02. Kopi

223 108 64
                                        

Semua siswa-siswi berhamburan melihat nilai mereka dimading yang cukup besar.
Setiap langkah hanya rasa takut dan cemas yang menemaninya. Mengingat ia sering melamun dikamar yang tiada arti.

Arka menerobos paksa kerumunan itu untuk melihat nama dirinya yang sudah pasti nomor satu.

Seketika matanya terbelalak dan mulutnya yang terbuka membentuk O.

"Gue di urutan 2?" batinnya setelah melihat nama dirinya turun, dan yang menggantikan posisinya siapa lagi kalau bukan Jack Wilshere.

Mereka terus saja ambis mendapatkan urutan pertama. Mustahil jika ada yang mengalahkan mereka yang silih berganti antara nomor 1 atau 2.

"Oke gue benar-benar bodoh." dirinya kembali bermonolog.

Ia pergi ke kelas dengan membawa rasa kecewa. Tak sengaja ia menabrak seseorang dari arah berlawanan akibat lamunannya yang terus memikirkan nilai dirinya yang masih saja mendapatkan 80han.

"Eh maaf." ujar Arka yang merasa ini salahnya.

Disaat ia urutan pertama, ia mendapat nilai 8, dan Jack diurutan kedua mendapatkan nilai 7. Mengapa sekarang Jack bisa mengalahkannya karena nilai 9.

Sungguh sulit mendapatkan angka 9.

Orang-tuanya tidak pernah menekan Arka untuk bisa dapat nilai tinggi lebih dari kata tinggi. Namun disaat ayahnya mengetahui Arka selalu mendapatkan nilai 8 pun, sang ayah hanya diam lalu pergi tak berkutik.

Maka dari itu, Arka tidak mau yang dianggap anak hanyalah Kansha, orang yang paling membanggakan dikeluarganya. Dan ayah selalu membanggakan Kansha di depan teman kantornya begitu juga dengan bunda yang lebih care terhadap Kansha.

Arka? Tak pernah.

Buat apa Arka dibanggakan, nilai 9 pun tak bisa ia raih.

Selama ini Arka tak pernah mendapatkan nilai 8 kebawah. Apa jadinya jika dia dapat nilai 2? Mungkin dirinya harus cepat-cepat memesan batu nisan untuk dirinya.

Apakah ia akan dicoret dari KK?

Itulah sebab Arka ambis. Karena dirinya merasa pantas dibanggakan dikeluarganya, pantas diperhatikan oleh bundanya, pantas di bicarakan bangga pada teman ayahnya di kantor.

Mengapa ia selalu kalah?

Sejujurnya ayahnya selalu bilang, 'Apa jadinya kalau anak dari seorang jabatan tinggi tak bisa raih hanya angka 9?'

Kalimat itulah yang terus menghantuinya. Tak ada kata pemaksaan dalam kalimat tersebut. Namun Arka tahu arti dari kalimat itu.

Dan ayahnya pun tak pernah marah namun raut wajah kecewa ditampilkannya dan pergi meninggalkan Arka.

Ia tahu arti dari wajah ayahnya itu.

Ia pun tak mau nama keluarganya dipandang buruk hanya karenanya anak tak berguna.

***

Suara musik dan tembakan beradu memenuhi seluruh ruangan itu. Terdapat beberapa kopi dihadapan dua orang tersebut dan asap rokok yang terbang diawang-awang.

Game adalah kegiatan mereka bila bertemu kapanpun dan di manapun.
Tidak afdol jika mereka tidak main game dan merasa tidak sah jika ada waktu luang yang tak diisi dengan game.

"Tembak Za!"

"Otw!"

Dorr

"Mampus tuh mati."

"Skil gue hebat juga."

Game tidak bisa berhenti bila mereka terus menang melawan musuhnya.

Pada akhirnya, disela mereka mengalami kekalahan, mereka memutuskan untuk mematikan handphone dan mengisi baterai ponsel masing-masing yang sudah dibawah 20%.

LOOKING FOR HAPPINESS (HIATUS)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang