2 "kencan pertama"

6.4K 253 2
                                        

Setelah memberi makan malam pada haechan yang sudah terlelap kembali, Mark beranjak ke arah balkon di kamar ini.

Memandang langit malam yang gelap sambil merenungkan kejadian hari ini dan permintaan istri nya untuk bercerai dengan dirinya.

"Kenapa rasanya begitu sulit melepaskannya? Padahal setahun penuh aku acuh. Baru setelah aku melihat sisi lain dirinya, semuanya berubah." Mark menghela napas berat sambil menatap langit malam yang makin gelap.

"Ada rasa ingin melindunginya dan menyayanginya yang tiba-tiba hinggap di hatiku." Mark benar-benar kaget saat dari belakang sang istri datang tiba-tiba.

"Bby, kenapa belum tidur? Sudah malam. Ayo, kita masuk." Haechan menggenggam tangan Mark dan menariknya kembali ke dalam rumah. Udara di luar makin dingin.

Apa haechan mendengar semua perkataan mark? Ya, bahkan semuanya membuat perasaan haechan berdenyut sakit. Kenapa baru sekarang, disaat dirinya sudah lelah dan menyerah, suami nya baru menyadari keberadaannya. Dan apa tadi melindungi? Menyayangi? Sudah terlambat semua sebentar lagi selesai.

Haechan akan berusaha membuat satu minggu kedepan menjadi kenagan favorit nya, saat dirinya sudah bercerai dengan mark nanti.

"Kenapa bangun, hmm?" Mark menarik tubuh Haechan ke dalam pelukannya dan mengajaknya berbaring. Mereka saling memeluk dengan nyaman.

"Aku sering terbangun tengah malam. Waktu aku lihat pintu balkon terbuka, aku penasaran. Ternyata kamu di sana." Haechan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Hangat. Pelukan ini pasti akan ia rindukan.

Mark mengusap punggung istrinya perlahan agar cepat terlelap. Dalam hati ia bertanya apakah Haechan mendengar perkataannya di balkon tadi. Ah, entahlah. Rasa kantuk menyerang, dan kehangatan di pelukan itu membuatnya ikut tertidur bersama istrinya.

____

Pagi itu dimulai dengan Mark dan Haechan yang sarapan bersama. Biasanya suasana dingin dan hambar, tetapi hari ini berbeda. Hangat. Ada obrolan ringan dan tawa kecil yang memenuhi ruang makan.

"Hubby, hari ini kau tidak ke kantor?" tanya Haechan setelah tawanya mereda.

"Hari ini sampai seminggu ke depan aku bekerja dari rumah. Kalau ada hal mendesak, baru aku ke kantor," ujar Mark lembut sambil menatap wajah istrinya.

"Mark, kalau kau melakukan ini hanya karena kasihan padaku, lebih baik jangan. Kau tidak perlu bersusah payah. Kau bisa bercerai denganku tanpa melakukan semua ini. Ya, aku memang ingin kita bersikap seperti suami istri pada umumnya selama seminggu ke depan, tapi sikapmu terlalu di luar harapanku," ucap Haechan sambil menunduk.

"Kenapa? Ini bukan yang kamu mau, Lee Haechan?" Mark menjawab dengan nada dingin.

"Bukan begitu, Mark. Aku takut. Kalau kau bersikap seperti ini, aku akan sulit meninggalkanmu karena waktuku tidak lama lagi. Aku tidak ingin menyakitimu. Biarkan hanya aku yang sakit dalam pernikahan ini."
Haechan menatap mata Mark. Pandangan tajam itu berubah kaget setelah mendengar ucapannya.

Apa yang baru saja ia katakan? Haechan langsung menyesal. Ia sadar betapa dalam luka yang pernah ia terima, dan betapa besar peran Mark di dalamnya. Seharusnya pernikahan ini tidak pernah disetujui sejak awal.

Ah, Haechan bodoh. Kenapa bicara seperti itu? Ia merusak suasana. Harusnya ia bersyukur suami dinginnya mulai mengabulkan permintaannya, tetapi ia malah begini.

"Akh, maaf. Aku merusak suasana. Sudah, lupakan saja. Bagaimana kalau kita kencan hari ini?" Haechan tersenyum tipis. Ia tidak tahu berapa lama waktunya tersisa. Mungkin sebulan, seminggu, atau besok. Yang ia inginkan hanya menghabiskan sisa hidup bersama orang yang ia sayangi.

ONE LAST TIME || MARKHYUCK (Proses Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang