Dengan bersungguh-sungguh dan sejujur mungkin Ghava dan Ratu berusaha meyakinkan wanita dewasa di hadapan mereka bahwa tidak terjadi apa-apa antara mereka berdua.
Melihat mata dua remaja itu saat mereka tengah berusaha menjelaskan, entah kenapa Ibunya Ratu menaruh rasa percaya begitu saja.
Fokus wanita itu tertuju pada Ghava. "Yaudah, Tante percaya. Tapi mulai sekarang gak ada belajar di kamar ataupun di luar lagi. Kalian belajar di ruang tengah dengan Tante yang ngawasin dari awal sampe akhir."
"Hah?!" sentak Ghava dan Ratu bersamaan.
Kalau diawasin bakal susah dong bagi Ghava berpura-pura jadi guru privat. Mana Ghava cukup bodoh lagi dalam bidang akademik. Kalau Ibunya Ratu sampai mengetahui jika yang Ghava ajarkan pada Ratu merupakan pelajaran anak SD sampai SMP gimana?
"Harus banget diawasin?" protes Ratu.
"Kalo gamau yaudah, mulai hari ini gak ada guru privat-guru privatan."
"Eh-eh, Tan, iya gapapa, deh. Demi menjaga kepercayaan Tante saya siap menerima persyaratan Tante," terima Ghava.
"Oke!" jawabnya, sebelum keluar mengusap pundak Ratu. "Kalo udah selesai langsung turun ke bawah. Tuh dicariin sama Oma."
"Oma siapa, sih? Gamau ah."
"Ratu! Tolong kali ini aja hargain mertua Mama."
"Yaudah iyaaa."
"Mama tunggu di bawah."
"Iyaaaa."
Setelah wanita itu keluar dari kamar, Ghava langsung berpamitan pulang ke apartemen.
"Mau langsung ke Jakarta?" tanya Ratu.
"Mungkin besok pagi aja."
"Oh ... salam buat Leona. Maaf juga buat yang tadi. Hampir aja lo dapet masalah."
"Iya, sans aja ... besok disalamin ke Leona."
***
Sedang menyapu halaman ditemani Anzel yang anteng memperhatikan dari stroller, Leona berseru antusias melihat kehadiran Ghava memasuki pagar.
Cowok itu membunyikan klakson panjang, berhenti tepat di hadapan Anzel. Leona lari kecil menyusul Ghava.
"Wahhh ... bawa apa, tuh?" tanya Leona.
"Ini buat Anzel," jawab Ghava memasukkan empeng karakter berbentuk kumis ke dalam stroller.
Lalu menyodorkan bubur ayam yang dia beli di jalan tadi kepada Leona.
"Gak ada yang jualan odeng, jadi bubur ayam aja," kata Ghava.
"Siapa juga yang dagang odeng pagi-pagi buta?" kekeh Leona. "Emang lo ke sini jam berapa, Kak?"
"Abis sholat subuh langsung OTW."
"OG."
"Ouch gityu?"
Leoan tertawa lucu.
"Dasar kang copy. Dapet salam tuh dari Ratu."
"Gue? Salamin balik, ya?"
"Jadi kurir salam gue lama-lama."
"Gitu doang."
"Yaudah sono lanjutin nyapu. Gue males, ya, melihara jenggot!" Ghava menarik gas menuju garasi.
Leona mengerutkan kening. "Dih, gaje!"
Lanjut menyapu halaman, di tengah aktivitasnya Leona biarkan Ghava melintas mendorong stroller Anzel keluar pagar.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALGHAVA
Fiksi RemajaTak pernah terlintas di pikiran Leona Marseille, bahwa dia akan berurusan dengan sosok pemimpin geng motor paling ditakuti di kotanya, yang tak lain adalah kakak kelasnya sendiri. "Maaf, Kak...." "Gue gapernah mau nerima kata maaf dari siapa pun. Ja...
