B. 11. Dari abang untuk Hasta

1.6K 178 17
                                        

"Dear Hasta."

11 Januari 2022.

"Bang Raden?"

Sore sore Jakarta sedang terang terangnya dan Raden yang berdiri di depan rumah seseorang dengan mengantarkannya sebuah rantang yang berisikan makanan lauk pauk.

"Ca, ini abang punya makanan buat kamu, barangkali kamu belum makan."

Sebuah kalimat yang Raden katakan membuat gadis cantik berambut pendek itu kaget dengan kedatangan Raden. Tidak sekali ini saja tapi sudah lebih dari 5x Raden memberinya rantang makanan.

"Makasih ya bang, maaf kalau Cantika ngerepotin bang Raden sama yang lain," katanya tidak enak.

Cantika Azahra, adik perempuan dari Yuda yang sekarang tinggal sendiri setelah kepergian Yuda, sedangkan orang tua mereka sudah lama pergi pasca kecelakaan pesawat mau tak mau Cantika dan Yuda hidup bersama Pamannya, dan saat ini lah Cantika hidup sendiri pamannya yang juga pergi bersamaan dengan Yuda, hal itulah yang membuat Raden dekat dengan adik Yuda.

"Nggak pa-pa, niat bang Raden kan bantuin kamu, kalau gitu abang pamit ya? Assalamu'alaikum."

"Walaikumsalam."

Berjalan sore dengan angin yang terus berembus membuat Raden menikmati angin kencang itu, seketika teringat Hasta yang pernah bermain layang layang sore ini, kejadian sudah lama namun masih melekat di benaknya.

Bagaimana Hasta yang pergi tanpa pamit membuat Raden dan bapak panik mencari keberadaan anak itu, Hasta memang memiliki sifat yang nakal dan jahil namun dia juga di bilang anak yang cerianya menular ke orang lain.

Raden jadi teringat masa lalunya yang di mana Hasta mengadu padanya jika banyak yang meledek nya, Raden benar benar teringat di mana wajah Hasta yang tetap tersenyum walaupun hati berkata lain.

Siang itu Raden tengah duduk di lantai sambil menonton series kartun yang ia tunggu tunggu. Suara ribut dari luar membuat Raden mengalihkan atensinya.

Terlihat Hasta yang membuka pintu berwarna cokelat itu dengan senyuman kecil yang mengembang.
"Assalamu'alaikum! Bang Raden!" salam nya dengan larian kecil menuju Raden berada.

"Walaikumsalam, tumben udah pulang biasanya main sama Nadi dulu."

Hasta duduk di samping abangnya dengan seragam merah putih yang masih dia pakai. "Nadi sakit, Hasta jadi nggak ada temen buat berlindung," kata Hasta.

Walaupun mata Raden tidak lepas dari kartun namun dia siap sedia untuk mendengarkan adiknya berbicara. Biasanya jika seperti ini Hasta memiliki masalah dengan temannya, Raden pernah turun tangan namun apalah daya dia terhadap ibu mereka yang terus menerus melindungi anaknya dengan kata kata,
'Namanya juga anak kecil.'

"Masa tadi Hasta di kata katain lagi bang, katanya Hasta nggak punya ibu, emangnya orang yang nggak punya ibu nggak boleh punya teman?"

Raden kini menetap adiknya itu dengan penuh tanda tanya di matanya. "Nggak, semua orang harus berteman, bukan Hasta yang salah karena tidak punya ibu tapi mereka nya saja yang memilih teman," kata Raden dengan cepat.

Hasta tersenyum. Di dalam hatinya dia tidak pernah salah untuk menjadi adik Raden, walaupun kakaknya itu kesabaran setipis tisu di bagi dua tapi ketahuilah jika bang Raden memiliki sifat perhatian dan kepekaan yang membuat Hasta memiliki temeng.

Bang Raden itu pahlawan Hasta!

"Nanti kalau nggak ada Nadi, kan ada Janu," ucap Raden.

SEMERUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang