Part 13

840 97 5
                                        

Setelah ketiganya pergi, kesunyian menghiasi ruangan itu. Marsha berdiri kaku di dekat sofa, sedangkan Zee menatap lurus Marsha.

"Sini, Sha," kata Zee menyuruh Marsha duduk di kursi samping brangkarnya.

"D-di situ?"

"Iya, sini. Aku tahu kamu mau bilang sesuatu kan."

Melihat Zee yang mulai menerima dan mau menatapnya membuat Marsha sangat senang, apalagi ia diizinkan duduk di samping gadis itu.

"Kak Zee, aku ... aku minta maaf," ucap Marsha dengan nada bergetar, ia tak berani menatap Zee.

"Maaf untuk apa, Sha?"

"Maaf untuk semua yang terjadi dan untuk kejadian waktu itu." Marsha menatap Zee dengan sendu, sedangkan Zee menghela napas lalu menaikkan posisi kepala brangkarnya. Ia tidur setengah duduk pada brangkarnya.

"Cici bilang aku harus belajar nerima masa lalu, Sha, tetapi aku yang terlalu bebal dan gak mau nurut. Selalu menghindar tiap kali Cici nasihati aku .... hahaha, aku tahu kalau itu salah." Zee mengambil tangan kanan Marsha dan menggenggamnya, menatap Marsha tulus.

"Mulai sekarang kita lupakan masa lalu, mulai semuanya lagi ya, Sha. Bukan kamu yang salah atas apa yang terjadi, sebab sebagai anak kita tidak bisa memilih orang tua atau dilahirkan oleh siapa."

Zee tersenyum, lalu melanjutkan perkataannya, "aku yang seharusnya minta maaf karena malah menjauhimu, aku senang bisa kenal sama kamu, Sha." Marsha terharu, ia menangis bahagia karena pasa akhirnya Zee bisa menerimanya kembali, ia memeluk Zee erat yang dibalas tak kalah erat.

"Makasih, Ka ... mmm aku boleh panggil Kakak?" izin Marsha melepas pelukannya, menatap Zee takut-takut.

"Boleh dong, kan kamu adikku, aku senang punya adik semanis dan selucu kamu," ujar Zee terkekeh pelan, Marsha senang dengan respon yang diberikan Zee.

"Makasih, Kak Zee, aku sayang Kak Zee. Kakak harus cepat sembuh biar kita bisa main bareng lagi," ucap Marsha.

"Iya, Dedek Marsha yang manis, aku pasti sembuh kok," balas Zee mencubit pipi Marsha gemas.

"Widih, udah baikan nih," celetuk Ashel yang tiba-tiba masuk bersama kedua sahabatnya.

"Apa sih, Cel."

"Gimana keadaan lo, Zee?" tanya Adel.

"Baik, Del, oh iya makasih udah jenguk aku ya, eh ... Kalian bolos ya?"

"Gak lah, kita udah izin ke guru," kilah Kath.

"Masa sih? Emang dibolehin izin empat orang gitu?"

"Sebenarnya yang izin gue aja sih, mereka tiba-tiba ngikut."

Selanjutnya obrolan seru terjadi di ruangan itu, walau Zee hanya menimpali sesekali saja, tetapi setidaknya ada sedikit kemajuan karena ia mau bergabung untuk ikut dalam obrolan.

Ashel menatap Zee yang menatapnya juga, seakan mengatakan bahwa gadis itu hebat karena mau berdamai dengan masa lalu, bukan tanpa alasan Ashel memberi apresiasi. Karena ia salah satu saksi betapa hancur dan rapuhnya Zee saat mengetahui kebenaran itu.

About Us : Liebling (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang