Chap 20 (Go!)

2.2K 120 4
                                        

"Aku ingin pergi. Kemana pun. Asal jangan disini." ~Naraya.
***
Dytha memeluk Nara erat. Tersenyum lebar. Mengelus rambut coklat Nara yang tergerai. Sesekali mengendus rambutnya. Membuat Nara merasa geli.

"Apaan sih Tha. Jangan ngendus ngendus. Lo udah kayak anjing." ucap Nara berusaha melepas pelukan Dytha.

Ekspresi muka Dytha langsung berubah jutek, "Lo nge hina apa ngumpat?"

Dahi Nara berkerut, "Nggak dua duanya."

Daffa yang tau Dytha sedikit tersakiti, langsung mengalihkan topik pembicaraan. "Uanjir, puisi lo tadi keren tau Beb!"

Nara menoleh, lalu tersenyum manis. "Biasalah Daff, bawaan orang perfect tuh begini." ujarnya memuji diri sendiri.

"Untung, lo sahabat gue Ra. Kalo bukan nih ya, udah gue tendang ampe ke kutub utara. Buat jadi makanan beruang kutub disana. Bodo amat!" ujar Dytha sambil mengelus dadanya.

"Gue tau kok Tha. Sejahat apapun gue ama lo. Lo gak bakal ninggalin gue. Kecuali kalo lo mati duluan." Nara berucap yakin.

Dytha tersenyum miring, "Yang ada mah lo yang mati duluan. Bukan gue. Mana mungkin, Tuhan nyabut nyawa gue duluan dibanding lo? Kan gue baik. Emang lo? Jahat." ucapnya setengah bercanda.

Sungguh, dia ingin sekali melihat Nara meninggalkannya duluan. Agar Dytha bisa memastikan, sahabatnya meninggal dalam keadaan bahagia. Dytha tak bisa membayangkan jika dirinyalah yang lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa. Apa jadinya nanti hidup Nara tanpanya? Oh. Jangan buat hidup Nara tambah hancur.

Daffa yang setengah takut mendengar pembicaraan Nara dan Dytha menyela, "Lo pada jangan ngomongin kek begituan dong. Gue yang ngeri tau. Kalo kalian matinya barengan gimana?" tanya Daffa khawatir.

Nara tersenyum, "Ya bagus dong? Kita jadi di akhirat barengan. Haha."

Dytha mengangguk, betul juga apa kata Nara. Jika mereka meninggal bersama, pasti mereka tak dapat terpisahkan.

Daffa berdecak. "Terus gue sama siapa nanti? Gue gamau ya, gara gara ditinggal kalian, gue malah jadi sendirian. Ntar kalo gue sendirian, gue depresi. Terus kalo gue depresi, ntar jadi gila. Terus kalo gue gila, gue bakal tinggal di Rumah Sakit Jiwa. Kalo nggak, hidup jadi gelandangan yang gak keurus. Huua, gue gak mau!" Daffa mengusap wajahnya kasar. Berusaha mengusir bayangan buruk di otaknya. Membayangkan ketika dirinya jadi gila karena hidup sendirian. Lalu jadi gelandangan kota yang mengenaskan. Pakaian yang compang camping, rambut panjang yang kusut karena bertahun tahun tak diurus, brewok yang mulai memutih di sekitar rahang sampai dagunya, dan kulit mengkerut yang berwarna coklat penuh daki. Ahh, Daffa tak mau membayangkannya.

"Sama gue ntar," ucap Vano.

Daffa menoleh, lalu memasang ekspresi menjijikannya. "Idih? Gue? Hidup ama lo? Ogah."

Vano memasang senyum menggoda, lalu merapatkan duduknya ke Daffa. Tangannya bergerak mengelus lengan Daffa. Membuat Daffa bergidik geli, berusaha menjauhkan tangan Vano yang melilit lengannya.

"Gak usah sok jijik deh Daff." Elusannya semakin menggelikan, kepalanya sengaja ia miringkan. Refleks, Daffa bergidik geli. Sedangkan Nara dan Dytha hanya menonton dengan perasaan sedikit jijik dan lucu.

"Percaya deh, hidup berdua sama aku menyenangkan kok." kini bahkan Vano menatap Daffa genit. Matanya berkedip sebelah.

Daffa segera melepaskan tangan Vano. Tak kuat menahan rasa ingin muntah saking jijiknya. Ingin sekali dia menendang wajah Vano, agar tatapan genitnya tak kembali di perlihatkan.

Vano pura pura memasang wajah cemberut. Kedua tangannya ia silangkan di depan dadanya. Wajahnya memerah. Tentu saja bukan karena ia marah. Tapi karena dia sedang mati matian menahan tawanya.

NarayaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang