Bab 33 Manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan

1.1K 85 0
                                        

​"Adik Kedua, berhentilah mengucapkan kata-kata keluhan seperti itu. Ayah dan Ibu sudah cukup adil padamu."

​Meskipun awalnya Nona Besar Tang merasa cemburu karena adiknya mendapatkan perjodohan yang sangat bagus, namun setelah mendengar penjelasan dari Nyonya Besar Tang (Istri Adipati), ia mulai merasa kasihan pada masa depan adiknya itu. Ia tahu, jika Nona Kedua Tang terus bersikap seperti ini, mungkin Nyonya Besar akan diam saja, tapi Nyonya Tua pasti akan sangat muak padanya. Adipati Tang adalah seorang putra yang sangat berbakti; ia tidak akan menoleransi putri selirnya yang berani menentang Nyonya Tua. Jika sampai Adipati Tang—ayah yang selama ini melindungi mereka—merasa muak, maka nasib Nona Kedua sebagai Permaisuri Pangeran Xun pun tidak akan berakhir baik.

​Nona Besar Tang mencoba mengalihkan pembicaraan dan mengajak adiknya duduk untuk menemani Nyonya Tua berbincang agar suasana tegang ini segera berlalu. Ia melakukannya demi menjaga perasaan Nyonya Tua.

​"Kakak Besar, tidak perlu berpura-pura menjadi orang baik di sini! Aku sedang tidak beruntung, bukankah Kakak adalah orang yang paling merasa puas? Dulu Kakak cemburu padaku karena perjodohan ini, sekarang di depan Nyonya Tua, Kakak bersikap seolah kita bersaudara sangat akrab—apa Kakak tidak merasa jijik?!" Nona Kedua Tang merasa Nona Besar sangat munafik. Kemunafikan inilah yang paling ia benci. Entah itu saat Nona Besar mengambil hati Nyonya Tua dengan mengajak adik-adiknya menyulam kantong aroma untuk pernikahan Tuan Muda Ketiga, atau saat ia bersikap sebagai putri yang berbakti di depan Nyonya Besar, Nona Kedua merasa muak bukan main.

​Meski ia adalah gadis yang tampak rapuh, ia menghempaskan tangan Nona Besar Tang dengan tenaga yang cukup kuat.

​"Kalian dengar itu? Di dunia ini ternyata ada gadis yang benar-benar tidak tahu diuntung!" Nyonya Tua langsung naik pitam melihat Nona Besar Tang terhuyung setelah dihempaskan oleh adiknya.

​Yunshu, yang tidak memiliki hak untuk bicara dalam situasi sepanas ini, merasa terkejut di dalam hati. Apakah Nona Kedua Tang ini sudah gila?

​"Hamba tidak bisa menerima perkataan Nyonya Tua. Jika selama ini hamba tidak diperlakukan dengan baik, bagaimana hamba bisa disebut tidak tahu diuntung?" Tubuh Nona Kedua yang ramping tampak gemetar. Ia menatap para wanita di ruangan itu yang memandangnya rendah, lalu berkata sambil menangis, "Hamba tahu, hamba dan Selir Luo telah menjadi duri di mata Nyonya Besar. Karena Selir Luo disayangi Ayah, hidup Nyonya Besar menjadi tidak bahagia."

​Melihat wajah Nyonya Besar Tang yang perlahan berubah menjadi dingin tanpa ekspresi, ia melanjutkan dengan terisak, "Tapi perasaan cinta itu datang tanpa disadari dan begitu mendalam. Ada cinta antara Ayah dan Selir Luo. Nyonya Besar adalah istri sah, mengapa tidak bisa berlapang dada? Apakah harus menindas Selir Luo sampai mati baru merasa puas? Apakah Ayah tidak boleh mencintai Selir Luo? Dan hamba... Nyonya Besar membenci hamba, tapi hamba juga putri Ayah. Kenapa hamba tidak bisa mendapatkan kasih sayang Ayah? Apakah hanya anak sah yang dianggap manusia, sementara yang lain seharusnya tidak dilahirkan? Jika Nyonya Besar benar-benar berpikir demikian, itu terlalu kejam! Setiap orang berhak atas cinta, berhak untuk disayangi dan dicintai oleh ayahnya!"

​"Kau!"

​"Ayah tidak menyukai anak-anak sahnya, itu pasti karena mereka tidak bersikap cukup baik. Ayah menyayangi hamba dan Selir Luo karena kami memiliki sisi yang layak untuk disayangi. Nyonya Besar dan kakak-kakak lelaki hamba tidak introspeksi diri, malah iri dan benci pada kami?!" Kata-kata ini sudah terpendam bertahun-tahun di hati Nona Kedua Tang. Melihat Nyonya Besar Tang mengatupkan gigi menahan amarah, ia menyeka air matanya, mengangkat wajahnya yang cantik, dan berkata dengan sinis, "Tapi betapapun kejamnya Nyonya Besar, sekarang hamba sudah memiliki masa depan yang cerah!"

​Ia merasa ini adalah hasil usahanya sendiri yang berhasil menarik perhatian Pangeran Xun. Meskipun ibu tirinya berusaha menekannya atau mencoba mengunggulkan Nona Besar Tang untuk melawannya, semuanya akan sia-sia. Memikirkan hal itu, Nona Kedua Tang merasa semakin tak terkalahkan.

Pelayan Kecil Kaya [Vol. 01]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang