"Aku mungkin salah. Telah menganggap semua ini salah."~Naraya.
***
"Ibu harap, kalian mau berpartisipasi dalam acara ini."
"Tapi, kita nggak bisa bikin puisi bu." ucap salah seorang murid, membuat yang lain ikut mengangguk menyetujui.
Nara menggerutu, untuk apa mereka mengikuti acara seperti itu? Lagian, ikut perlombaan puisi bukanlah hal yang mereka inginkan. Kenapa wali kelas memaksa mereka untuk mengikutinya?
"Apa salahnya nyoba? Siapa tau bisa juara. Dapet hadiah deh." ucap Vano.
"Apaansi lo Va. Ikutan aja lo. Sono. Hush hush. Kita masih ngambek ya." balas Daffa ketus.
Vano mengernyit, "kok gue yang salah? Kan tadi gue disuruh Pak Karso buat ngebantu ngoreksi. Jadi gue nggak tau kalo kalian dihukum sama bu Ifa. Lagian, kenapa kalian nggak nanya ke gue? Gue kan udah ngerjain." jelas Vano. Ya ampun, kenapa dia masih disalahkan? Kan tadi dia disuruh, jadi dia tak mengikuti pelajaran matematika bu Ifa dan tak bisa memberi contekan kepada teman temannya. Lagian, merka yang tidak mengerjakan, kenapa jadi Vano yang di salahkan.
"Serah lo No. Dasar Tono lo ah." ujar Daffa kesal. Membuat Dytha ikut tertawa mengejek.
"Dih?"
"Sudah! Dengar semuanya, apapun keputusan kalian. Mau tidak mau, suka tidak suka. Kalian, wajib mengikuti pelombaan puisi ini. Jika tidak, kalian akan saya hukum untuk berlari mengelilingi lapangan sebanyak 10 kali tanpa berhenti! Baik, terimakasih. Kalian boleh pulang. Saya permisi."
Nara bergegas memasukkan peralatan sekolahnya ke dalam tasnya. Tak sabar ingin segera bertemu Raja. Berharap Raja sudah terbangun dari tidurnya.
Nara memakai tas gendongnya, "Daff, ayo balik." ajak Nara.
Daffa menoleh, mengangguk dan menghampiri Nara. "Minggir!" ketus Daffa saat Vano menghalangi jalannya.
Vano mendengus, lalu menyingkir. "Selow dong bang."
Daffa menatap tajam Vano. "Bodo amat, ayo beb. Kita pulang." ajak Daffa lalu merangkul pundak Nara.
Teriakan tiba tiba menghentikan jalan Nara dan Daffa yang sudah di pintu kelas.
"Tungguin eh! Jahat, ninggalin!" teriak Dytha sambil memonyongkan bibirnya kesal.
Daffa menepuk jidatnya, "Eh, lupa lupa. Maap ya eneng Dytha yang geulisnya minta amsyongg." Goda Daffa. Membuat Dytha geli mendengarnya. Lalu berjalan mendahului Nara dan Daffa.
"Eh, kalian beneran Marah sama gue?!!" tanya Vano dari depan kelas ketika mereka sudah di ujung koridor.
Mereka bertiga menoleh, "IYA!!"
***
Nara berjalan cepat menuju Rumah sakit. Terlalu bersemangat untuk melihat kembali Adiknya.
Jalannya terlalu cepat, membuat Daffa dan Dytha kewalahan untuk mensejajarkan langkahnya dengan Nara. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Rambut coklatnya mulai basah dengan keringat yang membanjiri dahinya.
Dia lalu memasuki lift dengan segera. Lalu menunggu lift berjalan untuk menaikkannya ke ruang tempat Raja di rawat. Kakinya mengetuk ngetuk lantai lift pelan, merasa bahwa lift ini terlalu lama berjalan. Daffa dan Dytha tadi dia tinggalkan. Tentu Nara sempat melihat bagaimana ekspresi kedua temannya itu. Dia membayangkan ocehan yang diucapkan Dytha. Membuat senyumannya berubah menjadi cengiran lebar.
Ting!
"Misi!"
Nara langsung bergegas keluar dari lift dan melangkahkan kakinya lebar lebar menuju ruangan rawat Raja. Dua kamar lagi, dia akan sampai di kamar Raja. Dia tak sabar melihat wajah pulas adiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Naraya
Teen FictionTentang Nara, gadis dingin yang tak mau mengenal cinta. Yang tak pernah percaya cinta itu ada. Bukan karena dia tak pernah merasakannya, tapi justru karena cinta yang telah ia rasakan. Raja, Adik besar yang sangat di cintainya. Adik besar yang jadi...
