Bab 37: Selir Luo

1K 57 0
                                        

​"Penghiburan ini bukan apa-apa. Selama Nyonya Tua tidak sedih lagi, saya rela melakukan apa pun."

​Nyonya Tua selalu sangat baik kepada Yunshu, dan beliau tidak pernah memukul atau memarahi Yunshu meski ia hanya seorang pelayan kecil. Yunshu merasa hidupnya di sini cukup nyaman.

​Jika ia berada di rumah orang lain, menjadi pelayan pasti akan sangat melelahkan. Jika bukan karena nasib menjadi pelayan itu menyedihkan, tentu orang-orang di dunia ini tidak akan rela dijual oleh orang tua mereka untuk menjadi hamba sahaya.

​Karena telah menerima kebaikan Nyonya Tua, Yunshu tentu berharap Nyonya Tua hidup tenang dan panjang umur.

​Hanya saja, kata-kata seperti itu terasa agak lancang jika diucapkan oleh Yunshu sendiri yang hanyalah seorang pelayan kecil. Melihat Nyonya Tua sudah merasa jauh lebih baik dan tertidur, Yunshu pun ikut tidur di atas kang (ranjang bata) kecil di dalam kamar tersebut.

​Keesokan harinya, karena ia telah bertugas jaga malam, ia tidak perlu melayani di kamar Nyonya Tua pada siang harinya. Ia pun berpamitan pada Amber (Hu Po) untuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ia tidur hingga matahari tinggi di langit baru terbangun. Di dalam kamar, seorang pelayan kelas dua sekamarnya telah menyisakan makanan untuknya. Ia melihat ada dua jenis hidangan lezat yang masih utuh, ia tahu itu sengaja disiapkan khusus untuknya, hatinya pun merasa tersentuh.

​Ia memanaskan teh di tungku kamar, menyiramkannya ke atas nasi dan lauk pauk lalu memakannya dengan lahap. Setelah kenyang, barulah Yunshu keluar kamar.

​Begitu keluar, ia melihat Cuiliu melepaskan sapu yang digunakannya untuk menyapu halaman dan berlari ke arahnya.

​"Ada apa? Kenapa terburu-buru sekali?"

​"Aku punya kabar baik untukmu," Cuiliu berkata dengan bangga sambil mengambil manisan buah dari kantong aromanya dan menyuapi Yunshu. "Kakak Song akhirnya tidak perlu lagi tinggal di gubuk kita." Ia tampak menghela napas lega. Yunshu mengunyah manisan itu dan bertanya dengan gumaman tidak jelas, "Dia sudah menemukan pekerjaan?"

​Mendengar itu, Cuiliu bertanya dengan heran, "Kau bahkan bisa menebaknya?" Melihat Yunshu menatapnya dengan senyum tipis, ia berkata dengan agak malu, "Bukannya aku membenci Kakak Song, tapi aku tidak berhati besar sepertimu yang membiarkan dia tinggal di tempat kita begitu saja."

​"Jika orang sedang kesulitan, membantu sedikit itu hal yang wajar."

​"Kau selalu bicara persis seperti Ayahku. Tapi aku ini orangnya pelit, selalu merasa agak kurang rela." Cuiliu bukannya benci pada Song Rubai, tapi karena dulu pernah disakiti oleh kakaknya, Biliu, ia selalu waspada terhadap orang yang meminjam atau memakai barang miliknya. Dulu Biliu selalu bilang "pinjam sebentar", tapi banyak barang Cuiliu yang tidak pernah kembali. Ia tahu ia agak pelit dan wajahnya sedikit memerah saat melanjutkan, "Tapi Kakak Song orangnya sangat jujur, aku saja yang berpikiran sempit."

​Ia melihat sekeliling lalu berbisik kepada Yunshu, "Dia sudah pindah. Sebelum pergi, dia menitipkan lima tael perak kepada Ayah untuk kita, katanya masing-masing setengah untukmu dan aku."

​"Lima tael? Itu terlalu banyak," ucap Yunshu lirih.

​Itu hanya sebuah gubuk rumput, dan Song Rubai hanya tinggal beberapa hari di sana. Tidak seharusnya ia membayar sampai lima tael perak.

​"Dia yang rela memberi, jadi kita terima saja. Bantuan kita saat dia terpuruk tentu nilainya lebih dari sekadar harga sewa normal," Cuiliu mendengus pelan. Melihat Yunshu terdiam, ia buru-buru menambahkan, "Dia sekarang tidak kekurangan lima tael itu. Beberapa waktu lalu Ayahku bilang dia pergi menemui Jenderal Shen. Jenderal Shen tahu dia diusir oleh ibu tirinya, dan karena mengingat hubungan baik dengan mendiang Ayah Song serta merasa kasihan padanya, Jenderal Shen mengirimnya menjadi pengawal Pangeran Kedelapan."

Pelayan Kecil Kaya [Vol. 01]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang