02-Skenario sang pencipta

19.6K 666 1
                                        

Mau sejauh mana pun kita menghindar jika memang takdir menginginkan kita untuk saling mengikat, kita akan tetap bersama dengan cara bagaimana pun itu

~Alif Syauqi khalif~

••

Kini semua orang duduk di ruang tamu menatap penuh selidik ke arah dua orang yang sekarang menunduk dalam. Tidak, bukan keduanya melainkan hanya Alif sendiri, sementara Arumi perempuan itu menyilangkan tangan di dada, duduknya miring, enggan menatap Alif yang wajahnya saja sudah cukup membuat Arumi jadi emosi.

Kiyai Ahmad berdehem membuat Arumi menelan salivanya susah payah. Tiba-tiba suasana di ruangan itu terasa mencekam, semuanya jadi hening. Sial Arumi jadi gugup dibuatnya, apalagi kini mata pria paruh baya itu menatapnya penuh selidik.

"Siapa nama kamu nak?" tanya laki-laki paruh baya tersebut.

Arumi yang semulanya menatap dinding kini beralih menatap kiyai Ahmad lalu berucap, "Bapak tanya saya?"

Baru saja akan angkat bicara, ucapan Kiyai Ahmad lebih dulu disahuti oleh Alif—putranya. "Yaiyalah kamu, masa setan!"

Mendengar itu Arumi menatap Alif sinis. "Heh gus cabul! Diem aja lo. Gue gak ngomong sama lo ya!"

Alif mendelik tak terima. "Sembarangan! Enak aja bilangin saya cab—"

"SUDAH!" mendengar suara penuh penekanan tersebut, keduanya langsung kincep. Tak ada lagi yang berani bersuara setelahnya.

"Jadi namamu siapa nak?" tanya Kiyai Ahmad sekali lagi.

Sebelum menjawab, Arumi menatap Alif tajam, takut-takut laki-laki itu akan kembali menyahut seperti sebelumnya. "Nama saya Arumi pak."

Kiyai Ahmad mengangguk kecil "Baik nak Arumi, jadi, siapa yang bisa jadi wali nikah kamu?"

Mulut Arumi menganga lebar mendengarnya. "WHAT THE HELL?!" Arumi menatap Kiyai Ahmad tak percaya. "Nikah? W-wali nikah?" tanyanya terbata.

"Iya wali kamu."

Arumi menggeleng keras. "Nggak. Saya nggak mau nikah sama dia pak!" ujarnya sambil menunjuk ke arah Alif.

"Dih! Siapa juga yang mau nikah sama kamu!" balas Alif tak mau kalah.

Kiyai Ahmad menggelengkan kepalanya pusing. "Kalian ini selalu saja berdebat. Begini saja, Arumi, pergi temui seseorang yang bisa menjadi walimu. Dan kamu Alif," Kiyai Ahmad menggantungkan ucapannya lalu mengalihkan atensinya menatap putranya. "Temani Arumi!"

Alif dengan cepat menatap sang Abah terkejut. "Kenapa harus Alif Bah? Kan gak boleh berduaan." Ujarnya protes.

"Emang yang nyuruh kamu berduaan siapa?"

Perkataan kiyai Ahmad membuat Alif mengerutkan keningnya. "Lah teru—"

"Sama adikmu, Yana!" panggil Kiyai Ahmad dan keluarlah seseorang dari balik tirai yang disebut 'Yana' tadi.

Nama lengkapnya, Ayana Humaira khalik, anak ke dua sekaligus bungsu dari Kiyai Ahmad dan Umah Zahra.

"Tapi Bah—"

"Tapi apa lagi? Sana temani Arumi. Pernikahan kalian akan dilakukan besok!" ujarnya tegas lalu melenggang pergi bersama Umah Zahra meninggalkan Arumi dan Alif yang berteriak syok.

💐💐💐

Selama di perjalanan Arumi merasa sangat pusing antara menerima atau menolak pernikahan ini. Jika dipikir-pikir, bisa saja Arumi menolak pernikahan ini, toh mereka juga tidak melakukan apa-apa semalam.

Mendadak Ning (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang