Bab 18 Pemuda

1.2K 79 0
                                        

​Cuiliu menggerutu sedikit, namun Yunshu hanya menanggapi dengan senyuman.

​Mana ada orang yang bertamu namun hanya mengenakan pakaian kain kasar biasa?

​Ini adalah pertama kalinya ia berkunjung ke rumah Cuiliu. Jika ia berpakaian semrawut, bukankah itu sangat tidak sopan?

​Namun karena Cuiliu terus mendesaknya, Yunshu akhirnya mengeluarkan baju baru seragam pelayan kecil yang diberikan pihak kediaman beberapa waktu lalu. Meski berbahan kain kasar, potongannya sangat bagus, dan karena Yunshu belum pernah memakainya, baju itu masih baru dan sangat bersih. Ia juga mengambil sedikit bubuk Poria (Fu Ling Shuang) pemberian Amber, serta membawa beberapa kantong aroma hasil sulamannya yang indah sebagai buah tangan, barulah ia melangkah keluar dari kediaman bersama Cuiliu.

​Karena rumah Cuiliu terletak tepat di samping Kediaman Adipati, jaraknya tidak jauh. Yunshu dan Cuiliu berjalan sambil bercanda menyusuri jalanan tersebut. Sejak terbangun di dunia ini, Yunshu belum pernah menginjakkan kaki ke luar gerbang kediaman. Meski jalanan itu tidak terlalu ramai, ia menikmatinya dengan penuh minat.

​"Aduh!" Tiba-tiba Yunshu merasa tubuhnya tertabrak. Ia segera berpegangan pada Cuiliu dan menoleh ke samping. Di sana berdiri seorang pemuda yang tampan dan tegap, namun dahinya tampak bercucuran keringat tipis. Pemuda itu memiliki alis yang gagah, pembawaannya tampak pendiam, jujur, dan tenang. Saat ini ia sedang menjinjing beberapa bungkusan kertas, dan dari tubuhnya yang kuat tercium aroma pahit dari rebusan obat herbal.

​Tampaknya ia sedang terburu-buru. Begitu sadar telah menabrak seorang gadis kecil, ia segera menghentikan langkah dan berkata dengan nada penuh penyesalan, "Maafkan saya." Suaranya serak, matanya menyiratkan kecemasan, dan pakaian yang dikenakannya terlihat sangat kasar.

​Pandangan Yunshu menyapu ujung lengan baju pemuda itu yang sudah mulai berserabut, lalu beralih ke bungkusan kertas di tangannya. Ia menggeleng pelan dan berkata, "Tidak apa-apa, jangan dimasukkan ke hati." Orang ini sepertinya sedang dalam keadaan darurat; tertabrak sedikit bukanlah masalah besar yang harus diperpanjang. Karena Yunshu tidak mengomel ataupun memarahinya, pemuda itu tertegun sejenak. Ia mengatupkan bibirnya sebelum berkata lirih, "Terima kasih, Nona."

​Ia berterima kasih karena Yunshu tidak mempermasalahkannya. Melihat Yunshu hanya mendongak dan tersenyum padanya dengan tenang tanpa ada nada ketus sedikit pun, pemuda itu ragu sejenak sebelum berkata, "Jika nanti Nona merasa tidak nyaman setelah kembali, rumah saya ada di sana..."

​Ia menunjuk ke sebuah rumah di jalan itu, menunjukkan tanggung jawabnya.

​"Hanya tertabrak sedikit, mana mungkin saya sampai luka dalam?" canda Yunshu sambil menggeleng.

​Pemuda itu meminta maaf sekali lagi, lalu melangkah pergi dengan tergesa-gesa. Begitu dia pergi, Cuiliu memperhatikan punggungnya sejenak dan berbisik, "Mungkin Paman Song sakit lagi, makanya Kakak Song begitu terburu-buru." Melihat Yunshu menatapnya heran, Cuiliu tertawa dan menariknya berjalan.

​Mereka sampai di sebuah rumah yang hanya berjarak beberapa bangunan dari rumah pemuda tadi. Cuiliu mengetuk pintu, dan tak lama kemudian terdengar suara jawaban dari dalam. Pintu besar itu terbuka, menampakkan seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun yang tampak cerdik dan tegas. Ia melirik Cuiliu lalu menatap Yunshu, kemudian tersenyum cerah.

​"Ibu baru saja berpikir kapan kalian akan sampai, kenapa lama sekali?"

​"Tadi kami melihat-lihat keramaian sebentar. Ibu, kenapa Ibu sendiri yang membukakan pintu?" Di rumah Cuiliu sebenarnya ada pelayan yang membantu.

​"Tentu saja karena Ibu ingin menunggumu, dasar anak tak tahu diri." Tentu saja itu adalah ungkapan kasih sayang seorang ibu yang ingin segera melihat putrinya yang sudah berhari-hari tidak pulang.

Pelayan Kecil Kaya [Vol. 01]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang