|| Chapter 04

679 29 13
                                        

.
.

Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakaatuh....
.
.
Semoga yang membaca cerita ini, makin diberkahi umurnya, Aamiinn..
.
.

(⁠*⁠❛⁠‿⁠❛⁠)⁠→Selamat Membaca!

***

"Bosen banget nih gue, malah di sini nggak di bolehin bawa ponsel lagi."rengek Arsyi dalam asrama.

"Kok rasanya gue rindu banget ya, sama Kak Haris.”

Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan Fiya yang baru saja pulang dari menyetor hafalan. Subuah ide pun muncul di benaknya.

"Heh Cupu!, sini Lo!"panggil Arsyi.

"Tumben kamu manggil saya, kamu nggak lagi kesurupan 'kan?"

"Ngaco lu, sekarang anterin gue!"

"Kemana?"

"Ke Ustadzah Rani, gue mau antrian telepon."

"Sekarang?"

"Habis musim durennn, ya sekarang lah, mau gue peras otak Lo?"

"Ya udah ayok atuh, kirain nunggu habis bulan Juli."

Arsyi cuma bisa memutar bola mata jengah dengan lemotnya pemikiran Fiya. Tidak sama seperti Intan yang cukup mahir dan cepat dalam segala hal, tapi bukan berarti Fiya itu nggak pintar, Fiya juga pintar, tetapi khusus di pengajian. Mungkin cuma Arsyi saja yang mengambil julukan tolol di antara mereka bertiga.

"Kamu mau nelpon siapa?"tanya Fiya sambil berjalan ke tempat Ustadzah Rani.

"Kak Haris."

"Dia siapanya kamu?"

"Cowok gue."

"Astaghfirullah hal 'adhimm ... kamu pacaran?"

"Lah emangnya kenapa?, Lo pikir cantik-cantik begini status gue jomblo, hha garing tau."

"Bukan gitu, Syi, kamu tau sendiri 'kan kalau hukum pacaran itu haram. Dan sekarang kamu mau telpon pacar kamu, nanti kalau ketahuan sama ustadzah gimana?, bisa di laporin ke Kiyai."peringat Fiya.

"Udah tenang aja!, yang di laporin 'kan gue, bukan elu."

"Tapi kamu hati-hati ya!"

"Lo pikir gue mau tawuran apa?"

Ketika sudah tiba, Arsyi sempat mengantri selama 10 menit. Untung saja yang mengantri tidak terlalu banyak. Kalau tidak hilang sudah kesabaran Arsyi.

Arsyi segera menelpon pria yang ia cintai setelah papanya. Dia adalah Haris Rayendra. Pacar Arsyi yang telah menjalani hubungan bersamanya selama 2 tahun. Tampan?, sudah pasti, tidak mungkin seorang Arsyi mendapatkan pria yang di bawah rata-rata. Tapi sebenarnya, Haris itu tidak sekaya Arsyi, bahkan dia cuma bekerja sebagai barista pemakai apron di sebuah cafe.

Namun soal cinta dan kesetiaan, Arsyi merasa kalau Haris lebih sempurna di bandingkan pria lain. Haris benar-benar paket komplit sedunia.

AIS & SYITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang