Hari ini adalah hari pertama aku berada di tempat Sandi. Tempat yang sengaja disediakan untukku. Sandi masih tertidur di sebelahku. Semalam kami berpindah ke tempat ini setelah club tutup. Sandi kembali menggauliku saat kami tiba disini. Aku baru benar-benar tertidur di jam 7 pagi. Sandi sendiri aku tidak tahu kapan dia tertidur.
Drrtt
Drrtt
Drrtt
"Om hapenya bunyi..",ucapku sembari menggeser tubuhku merapat dengan tubuhnya lalu memeluknya dari samping.
Handphone Sandi ada di atas meja di sebelah tubuhnya. Aku ingin mengambilnya tapi terlalu lelah untuk beranjak duduk. Entah mengapa energiku lebih cepat terkuras akhir-akhir ini. Tadi malam saja, Sandi terpaksa berhenti karena aku sudah terlalu tepar. Biasanya justru Sandi yang meminta berhenti.
"Omm, bangun dong, ada yang nyariin terus itu lohh..", kali ini ku kecup pipi dan bibirnya bergantian. Tanganku hendak menyelip ke balik selimut tapi tidak jadi, takut Sandi kembali tergoda, sementara ini sudah sangat siang. Hampir jam 2.
Sandi ada jadwal praktek di jam 3 sore nanti. Senin, Rabu, Jumat. Hari ini hari Rabu, artinya dia harus bertugas. Tapi pria ini belum juga terbangun.
"Om, berisik loh hapenya..", akhirnya aku mencoba meraih handphone Sandi, tanganku menumpu di rajang dan tangan lain mencoba menggapai meja di sebelah Sandi.
"Ishh, perut buncit ini menyebalkan..", ucapku saat gagal menggapai ujung meja karena perutku terhimpit badan Sandi yang masih tertidur.
"Ugghh,..om! Adis kaget!", aku kaget saat Sandi tiba-tiba bergerak dan mendorong tubuhku ke kanan. Sandi menindihnya, dia meletakkan dagunya di puncak perutku yang membesar. Wajahnya terlihat begitu lucu.
"Kamu ngapain mau ambil hape?"
"Berisik, bunyi terus loh"
Pip.
Sandi mengangkat telepon yang sedari tadi masuk.
"Ada apa?"
"Baiklah, siapkan saja ruangannya, setengah jam lagi saya sudah disana."
Samar-samar aku mendengar tentang pasien dari suara di seberang telepon. Tampaknya Sandi harus pergi, Puji Tuhan aku tidak jadi menggodanya lagi.
Sandi menutup telepon dan meletakkan handphonenya di sebelah tubuh kami yang saling berhimpit. Lalu sentuhan lembut di selangkanganku mulai terasa, gerakan itu membuatku melebarkan kembali kakiku. Sandi tertawa lalu mengusap perut buncitku.
"Haha, istirahat, bumil jangan kebanyakan ngewe, nanti tepar kaya semalem..", ejek Sandi sambil berpindah kembali ke sisi kiriku.
"Huh, baru sekali itu saja ya, biasanya juga om yang tepar?!", ucapku lalu membalikkan tubuh dan membelakangi Sandi. Menyebalkan sekali kalau dia mulai mengungkit-ungkit kelemahanku.
"7 bulan kan, Dis?"
"Gatau"
Sandi memelukku dari belakang lalu meremas kuat payudaraku. Tubuhku masih telanjang bulat. Begitupula dengan Sandi.
"Ugghh, sana!", sahutku sambil memukul tangan Sandi.
"Jangan melawan.", Sandi meremas lebih kuat payudara kiriku.
"Aduhhh ngilu omm..", teriakku pelan saat remasan itu menimbulkan rasa ngilu yang sangat.
"Main cepat yuk, Dis? Biar kamu ga capek, biar aku aja yang gerak, gini aja posisinya.", pria ini sudah mengarahkan kejantanannya menuju liangku, dari belakang.
"Om gamau nyoba lubang lainnya?"
"Adis mau?"
"Uummhh mau, udah lama ga om genjot disana.."
"Nanti saja ya, om lagi buru-buru mau ada operasi dadakan."
"Aahhhhh-shhhhh..pelan ommhh.."
"Kan main cepat, Dis.."
"Aduhhh ommhh..bentar.."
Aku meremas lengan Sandi. Bercinta di posisi miring begini kurang bisa memuaskan sebenarnya. Tapi gerakan Sandi cukup menyenangkan. Hentakan demi hentakannya membuat liangku menjepit batang berurat itu dengan kuat.
"Dis, menurut kamu semalem ada yang beda ga?"
"Bedahh ughh apa ommhh?"
"Adis ga ngerasa beda.."
"Ouuchhhhhh ommhh ahhh.."
Gerakan Sandi makin cepat dan dalam. Aku menggelengkan kepala guna merespon pertanyaan terakhirnya tadi. Jujur aku juga tidak merasakan perbedaan. Menurutku yang berbeda aku, cepat lelah.
"Om coba pake obat kuat padahal.."
"Aaahhhh-ahhhh buat apaahh? Om udahh gagahh lohh ughhh tanpa obat kuat shhh.."
Kami mencapai klimaks bersamaan. Sandi bergegas beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, sedangkan aku tetap berbaring. Masih terlalu lemas untuk bangun dari tidur.
Mataku samar menangkap bungkusan di atas sofa. Tepat tasku ada viagra. Jadi benar Sandi memakai obat kuat. Pantas saja semalam dia perkasa banget, tahan lama. Jadi mirip Bara. Oh Tuhan, Bara, memikirkannya membuatku rindu sentuhan brondong satu itu.
"Bara apa kabar? Sibuk engga?"
Kirim 💬
"Baik Kak Adis, besok Senin free, mau ketemu?"
Masuk 💬
"Boleh, Adis udah kangen Bara nih."
Kirim 💬
"Ketemu dimana Kak? Di Apartemen Kak Adis?"
Masuk 💬
Tiba-tiba Sandi keluar kamar mandi dengan pakaian yang sudah sangat rapi. Kuletakkan handphoneku, Bara bisa kubalas nanti saja. Aku beranjak dari ranjang dengan lilitan selimut di badanku, terlalu malas untuk memakai pakaian.
"Omm? Adis boleh ikut?", candaku saat mendekat ke arah Sandi yang sudah sangat wangi.
"Adis mau om belah perutnya sekarang?", sahut Sandi sambil menunjuk perut buncitku.
"Huhh bukan gitu..kan cuma basa basi omm!", ucapku dengan nada kesal lalu mengambil kotak viagra dan menunjukkannya pada Sandi.
"Om pakai ini ya?"
"Iya, Dis. Simpanin yaa, masih ada tuh, kepake satu doang semalem."
"Om Adis boleh--"
Belum sempat kuselesaikan pertanyaanku dering handphone Sandi sudah terdengar lagi. Sandi mengecup bibirku lalu menganggukkan kepala.
"Iya boleh, asal tetap di kamar ini..", sahut Sandi lalu menghilang dari hadapanku. Sepertinya dia buru-buru.
"Apa dia tahu pertanyaanku? Aku kan mau tanya, apa boleh viagranya Adis minum juga?"
"Boleh kali ya? Biar ga lemes, tadi juga Om udah bilang boleh..", gumamku sendirian, menelaah jawaban Sandi tadi.
Aku beranjak ke kamar mandi lalu membersihkan tubuhku sembari memikirkan apa yang akan kulakukan malam nanti. Sandi pasti baru akan kembali besok malam. Tadi dia sempat bilang harus pulang ke rumah.
"Bara!", batinku saat membersihkan area kelaminku. Aku tersenyum saat membayangkan Bara melihat tubuhku yang sudah sangat berbeda ini.
Selepas mandi, aku bergegas mengambil handphone lalu melakukan panggilan video pada nomor Bara. Sembari melangkah ke dapur untuk mencari apapun yang bisa dimakan, ternyata sudah tersedia makanan di meja. Sandi tipe lelaki yang pengertian memang.
Satu.
Ditolak.
Dua.
Ditolak.
Tiga.
Ditolak.
Tiga panggilan videoku diabaikan Bara. Mungkin dia sibuk. Sembari memakan hidangan yang disiapkan Sandi, aku menatap obat kuat yang kubawa ke meja.
"Apa dicoba dulu pas sama Bara ya?"
"Bar? Ketemu disini ya. Ditunggu"
Kirim 💬
"Lampiran Gambar"
Kirim 💬
Aku menyertakan gambar selfieku dan langsung dibaca. Memang benar, Bara perlu dipancing dahulu. Ponselku langsung berdering. Panggilan video dari Bara.
"Kak? Dimana itu?"
"Kan udah di shareloc, Bar."
"Bukan apartemen kakak?"
"Bukan, udah dateng aja, Bar."
"Lebih cepat lebih baik."
"Yah tapi masih ada meeting kak."
"Meeting disini saja, online kan?"
"Cuss ga ya?"
"Buruan dih.."
"Oke.."
Aku menutup sambungan setelah Bara memastikan kedatangannya. Obat kuat di kotak bungkusan ini juga kuambil satu lalu meminumnya. Tanpa membaca sama sekali kotaknya, karena aku pernah memakai obat kuat ini sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sentuhan Pelacur
Teen FictionWARNING 🔞⚠️ Follow dan Vote sebelum membaca. Beberapa bab dengan rate dewasa akan diprivate setelah bab 10. Selamat membaca Sentuhan Pelacur. [DILARANG COPAS] [NO PLAGIARISM] Adis yang bergelimang harta memilih untuk menjadi pelacur VIP dan mel...
