si kecil yang kini dewasa

1.8K 241 19
                                        

penutup.

epilog.

***

Enam pasang mata duduk mengelilingi, dengan tatapan yang membuat siapapun mundur seketika.

Si sulung duduk di sofa tunggal di ujung sana, kacamata kotak yang membingkai wajahnya membuat paras tegasnya semakin tak terbantah.

Di sisi kiri dan kanan duduk lima lainnya yang siap memberikan rentetan pertanyaan yang membuat si pria menelan ludah gugup.

"Jadi, siapa namanya?"

"Saya Jinan Lingga Mahadi, Mas."

"Jinan, ya?" dia menoleh ke kanan, beradu tatap dengan si nomor lima.

Mario Mahavira, seorang pengacara senior yang selalu memenangkan kasusnya di pengadilan.

Pemilik MMP—Mario Mahavira and partners–yang menduduki angka nomer satu sebagai top 100 Indonesian law firms lima tahun terakhir.

"Kerja dimana?"

Pertanyaan itu datang dari pria di samping Mario.

Yudhisthira Nara Arya, pelatih tim nasional sepak bola Indonesia, pemilik beberapa tempat gym dan catering khusus atlet yang tersohor di tanah air.

"Saya dokter ..."

"Sudah spesialis?"

Celetukan itu muncul dari sisi kanan, di mana Kavindra Ganesha duduk dengan tangan tersilang di depan dada.

Pria itu adalah pilot trainer sekaligus pemilik Wings Fly Academy, sekolah pilot swasta terbaik di negara mereka.

"Iya, Mas. Saya spesialis jantung tapi sementara masih sekolah lagi."

"Kalau sekolah lagi, gimana bisa bagi waktu antara kerja, pendidikan dan keluarga?"

Aduh.

Jinan rasanya ingin buru-buru minggat saat tatapan Jeffry Rasendriya mengulitinya seketika.

Siapa yang tidak mengenal pria itu? Namanya ada di piramida teratas sebagai pengusaha di bidang food and beverages. Kekayaannya bahkan sudah tidak bisa Jinan bayangkan.

"Saya sudah terbiasa untuk itu mas. Menyeimbangkan waktu antara pendidikan dan keluarga pun pekerjaan mungkin sedikit sulit, tapi saya pasti bisa dan tetap meletakkan Chelsea dalam prioritas utama saya."

"Sudah punya apa dalam hidup sampai berani datang ke sini dan meminta izin?"

Aduh.

Entah ini keluhan yang keberapa tapi Jinan kembali mempertanyakan kesanggupannya saat Chelsea—kekasihnya sejak tahun kedua kuliah kedokteran mengajaknya berkunjung ke rumah.

"Saya belum mapan dan belum apa-apa jika dibandingkan dengan mas-mas sekalian. Tapi, saya sudah bekerja sebagai dokter umum di salah satu klinik, juga praktek di medical center. Untuk biaya sehari-hari, saya rasa lebih dari cukup."

Semoga jawaban itu bisa memuaskan Jevano Antasena, si nomer enam.

Pemilik Jenna Architeam.

Sebut saja Urban Style Apartment, Universitas Cerdas Cendekia, Marina Bay Ancol, Jakarta Golden School dan terbaru pembangunan ibukota negara juga sederet proyek besar yang mereka tangani dengan baik dan fantastis.

"Yakin bisa bikin Chelsea bahagia?"

Pertanyaan pamungkas itu datang dari si sulung—Jovanka Sailendra—fotografer tersohor tanah air.

Studio fotonya menjamur dimana-mana bahkan di luar negeri, bekerja sama dengan banyak sekali brand ternama yang membuatnya cukup disegani.

"Saya selalu mengusahakan yang terbaik untuk orang yang saya cintai."

pulangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang