Bab 19 - Malu

181 23 0
                                        

Bunda Fanny yang diberitahu oleh suaminya perihal anak semata wayangnya membawa seseorang ke rumah, langsung lari terbirit keluar dari kamar menuju ruang televisi. Saat Ayah Dimas memberitahu bahwa Bara datang bersama seseorang dan tangannya menggenggam erat lelaki yang lebih kecil, Bunda Fanny sedikit marah. Bagaimana bisa anaknya pulang ke rumah bersama orang lain saat dirinya sudah memiliki kekasih?

"Kenapa kamu ga bilang kalo Ayah sama Bunda kamu pulang ke Indonesia?" Ucap Kalangga kepada Bara dengan suara kecil.

Bunda Fanny dan juga Ayah Dimas menguping di balik tembok penghubung antara dapur dan ruang televisi. Mendengar ucapan laki-laki manis di samping anaknya.

"Tadinya aku punya rencana buat dateng ke rumah sekalian ajak Ayah sama Bunda. Ketemu sama Papa dan Mama kamu juga. Eh kamu nya cuekin aku, jadi ya ke tunda." Jawab Bara enteng. Memang kenyataannya seperti itu, rencana Bara untuk membawa orang tuanya ke rumah Kalangga untuk mengenalkannya.

"Tapi kan kamu bisa chat aku." Kalangga merenggut kesal. Bisa bisanya kekasihnya ini tidak memberitahu bahwa orang tuanya akan pulang ke Indonesia.

Bunda Fanny dan Ayah Dimas terkekeh di balik tembok. Ternyata laki-laki manjs itu adalah kekasih sang anak. Yang selama ini hanya bisa mendengar suaranya saja lewat telfon, kini mereka bisa melihatnya secara langsung.

"Loh anak Bunda udah pulang? Eh, siapa ini?" Suara Bunda Fanny mengagetkan sepasang kekasih yang masih membicarakan tentang orang tua Bara.

Kalangga dan Bara menolehkan kepalanya hampir bersamaan ke arah suara. Bara tersenyum lalu mengangguk, berbeda dengan Kalangga yang terlihat kikuk dengan tangan yang masih menggenggam tangan Bara erat.

"Iya Bun, baru pulang. Tadinya pulang masih sore, tapi mampir ke galeri Kala dulu. Oh iya Bun, Yah, ini pacar Aa." Bara melepas genggaman tangannya, ia memperkenalkan Kalangga kepada sang Bunda.

"S-selamat malam tante, aku Kalangga. Pacar Bara." Kalangga berdiri dari duduknya, ia mendekat ke arah orang tua Bara. Tangannya terulur untuk mencium punggung tangan kedua orang tua Bara.

"Selamat malam nak Kalangga. Oh jadi ini yang selalu denger suaranya tapi ga tau mukanya." Ucap Ayah Dimas setelah tangannya di cium tanda penghormatan. "Cantik juga, si Aa jago cari pacarnya euy." Gurau Ayah Dimas, membuat Kalangga tersipu malu.

"Kalo ga godain teh gatel si Ayah mah." Bunda Fanny mencubit lengan Ayah Dimas. "Jangan di dengerin, udah pada makan belum? Bunda masak ayam betutu tuh. Makan yuk, kita makan bareng-bareng." Bunda Fanny merangkul Kalangga berjalan ke arah meja makan. Mengabaikan pasangan ayah dan anak di ruang televisi sembari berpandangan.

"Kok pacar Aa di sabotase Bunda Yah?" Ucap Bara kepada Ayah Dimas.

"Kalo Ayah yang sabotase pacar kamu, yang ada Ayah habis di hajar kamu." Jawab Ayah Dimas sekenanya. Diakhiri dengan kekehan karena melihat sang anak sudah membulatkan matanya.

Meski matanya terbilang kecil, usaha untuk melotot tidak berguna.

"Udah udah, ayo makan." Ayah Dimas menyusul istri serta calon menantunya di meja makan. Ia duduk di kursi paling sisi tepat di tengah-tengah meja makan.

Kini posisinya, Kalangga duduk di sebelah Bara, tepat di depan Bunda Fanny. Mereka berbincang sembari menikmati makanannya. Kalangga yang awalnya canggung, kini sudah bisa menikmatinya. Bahkan, saat Bunda Fanny memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan Bunda juga Ayah, Kalangga langsung menurutinya. Orang tua Bara itu asik, lebih santai dibandingkan dengan orang tuanya. Maka tak heran, kenapa Bara bisa memiliki sifat seperti itu. Sudah jelas turunan dari orang tuanya.

Bandung Dan KamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang