Nara memasuki halaman rumahnya. Sebuah rumah yang beralamat di salah satu perumahan elit di Jakarta. Rumah megah itu tampak sunyi dan lengang. Hanya terdengar suara air gemericik dari air maancur yang berada di taman. Rumah itu terlihat mewah. Namun rumah itu juga terlihat mencekam.
Krek, pintu utama terbuka, "Raja!! Aku pulang!!" teriak Nara.
Tak ada sautan dari dalam. 'Mungkin belum pulang' pikirnya. Ia lalu melangkahkan kaki memasuki rumah mewahnya. Dia berjalan melewati ruang tamu.
"Gimana kabar pi? Sehat?" ucapan seorang wanita membuat Nara menghentikan langkahnya. Nara menoleh ke arah wanita paruh baya yang sedang asyik dengan seseorang dari telepon.
'Cih, kebiasaan lama!"
Nara berpura pura tak melihat sang wanita. Ia lalu bergegas menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
"Nara, baru pulang? Kok tumben sorean? Nggak bareng Raja sayang?" sapaan lembut dari sang wanita menghentikan langkahnya. Ia hanya menoleh sedikit lalu berdecih.
"Daritadi kali. Keasikan telpon jadi nggak ngedenger anaknya pulang." ucap Nara sinis. Lalu bergegas menaiki tangga meninggalkan sang mama yang kembali asik dengan seseorang yang tengah berada di seberang telpon dan memasuki kamarnya.
'Brakk!
Bantingan pintu memang sengaja ia lakukan. Entah mengapa, walaupun sudah terbiasa, Nara tetap merasakan kesal. Nara merasa tidak di perdulikan. Nara merasa tak di anggap.
Dia membanting tubuhnya kasar ke kasur. Fix, dia Badmood sekarang. Dia kesal karena tak di perhatikan oleh sang Mama. Terlebih Raja belum pulang. Membuat Nara semakin kesal. Dia bangkit dari posisi rebahannya. Lalu menyambar handuk dan berjalan memasuki kamar mandi yang terletak di kamarnya. Berharap air dingin yang keluar dari shower itu bisa membuat kekesalannya mereda.
Dia menenggelamkan seluruh badannya dalam bak mandi. Kini yang terlihat dari bagian tubuhnya hanya kepalanya. Bayangan masa lalu tiba tiba muncul di pikirannya.
"Ayo kita berendam Nara. Mama akan menggosok punggungmu." ucap wanita yang mengakui dirinya sebagai 'Mama' kepada Nara.
Nara kecil hanya mengangguk, "asyik, mandi baleng mama!"
"Arrrghghhtt!! Menyingkirlah memori tak berguna!" teriak Nara frustasi. Emosinya semakin menjadi.
'Sial! Bukankah berendam bisa meredakan emosi? Tapi kenapa memori bodoh itu justru muncul lagi di otakku?!'
Dengan kesal Nara berdiri dan menyambar handuknya. Ia kesal, bukannya berendam membuat otaknya mencair malah justru membuat otaknya semakin beku. Ingin rasanya ia pecahkan saja kepalanya. Berharap dengan itu bisa membuat ia menjadi lebih tenang.
Ia keluar dari kamar mandi, mengambil sepasang baju untuk di pakainya. Setelah itu, ia berjalan menuju balkon yang berada di kamarnya itu. Dia duduk menyender pada ayunan yang berada di pojok balkon. Memejamkan mata berusaha untuk tidur. Tapi tak bisa. Entah kenapa matanya tak mau menutup. Seolah ada penghalang diantara kelopaknya. Tak ada yang bisa membuat pikirannya tenang. Hanya satu yang bisa membuatnya tenang. Dia bergegas masuk kembali ke kamarnya dan mengambil hape yang tergeletak di meja belajarnya.
Ia membuka pesan dan mulai mengetik sebuah sms untuk orang lain.
To: My King (085748354xxx)
'Kapan kamu pulang? Aku butuh kamu.'
Nara lalu memencet tombol kirim. Ia hanya butuh dia sekarang. Hanya orang itu yang ia butuhkan sekarang. Ia lalu kembali duduk menyender di ayunan. Mata bulatnya menatap jalanan yang berada di depan rumahnya. Berharap seseorang datang memakai motor ninja masuk ke rumah megahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naraya
Teen FictionTentang Nara, gadis dingin yang tak mau mengenal cinta. Yang tak pernah percaya cinta itu ada. Bukan karena dia tak pernah merasakannya, tapi justru karena cinta yang telah ia rasakan. Raja, Adik besar yang sangat di cintainya. Adik besar yang jadi...
