mulai basah.

Kau dengan cepat menarik Okkotsu ke dalam pelukanmu, kau memeluknya dengan erat.

"Yuta.. aku tidak bermaksud seperti ini. saat itu, aku sangat lelah dengan hidupku dan lebih pasrah kepada para petinggi.. namun aku bertemu denganmu, aku merasakan makna hidup lagi.. di saat kau bilang kalau kau mencintaiku, aku merasa kalau aku sudah menemukan tujuan hidupku untuk mencintaimu dan menjaga mu agar tetap disisiku."

Okkotsu menyembunyikan wajahnya di bahumu, perlahan kau merasakan bajumu mulai basah. Kau sedikit berjinjit dan kembali mengeratkan pelukanmu.

"Aku tidak bisa menghindari ini.. aku tau kau kecewa padaku, aku juga tau kau merasa dibohongi.. tapi ku mohon jangan sampai ada jarak di antara kita."

Perlahan kau melepaskan pelukanmu, dan menatap dalam-dalam wajah Okkotsu, dan mengusap pipi Okkotsu yang basah.

"Aku ingin.. menghabiskan satu minggu terakhirku bersama mu, boleh kan?"

Okkotsu menatap mu dalam-dalam, lalu dia mengangguk kecil.

Kau tersenyum tipis, lalu kembali mengusap pipi Okkotsu perlahan.

"Berlakulah seolah tidak ada yang akan terjadi, aku tau yang lain juga akan tau tentang ini, tapi kumohon berlakulah seolah tidak ada yang akan terjadi. Seperti biasa, kau dan aku." Ucapmu.

Kau mengulurkan jari kelingking mu kepada Okkotsu dan Okkotsu menyatukan jari kelingking nya dengan jari kelingking mu dan kembali tersenyum.

"Tidak ada yang bisa membuat kita terpisah, ayo kembali lewati hujan dan badai petir bersama" ucap Okkotsu.

"Seperti biasa, hanya kau dan aku."

"Kita berdua."

"Hanya kita berdua."

.

.

.

.

[To be Continued]

𝚁𝙴𝙳 𝚃𝙷𝚁𝙴𝙰𝙳 𝙾𝙵 𝙵𝙰𝚃𝙴 || 𝑶𝒌𝒌𝒐𝒕𝒔𝒖 𝒀𝒖𝒕𝒂 𝒙 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒆𝒓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang