28 - Anzel

104K 7.4K 377
                                        

Dengan dada sesak dan mata sembab, Ghava lari menyusuri lorong rumah sakit untuk segera menuju ruangan Fania.

Cowok itu dibuntuti Leona, saat Ghava hendak pergi tadi Leona memaksa untuk ikut.

Berhenti di depan ruangan yang dituju, seorang lelaki yang duduk di depan ruangan sembari memijat pelipis langsung berdiri begitu menyadari kehadiran Ghava. Lelaki dewasa berkemeja putih itu mendekat.

"Kamu Alghava?" tanya lelaki itu.

Menyugar rambut ke belakang seraya mendongak guna menahan air mata yang siap jatuh, Ghava mengangguk.

"Sejak lima bulan lalu, Fania kerja di rumah makan saya. Dia tinggal di rumah yang telah saya sediakan bersama rekan kerjanya yang lain. Awalnya saya tidak mau mempekerjakan wanita hamil, tapi Fania terus memaksa dan menceritakan semuanya sehingga saya merasa iba. Dia sudah saya anggap seperti adik saya sendiri."

"Terima kasih atas kebaikan, Bapak, selama ini," parau Ghava.

"Di sisa-sisa waktu sebelum Fania menghembuskan nafas terakhirnya ... dia memberikan dua nomor ponsel kepada saya. Satu kontak ayah dari bayinya, dan satu lagi kontak kamu. Saya berikan dua nomor itu kepada pihak rumah sakit, karena satu nomor sudah tidak aktif, jadi pihak rumah sakit menghubungi nomor kedua. Ternyata itu nomor kamu. Saya rasa tugas saya menjaga Fania telah selesai. Saya serahkan bayi Fania kepada kamu. Tolong sayangi anak itu, karena bagaimanapun dia memiliki aliran darah yang sama dengan kamu. Silakan masuk ke dalam ruangan, jenazah Fania masih ada di sana."

Menyeka cairan yang jatuh di pipi, tanpa basa-basi Ghava masuk ke dalam ruangan, setelahnya mematung beberapa detik begitu melihat tubuh kaku di atas ranjang tertutup selimut.

Kaki Ghava lemas, langkahnya menjadi berat, Ghava berjalan pelan mendekati ranjang tempat Fania berbaring. Tangan Ghava gemetar, jantungnya bergemuruh hebat saat ia berusaha membuka selimut yang menutup wajah Fania.

Selimut berhasil tersingkap, wajah pucat pasi itu nampak jelas. Fania hanya seperti orang tidur, wajah cantiknya seolah mengukir senyum tipis. Ghava menyentuh pipi dingin Fania, perempuan itu benar-benar telah tak bernyawa.

"Ya Allah," ucap Ghava langsung menutup kembali selimut ke wajah Fania, cowok itu tidak kuat.

Duduk di bawah ranjang menyenderkan punggung pada dinding, Ghava memeluk lutut erat menyembunyikan wajah penuh kesedihan di sana agar tidak ada yang bisa melihat air mata tanda kerapuhannya.

"Kenapa lo pergi secepet ini, Fan? Andai dulu gue gak deketin lo dan kita tetep jadi orang asing, mungkin lo gak akan pernah ketemu Herlambang dan hidup lo gak akan seberantakan ini. Gue nyesel udah buat lo kenal sama Herlambang ... tapi makasih banyak karena lo udah mau berjuang sejauh ini. Gue akan jagain anak lo, dan anggap dia sebagai anak gue sendiri. Gak akan gue biarin dia merasa kesepian ataupun sedih, akan gue buat dia jadi anak paling bahagia di dunia."

Leona yang sejak tadi menyaksikan betapa frustasinya Ghava berusaha menghampiri cowok itu, jongkok di dekat Ghava lalu memeluknya berharap bisa sedikit meredam kesedihan Ghava.

"Gue bakal bantuin lo jagain anak itu, Kak. Gapapa, semua bakal baik-baik aja. Lo juga manusia, lo boleh nangis."

***

Semua teman-teman sekolah, penghuni panti, maupun rekan kerja Fania sudah berkumpul di peristirahatan terakhir Fania. Tangis duka memenuhi pemakaman.

Untuk kedua kalinya Ghava terpaksa menarik uang dari rekening pemberian Herlambang untuk membiayai prosesi pemakaman Fania.

Satu-persatu para pelayat pulang meninggalkan pemakaman, tersisa Ghava, Leona, Ibu Panti, dan inti Renzio. Sedangkan Ghava tak henti-hentinya menangis dibalik kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, cowok itu berlutut di dekat nisan.

ALGHAVATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang