Bab 7 - Interogasi

249 37 1
                                        

Setiap harinya kedekatan Bara dan Kalangga semakin intens. Seperti sekarang, matahari belum hangat sama sekali tapi Bara sudah mengobarkan api asmara pagi ini. Kenapa bisa seperti itu, karena Bara sedang melakukan panggilan telfon bersama Kalangga. Maklum, hari minggu tidak ada aktivitas apapun jadi ya tidak salah bukan untuk menikmati waktu berdua?

Tapi ada satu pertanyaan yaitu apa hubungan diantara Kalangga dengan Bara?

Usai sarapan tadi, Kalangga kembali ke kamarnya. Bara mengatakan bahwa ia ingin melakukan panggilan telfon. Bagi Kalangga ya silakan saja, toh dia juga sedang santai. Durasi panggilannya panjang, berbagai pembahasan di bicarakan. Bahkan hal tidak penting seperti mengapa tukang rujak memasukkan semua buahnya ke aquarium. Padahal jelas-jelas itu buah-buahan, bukan ikan. Kalangga tertawa ketika Bara membicarakan itu. Tak terasa waktu pun sudah siang. Matahari sudah mulai menyengat.

Di lantai bawah, tepatnya di ruang televisi kedua orang tua Kalangga bersama adiknya sedang berkumpul. Sekedar menonton televisi ditemani cemilan dan minuman buatan sang ibu di rumah ini.

"Ma, semalem Papa ketemu sama temen Kakak yang namanya Bara. Yang Mama ceritain seminggu yang lalu." Sang ayah membuka percakapan terlebih dahulu. Istrinya pun menoleh ke sumber suara, tertarik akan pembahasan yang diungkapkan suaminya.

"Papa suka tata kramanya, sopan." Tambahnya lagi. Mama Wendy tersenyum mendengar ucapan suaminya. Bagaimana tidak, selama ini jika Kalangga dekat dengan lelaki dominan manapun, suaminya ini selalu menampilkan ketidaksukaannya.

"Emang semalem Kakak pulang jam berapa?" Tanya Mama Wendy.

"Jam sebelasan lah, udah malem banget. Mama udah tidur, Papa khawatir. Kok Kakak sampe jam segitu belum juga pulang." Jawab Papa Cakra.

"Malem banget. Terus Papa ketemu Bara ngobrol apa aja?"

"Makanya itu, tadinya Papa mau marah karena Kakak pulang larut banget. Terus ga ngabarin juga. Pas pulang dianter sama Bara, Papa ga jadi marah."

Mama wendy terkikik geli mendengar ucapan suaminya, "kenapa ga jadi marah? Apa karena yang nganterinnya Bara?"

"Iya itu, karena Bara yang nganter Kakak pulang, di tambah dianya sopan sama Papa, minta maaf segala karena udah anterin anaknya terlambat. Terus dia bela-belain ga pake jaket karena jaketnya di pakein ke Kakak." Jelas Papa Cakra panjang kali lebar mengingat kejadian semalam.

"Mama juga suka sama Bara itu karena dia bisa menghargai orang tua. Ketemu Mama juga salim tangan. Anak sendiri aja jarang banget kaya gitu." Ujar Mama Wendy diakhiri kekehan kecil.

"Sama Papa juga gitu, bagus ajaran orang tuanya. Terus Papa mau tanya, hubungan mereka tuh apa Ma? Pacaran atau temenan biasa?"

"Nah itu, Mama juga ga tau mereka pacaran atau engga. Gelagatnya sih Bara suka sama anak kita Pa. Tapi Mama juga ga mau asal nebak, biarin aja ikutin dulu alurnya mereka. Yaa doa Mama sih pengennya mereka pacaran haha.." Harapan Mama Wendy kepada anaknya sangat baik.

"Semoga aja mereka pacaran, Papa udah kasih izin kalo Kakak pacarannya sama Bara." Ucap Papa Cakra.

Orang tua pun bisa menilai baik buruknya seseorang. Seperti halnya penilaian mereka terhadap teman anaknya, Bara. Didikan orang tua akan membekas sampai kapanpun. Dan itu akan di turunkan kepada anak-anaknya kelak suatu saat nanti.

Obrolan mereka terhenti ketika ada yang mengetuk pintu, dengan teriakan mengucapkan salam. Mama Wendy bangun dari duduknya, berjalan ke arah pintu untuk membuka siapa yang bertamu di akhir pekan ini.

"Haii Mama... Kala ada ga Ma?" Dugaan Mama Wendy benar, dari suaranya saja sudah bisa di tebak siapa yang datang.

"Kirain Mama siapa. Ada tuh di kamarnya, ga tau lagi apa. Ke atas aja sana." Perintah Mama Wendy pada Bhanu usai punggung tangannya di cium Bhanu. Mama Wendy sudah menganggap teman-teman anaknya ini sebagai anaknya sendiri. Bhanu, Elio dan Shaka juga memanggil Mama Wendy dengan sebutan Mama.

Bandung Dan KamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang