14 - Kabur

115K 7.2K 261
                                        

Elian, Askar, Kenzy, Fikram, dan Femas lari keluar gedung sekolah. Sampai di gerbang, mereka tidak menemukan Ghava maupun Fania.

Fikram mengintip Pos di dekat gerbang, seorang security sedang tidur.

"Pak!" panggil Fikram.

Gelagapan kaget, kontan lelaki bertubuh kurus dengan kumis tebal itu terlonjak berdiri, ia menampilkan gerakan silat seolah siap berkelahi. Maklum, nyawanya belum terkumpul sempurna.

"Pak!" sentak Fikram menepuk bahu lelaki itu sampai sadar.

"Eh? Apa, sih? Ganggu orang aja ah, saya gak jadi punya istri empat gara-gara kamu!"

"Banguuuunnn ... Bapak cuma mimpi."

"Maka dari itu, karena gak mungkin kejadian harusnya jangan bangunin saya dong."

"Saya lapor istri Bapak, nih, ya? Saya tau loh rumah Bapak di mana."

Lelaki itu langsung cengengesan. "Baperan amat, kadal gurun."

Melupakan Ghava sejenak, yang lain tertawa melihat pertikaian konyol di dapan mata mereka.

"Bapak liat Ghava keluar gerbang gak? Dia sama cewek."

Lelaki itu berpikir keras seperti mengingat-ingat. Lalu menatap Fikram lagi.

"Liat?" tanya Fikram.

"Kan saya tidur."

"Woi ... pukulin aja yok lah ini bapak-bapak!" sahut Kenzy.

"Dosa, anying," kekeh Askar.

Tak berselang lama Pak Debio datang membawa plastik, dia dari membeli gorengan di seberang jalan.

"Ada apa rame-rame baris di gerbang? Ini belum waktu pulang tau."

"Pak Debio tau Ghava gak?" tanya Femas.

"Bocah tengil gitu siapa yang gak tau?"

"Enggak ... maksud saya liat Ghava gak? Barusan sama Fania."

Pak Debio menaikkan bahu. "Saya gak kenal Fania. Tapi mungkin yang tadi sama Ghava berdiri di depan gerbang. Tadi dari seberang jalan saya liat Ghava berdiri di situ sama anak cewek pake jaket yang biasa kalian pake."

"Jaket Renzio?"

"Iya. Terus Ghava lari ke gang situ, keknya mau ke Warung Mirna. Gak lama si ceweknya masuk taksi."

Suara motor Ghava terdengar mendekat, seketika semua orang mengintip keluar gerbang.

"Fania mana? Tadi gue suruh dia nunggu di sini," tanya Ghava cemas.

***

Kehadiran Bu Riani yang menyusul Ghava ke depan gerbang mampu menghentikan cowok itu saat hendak mengejar Fania. Ghava dipaksa masuk dan tidak diperbolehkan membolos.

Langkah pelan mengiringi Ghava menuju kelas, semua tatapan fokus padanya. Anak-anak beranggapan bahwa Ghava adalah penyebab Fania hamil.

"Kak Ghava!" teriak Leona tiba-tiba menghadang Ghava.

Sontak cowok itu berhenti, satu alis terangkat. Ghava memang bisa humoris dan santai kepada siapapun, tapi saat ini suasana hatinya sedang kacau.

Entahlah, kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Nanti aja kalo mau minta foto, gue lagi males," ucap Ghava menepis tubuh kurus Leona.

Melanjutkan langkah, kontan Ghava kembali berhenti begitu baju seragam bagian belakangnya ditarik oleh Leona sampai terdengar bunyi robekan.

ALGHAVATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang