12. Ketemu

711 112 33
                                    

"Udah berapa hari lo di sini?" Tanya Shua begitu mereka sudah menemukan Hana.

"Menurut kalian aja. Emang gue ngilang udah seminggu gitu? Baru juga dua hari." jawab Hana.

"Nyesel gue nyariin lo, kalo tau-tau lo ternyata nggak kenapa-napa. Bikin panik orang aja lo!"

"Yang nyuruh lo nyariin gue siapa?" Seru Hana tak terima, karena ucapan Tenesya.

"Salah sendiri tiba-tiba nomer telpon lo, nggak bisa dihubungi!" Balas Tenesya.

"Pulang aja deh, lo! Sumpek kamar gue ada manusia kayak lo!"

"Ini kos punya gue! Gue bisa aja ngusir lo dari sini tau, nggak!"

"Gue bayar lunas! Cash! Nggak ngutang! Enak aja lo! Yang ada, elo yang gue usir, karena mengganggu kenyamanan dan mengundang keributan. Jangan lo pikir, gue nggak tau sama aturan yang lo buat! Jika ada penghuni kos yang membawa tamu, dan tamu tersebut menimbulkan ketidaknyamanan, maka penghuni kos bisa melaporkan kepada pihak yang berwajib! Gue laporin lo sama polisi! Mampus!"

"Laporin aja! Gue ada Wanda!"

"Halah! Kayak Wanda mau aja ngebelain elo!"

"Kalian mau sampai kapan berantemnya?" Sahut Shua yang sedang sibuk memakan cemilan bersama Donita, dan menyaksikan percekcokan antara Tenesya dan Hana.

"Udah selesai." jawab Hana. "Bagi dong! Dih anji*, kok dihabisin, sih? Gue belinya pake duit tau!" Marah Hana, ketika tau cemilannya sudah tandas.

"Salah sendiri lo malah cekcok." balas Donita.

"Ginian doang, pelit banget sih, lo! Kalo lo kurang, minta aja sama Satya! Gue yakin, dia bisa beliin lo sama pabriknya!" Sahut Tenesya.

"Diem deh, jangan bahas duda tukang ngatur itu! Males banget gue!"

"Affaah iyyaaaah? Yakin lo nggak suka sama dia?" Ejek Tenesya.

Hana hanya melirik sekilas ke arah Tenesya. "Nggak!"

"Oh iya? Masa sih? Berarti lo nggak mau jadi bininya dia? Kan enak, lo tinggal ongkang-ongkang kaki sambil ngangkang doang, terus dapet unlimited money, tanpa harus capek-capek kerja lagi."

"Lo berdua sama aja mulutnya!" Dengus Hana merujuk kepada Donita dan Tenesya.

"Emang gue salah apa? Gue bener, kok! Lo juga selalu ngeluh capek, dan pengen resign. Giliran Satya ngajak lo tinggal di rumahnya, lo malah nggak mau, terus kabur. Padahal kan, enak." pancing Donita.

"Ya lo mikir lah, emang gue cewek apaan tinggal serumah sama lawan jenis, tanpa ada ikatan apapun? Apa kata emak gue? Dulu aja gue udah nge-ulti tetangga gue gara-gara anaknya hamil diluar nikah. Gue takut balik dikatain anj***!"

"Pake pengaman lah, anj***! Gob*** banget, gitu doang masih takut! Lo pikir, perusahaan kon*** bikin itu buat jadi bahan masakan?" Balas Donita.

"Berarti, kalo Satya nikahin lo dulu, lo mau, kan?"

"Nggak tau!" Jawab Hana ketus, begitu mendengar pertanyaan Shua.

"Serius deh, Han! Lo suka nggak sih, sama Satya? Sebel banget gue lama-lama, ngeliat lo uring-uringan mulu, gara-gara tuh cowok, yang kata lo nggak ada adab!" Tanya Tenesya.

"Tolong banget ya, Han. Lo jujur aja deh, sama kita. Masa iya, lo nggak ada rasa sama Satya? Padahal kan, beberapa waktu lalu, pas dia pegang pipi lo, lo ngerasa nyaman." desak Shua.

"Nggak tau! Gue bingung!" Suara Hana terdengar frustasi.

"Bingung kenapa? Dibagian mananya?"

Hana berdecak. "Di waktu-waktu tertentu, gue emang ngerasa nyaman sama Satya, dan itu yang bikin gue betah kerja sama dia, selain karena gajinya gede. Dia ramah, tenang, disiplin, bertanggung jawab, tau bagaimana cara menghargai usaha orang lain, dan setia. Kalo untuk yang satu ini, gue jelas tau, karena hidupnya dia cuma di kantor, rumah, sama keluar pas ada rapat di luar kantor aja."

Boss or Lust [Miss Independent Series]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang