pundakmu tidak harus kokoh

1.7K 393 15
                                        

Kereta yang Jo tumpangi melesat pelan menuju stasiun terdekat dengan kota kelahiran, ransel yang dia bawa dipeluk di dada, membiarkan alunan musik yang terdengar dari air pods mengisi sepi.

Dia tidak berpamitan dengan siapapun, tidak pada anak-anak studio yang pasti akan menahannya lagi dengan setumpuk kerjaan yang tiada habisnya, tidak dengan teman-teman yang sudah mengatur janji temu beberapa hari ke depan.

Jo hanya ingin tenang, mengulik kisah-kisah lama yang satu persatu mampir dalam benak. Tentang ibu, tentang ayah, tentang adik-adiknya yang perlahan mulai tumbuh dewasa dan memiliki hidupnya masing-masing.

"Permisi mas, makannya sudah selesai?"

Ibu-ibu berkerudung hitam menyapa lembut, Jo mengangguk kecil, piring nasi gorengnya bahkan tidak disentuh, dia hanya sempat memakan roti lapis dan membeli air di warung sebelum melompat naik ke peron yang akan membawanya pulang.

***

Mario menatap perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Winda dari ujung kaki sampai ujung rambut, memindai dengan jeli sosok yang mengaku adalah kekasih dari kakaknya. Meski tidak nyaman, Winda membiarkan adik kekasihnya ini meneliti penampilannya.

"Ada perlu apa?" tanyanya setelah diam yang cukup lama di kantin rumah sakit.

"Saya pengen jenguk ibu."

"Disuruh Bang Yudhis? Kenapa nggak dia aja yang pulang? Ibu pengen ketemu abang, bukan pacarnya."

Cukup menusuk. Tapi, Winda tidak akan menyerah,

"Yudhis lagi di Singapura sekarang."

"Oh, bisa banget ya ngehubungin pacarnya tapi pesan dari keluarganya diabaikan."

Gugup, Winda hanya bisa menelan ludah. Tidak membalas rentetan kalimat sarkatik pemuda yang memperkenalkan diri sebagai Mario, putra kelima keluarga kekasihnya.

"Yudhis ... nggak nelepon?"

"Nggak pernah sekalipun, abang cuma kirim uang, memangnya dia pikir uang bisa beli nyawa ibu."

Ya Tuhan, rasanya Winda ingin kembali ke rumah, mengurung diri dalam kamar dan memaki Yudhistira Nara Arya habis-habisan.

"Saya minta maaf, Mario."

"Bukan salah mbaknya juga sih, yang nggak tau diri abang saya. Jadi, tetap ingin jenguk?"

"Jika diizinkan."

"Ya kasihan juga, mbaknya sudah jauh-jauh dari Salatiga."

Mario berdiri, meraih botol minumnya dan melangkah ke ruang perawatan, Winda mengikuti dari belakang, masih merutuki sikap Yudhis yang berlebihan, dia tidak tau apa yang terjadi di keluarga mereka, tidak pernah tau bagaimana kisah masa kecil Yudhis atau seperti apa ibu dan ayahnya. Winda benar-benar datang hanya dengan modal nekat.

Langkah Mario terhenti, membuat Winda mengintip dari punggung bidang pria itu.

Seorang pria berseragam pilot buru-buru berlari di koridor berlawanan, raut wajahnya terlihat keruh dan lelah, bahkan dari jarak beberapa meter pun, Winda rasanya bisa melihat selaput tipis air di matanya.

"Itu Bang Kavindra, dua tahun di bawah Bang Yudhis, pilot, baru sampai juga hari ini. Jadi ..." Mario menarik napas, "Bang Yudhis kapan bersedia pulang? Kasihan ibu, beliau sudah terlalu lama menderita, Mbak."

***

Mobil travel yang membawa Kavindra berhenti di depan rumah sakit, menurunkan satu penumpang yang tidak henti bertanya kapan mereka tiba, seragam putihnya sudah terkena noda sana-sani, tapi yang bersangkutan tidak peduli, bahkan uang kembaliannya pun tidak diambil.

pulangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang