"Siapa sih, yang mau mimpi buruknya menjadi kenyataan?" ~Naraya.
***
"Jadi, lo kenapa nanya hal kek gini? Lo lagi jatuh?" tanya Daffa penasaran dengan Vano. Sejak tadi, Vano hanya diam tanpa mau menjawab pertanyaan Daffa. Sedangkan Daffa yang di kacangin penasaran banget sama Vano. Apa Vano lagi jatuh cinta?
Vano menatap keluar jendela. Diluar masih hujan, "Gimana kalo lo jatuh cinta sama orang yang seharusnya gak boleh lo cintai?" tanya Vano. Dia salah, sangat tau kalo dia salah. Tidak seharusnya Vano merasakannya, ini bukan bagian dari rencana.
Daffa mengernyit, "Maksud lo?"
"Gini aja. Kita bikin perumpamaan. Kalo lo disuruh melakukan sesuatu oleh seseorang. Lo disuruh ngejagain satu barang yang dia punya. Baik baik, gak boleh ada yang merusak barangnya. Tapi, lo gaboleh ngelakuin itu dengan hati. Lo gaboleh suka sama barang itu. Lo harus gimana? Ketika tau. Tanpa sadar barang itu udah jadi prioritas lo selama ini. Barang yang orang lain titipin lama kelamaan bikin lo sendiri merasa bahwa, Itu punya gue, gaada yang boleh nyentuh dia selain gue." ucap Vano frustasi. Dia sudah kelewat batas.
Daffa termenung. Ini begitu rumit. Vano pasti sedang dilema. "Kalo gue. Mungkin, gue bakal tahan rasa itu biar gak semakin hidup. Gue bakal biarin rasa itu gak berkembang. Karena itu bukan barang gue. Gue gak boleh suka sama barang yang bukan milik gue. Itu sama aja nyuri. Tapi, artinya bakal berubah kalo gue minta izin dari yang punya. Kalo dibolehin, gue bakal biarin rasa itu berkembang sesuai seharusnya. Tanpa di bayangi kata kata pencuri ataupun perebut." jelas Daffa.
Vano mengangguk. Apa iya dia harus bilang seperti itu? Apa iya dia harus merebut barang yang bukan miliknya? "Gue gatau apa yang harusnya gue lakuin Daff. Berjuang, atau bertahan dengan situasi kek gini."
Daffa menepuk bahu Vano pelan, "Lo pasti bakal punya jawabannya. Lo punya pilihan, lo juga pasti punya jawaban."
Vano tersenyum. Untuk kali ini, dia sadar bahwa Daffa sangat bijak. Dibalik kejailannya selama ini. "Makasih ya Daff. Tapi tolong, lo jangan kasih tau siapa siapa tentang hal ini." pinta Vano.
Daffa seketika mengerling jail, "Oke, tapi harus ada penutup mulutnya ya."
"Sial lo Daff!"
Mereka tertawa kencang di kafe itu. Tak perduli dengan hujan yang masih deras turun. Tak perduli dengan langit yang mulai berganti gelap. Tak perduli dengan tatapan aneh para pengunjung kafe lainnya. Yang mereka perdulikan hanyalah diri mereka saat ini. Diri mereka yang tanpa rasa, tapi ingin berbagi rasa.
***
Vano menjatuhkan badannya diatas tempat tidurnya. Merasa gerah, dia menyalakan AC di kamar kostnya.
"Baru pulang kak? Darimana aja?" tanya Naza ketika keluar dari kamar mandi. Naza memang belum kembali lagi ke Bogor. Dia masih malas untuk pergi ke sekolah. Pelajaran di sekolah itu itu saja. Naza sudah mengerti itu semua.
Vano mengangguk, lalu menutup wajahnya dengan lengannya. "Tadi mampir bentar."
Naza menganggukan kepalanya, lalu beralih ke lemari untuk mengambil bajunya.
Kamar kost Vano cukup besar. Muat untuk ditempati kasur ukuran king size, lemari, dan kulkas. Disudut kamar juga ada meja yang sudah di tempelkan ke tembok dengan di bor. Didalamnya sudah berisi kamar mandi. Jadi, dia tak perlu susah payah mengantri untuk mandi.
Vano melamun dibalik lengannya. Dia bimbang. Ingin mengatakan yang sesungguhnya, tapi bagaimana dengan dia? Apa dia akan membenci Vano? Karena telah beraninya mengambil apa yang bukan seharusnya dia ambil? Vano ingin meminta izin. Tapi, terasa berat mengatakannya. Bukan, ini bukan masalah berani atau tidak. Ini hanyalah masalah dia akan tersakiti atau tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naraya
Fiksi RemajaTentang Nara, gadis dingin yang tak mau mengenal cinta. Yang tak pernah percaya cinta itu ada. Bukan karena dia tak pernah merasakannya, tapi justru karena cinta yang telah ia rasakan. Raja, Adik besar yang sangat di cintainya. Adik besar yang jadi...
