64 - Anak Baru

68.3K 4.7K 1.3K
                                        

Minggu sore yang ceria, anak Renzio berbondong-bondong mengunjungi rumah Ghava atas undangan sang tuan rumah. Katanya ada info makan-makan, entahlah dalam rangka apa.

Seperti biasa Askar langsung nyelonong masuk rumah, menghampiri seorang lelaki di ruang tamu yang sedang bermain dengan Anzel.

Dengan ringan Askar melempar tubuhnya di dekat lelaki itu, menyandarkan dagu ke atas bahu sambil ikut menggoda Anzel.

"Gila, Ghav, seminggu kagak ketemu dah kekar aja bahu you," kata Askar merasakan perbedaan.

Bahkan Askar sampai meremas-remas lengan lelaki di dekatnya, kemudian cowok itu berdecak kagum.

"Ooowww ... i tau, nih, you sering ngilang-ngilangan karena sekarang jadi anak gym, 'kan? Ngaku! Punya badan berotot kagak ajak-ajak, huuu ...."

Anak Renzio terdiam di ambang pintu memperhatikan Askar dengan wajah pongo.

Lelaki itu menoleh Askar dengan kening berkerut, bibir Askar sedikit terbuka kala matanya medapati sedikit keanehan di wajah Ghava.

"OH MY GOD! What's wrong with your face, Bro?!" heboh Askar menyentuh sudut mata lelaki di hadapannya. "You penuaan dini, Ghav? K-kok kerutan di muka you keliatan banget?"

Elian langsung masuk, dia tarik tangan Askar sampai cowok itu berdiri di balik tubuhnya. Askar kebingungan diperlakukan seperti itu, ingin marah tapi dia Elian.

Lalu inti Renzio yang lain menyusul masuk. Askar menoleh kiri-kanan, tambah bingung lantaran ditatap tajam oleh Kenzy, Fikram, dan Femas.

Herlambang berdiri, mengamati satu persatu remaja di hadapannya dengan intens sehingga membuat mereka cukup segan. Saking tegangnya, beberapa ada yang sampai menelan ludah karena sesungguhnya mereka tidak tahu jika ada Herlambang di rumah Ghava.

Senyum ramah terukir di bibir Herlambang, seketika itu juga anak Renzio dapat bernapas lega. Selama ini mereka mengenal Herlambang dengan sosok yang menyeramkan, tapi kenapa sekarang malah bersikap sebaliknya?

"Ghava di belakang, masuk aja," suruh Herlambang.

Tadi bibir Askar sedikit terbuka? Sekarang bibir Askar benar-benar terbuka lebar. Cowok itu syok, bisa jadi setelah ini setiap malam dia gabisa tidur selalu liat tiap malem gabisa tidur tidurnya siang.

Oke, author ngaco.

Askar memeluk tangan Kenzy dengan mata tidak berkedip tetap menyorot lurus kepada Herlambang.

"Bukan Ghava?" tanya Askar berbisik.

"Bapaknya, bego! Sok asik banget lagi lo sama orang tua," jawab Kenzy.

"Kok ada di sini?"

"Ya mana gue tau."

Anak-anak Renzio ke belakang menghampiri Ghava. Terlihat cowok itu baru saja mematikan kompor, merekahkan senyum lebar menyambut teman-temannya yang masih keheranan akan keberadaan Herlambang.

"Buruan ambil mangkok. Racik sendiri tuh kasih bihun, kasih bawang goreng, dan segala macemnya. Baksonya di panci. Sebenernya gue mau nyuruh kalian dateng dari kemaren-kemaren, tapi mood masaknya baru sekarang, hehe."

Fikram merangkul bahu Ghava, mendekatkan bibir ke telinga cowok itu.

"Enggak, Ghav, ini maksudnya apa? Kok tiba-tiba di depan ada bokap lo?"

"Ceritanya panjang, nanti aja gue ceritain. Sekarang makan dulu."

Ghava memberikan mangkuk kepada Fikram, menyuruh yang lain untuk mengambil mangkuk juga.

ALGHAVATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang