"Apa salahnya mencoba untuk berlari? Bukankah lebih baik daripada berdiam diri?"~Naraya.
***
Kini, Nara, Vano, Daffa, Dytha, dan Raja sedang menaiki pesawat menuju Jogja. Ya, tujuan mereka adalah Jogja. Tadinya, Nara hanya akan berangkat sendiri. Namun Daffa, Dytha dan Vano memaksa untuk ikut.
"Tadi gue udah telfon bi Eka. Gue juga udah pesenin tiket kereta buat keberangkatan mereka. Rencananya, mereka bakal berangkat nanti sore." ucap Daffa.
Nara mengangguk,"Terus, lo pada kapan balik ke Jakarta?"
"Etdah Ra. Nyampe Jogja juga belum. Lo udah ngusir kita kita aja." jawab Dytha cepat.
Nara menggeleng, "Bukan. Maksudnya, kalian kan nggak mungkin ikutan tinggal di Jogja. Kan gue di Jogja nggak cuma sehari dua hari kali. Nunggu Raja sadar."
"Ntar juga kita pulang kok. Nggak bakal juga kita lama lama disini. Lagian Daffa udah beli tiket buat balik kok. Vano juga pasti bakal pulang. Kan ada Naza. Ya nggak Va?"
Vano mengangguk.
"Terus, lo mau tinggal dimana Ra?" Dytha bertanya.
"Ya di Rumah Sakit lah Tha. Masa iya diJakarta. Lo kira gue tega ninggalin Raja?"
Dytha berdecak, "Lo tuh lupa ya? Anak lo ngikut. Bi Eka juga. Masa iya lo tega biarin mereka tinggal di Rumah Sakit juga. Yakali Ra."
"Eh, iya ya. Ada Oel juga ya? Dimana ya? Gue nggak punya kenalan lagi di Jogja."
"Terus gimana? Lo si, main langsung minta pindah aja. Makanya, kalo apa apa tuh di pikir dulu Ra,"
Raut Nara berubah masam, "Lo nggak tau si Tha. Mama berani bawa si Ilham ke Rumah Sakit! Bayangin! Eh, lo kira gue bakal santai santai aja pas tau pecandu itu ngejenguk Adik gue? Nggak lah."
"Ya tapi kan lo nggak harus langsung pindah juga kali Ra."
Vano dan Daffa memilih diam. Tak ingin ikut berkomentar. Lalu pergi meninggalkan mereka ke bagian pesawat yang lain.
Dytha dan Nara acuh. Tak perduli, walau mereka berdua melihat Daffa dan Vano beranjak pergi.
Dytha kembali fokus ke Nara. Menggenggam tangan Nara erat, "Denger Ra, kita tuh udah sahabatan bertahun tahun. Apapun masalah yang lo terima. Jangan sok sokan buat nyelesaiin sendiri, itu malah bikin lo tambah kacau. Liat sekarang? Lo bingung kan? Lo nggak punya kenalan di Jogja, sementara lo udah terlanjur ngajak Oel dan bi Eka."
"Gue emosi Tha. Nggak ada maksud buat nggak perduli sama keberadaan lo. Pas ngeliat Ilham di ruangan rawat Raja tadi, gue langsung pergi. Berusaha buat bikin si Ilham nggak bakal liat Raja lagi."
Dytha menggeleng, "Lo salah Ra. Lo salah ketika lo milih buat lari dari Ilham. Itu malah bikin dia jadi makin gencar nyari lo. Dan, apa lo nggak mikirin Mama lo?"
Nara tersenyum miris. Persetan dengan Mamanya. "Buat apa mikirin dia? Apa dia mikirin gue pas lagi selingkuh sama Ilham? Apa dia mikirin gue pas dia kencan sama Ilham?"
"Tapi, dia Mama lo. Orang yang udah ngelahirin lo."
"Nggak perduli Tha. Gue sama sekali nggak perduli. Ini semua salah dia. Karena dia, Papa lebih milih buat ninggalin gue sama Raja. Karena dia, gue bahkan nggak yakin kalo gue anak kandung dari Papa. Secara, yang Mama gue lakuin cuman nampung benih dari banyak pria di rahimnya. Liatkan gimana bitch nya Mama gue?" Nara berteriak kencang. Membuat Dytha terdiam mendengarnya.
"Dia bahkan udah nggak pantes lagi gue panggil dengan sebutan Mama."
Nara menarik rambut panjangnya. Menjambaknya kencang. Berusaha menghilangkan rasa pusing di kepalanya. Tapi bukannya hilang, rasa sakit itu semakin menjadi. Dadanya juga ikut sesak.
Nara lalu menatap Dytha yang terdiam melihatnya, "Lo nggak boleh gitu Ra. Gue tau, lo kesel sama Mama lo. Lo kecewa, tapi jangan benci. Sadar apa nggak, itu bakal bikin lo makin tersiksa. Apapun kesalahan Mama lo, jangan pernah benci sama Mama lo. Setidaknya, dia masih mau ngurusin lo sama Raja kemaren kemaren. Nggak ngebiarin lo terlantar gitu aja." Dytha menarik napas sedetik. Lalu mulai bicara lagi.
"Ra, denger gue. Lo nggak bakal pernah bahagia kalo lo sendiri malah ngebuat hidup lo ancur. Oke, gue tau. Lo kecewa pas lo tau kalo Mama lo selingkuh. Terus kenapa? Mama lo selingkuh, ya itu urusan dia. Dosa, dia ini yang nanggung. Jangan dipikirin Ra, mau Mama lo sebejat apapun, itu tetep mama lo. Bukan orang lain. Yang penting kan, Mama lo masih ngurusin lo sama Raja. Nggak nelantarin lo gitu aja. Kadang, lo juga harus tutup mata sama telinga. Anggep nggak terjadi apa apa antara lo, Mama lo, sama si om Ilham itu."
"Lo nggak ngerti Tha, lo nggak ngerti." Nara masih sesak. Dipukulnya dada, berharap rasa sesak di dadanya hilang.
"Masalahnya tuh bukan di sini Tha," Nara menunjuk kepalanya.
Lalu jarinya bergantian menunjuk dadanya, "Tapi disini. Sakit Tha, sakit. Ini bahkan lebih nyesek dari pas gue ditinggal Papa pergi. Ngebayangin Mama gue, orang yang kata lo udah ngelahirin gue, mencintai orang lain selain papa gue. Sakit Tha!"
Wajahnya kini frustasi. Pertanyaan demi pertanyaan mucul di otaknya. Apa ini akhir dari segalanya? Apa keluarganya akan hancur? Apa ini semua ada jalan keluarnya?
***
Nara turun dari ambulans yang membawanya dan tubuh Raja. Setengah jam sudah dihabiskan di mobil ambulans ini. Sekarang, dia berada di Rumah Sakit tempat Raja akan kembali di rawat. Tempat dia menunggu Raja membuka kembali kelopak matanya.
Setelah berbicara dengan Dytha, akhirnya Nara memilih untuk menyewa satu kamar kost dekat Rumah Sakit tempat Raja di rawat. Untuk tinggal sementara Oel, dan bi Eka. Daffa, Vano, dan Dytha sendiri yang mengantarkan bi Eka dan putrinya ke tempat kost.
Nara sudah memutuskan untuk tidak memikirkan Mamanya. Dia sudah tidak perduli dengan apa yang akan Mamanya lakukan. Dia tidak benci, demi apapun. Hanya saja, kecewa telah membuat dia jadi merasa sakit bahkan untuk mengingat panggilan terhadap seseorang yang telah melahirkannya.
Biarkan Nara fokus untuk merawat Adik tersayangnya. Tanpa kasih sayang dari seorang Mama. Tanpa perhatian dari orang yang telah lama meninggalkannya, sang Papa.
Dia tidak perduli bila dia tak mendapatkan cinta. Dia hanya perduli dengan satu satunya harapan hidupnya, Raja.
Biarkan waktu yang menghilangkan segala hal buruk di setiap kehidupannya.
"Selamat datang di Jogja. Kota Baru, Hidup juga harus Baru." Nara tersenyum, lalu melangkah masuk menyusul Raja yang sudah di bawa masuk terlebih dahulu oleh perawat.
Nara tersenyum di setiap langkahnya. Melewati lorong demi lorong Rumah Sakit. Menyapa setiap orang yang berjalan melewatinya. Melihat lihat setiap pintu kamar rawat inap. Ada yang senang ketika tau operasi keluarganya berjalan lancar. Ada pula yang menanggung duka yang amat mendalam ketika tau keluarganya dalam keadaan buruk.
Hh, senang dan sedih. Nara bahkan selama ini lebih banyak merasa sedih...
"Nara!"
Nara menoleh. Mematung begitu melihat siapa yang barusan memanggilnya.
"Kamu Nara kan? Putri Naraya? Ya Tuhan!"
Dan saat itu juga, Nara telah merasakan rasa senang yang jarang muncul di kehidupannya. Sedih yang selalu dia rasa, bahkan seolah olah telah hilang terkikis oleh rasa yang bahkan hanya hitungan jari dia rasakan.
Dia bahagia.
Tak perduli mau seberapa banyak lagi rintangan yang akan Nara hadapi di kehidupannya suatu saat nanti. Yang pasti, Nara tak pernah menyesal mengambil keputusan untuk pindah ke kota ini.
Bersambung ke sekuel dari Naraya.
***
Yup, Naraya selesai. Mungkin, belum sepenuhnya selesai. Tapi, mengingat ujian ujian yang akan saya hadapi nanti. Naraya saya tamatkan. Jika masih ada yang ingin membaca kelanjutan ceritanya, bisa baca sequelnya. Yang akan saya publikasikan Juni mendatang.
Terima Kasih telah mau membaca Naraya, cerita aneh dan gajelas ini. :)
PS: Jika ada yang bertanya tanya tentang bagaimana dengan tokih lainnya. Seperti, Apa jadinya dengan Papa Nara yang sudah saya ungkit ungkit tapi tidak pernah muncul? Kehidupan cinta Nara, Mama Nara, Dytha, Daffa, dan Vano. Oh, jangan lupakan Oel dan Bibi Eka. Akan saya jelaskan di cerita lanjutan Naraya. Bye!
Always love B,
HRA.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naraya
Teen FictionTentang Nara, gadis dingin yang tak mau mengenal cinta. Yang tak pernah percaya cinta itu ada. Bukan karena dia tak pernah merasakannya, tapi justru karena cinta yang telah ia rasakan. Raja, Adik besar yang sangat di cintainya. Adik besar yang jadi...
