Akhirnya aku update lagi setelah berkecimpung dengan perkuliahan farmasi yang saangat padat.
Oke, ga perlu lama-lama lagi yaa..
.
🤍 Happy reading ✨
.
Hujan semakin deras, menciptakan genangan kecil di jalan aspal dekat lingkaran Villa Marina. Gemuruh guntur di kejauhan seakan memperingatkan sesuatu yang buruk akan terjadi. Devano memarkirkan motornya di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, air hujan menetes dari jaketnya yang mulai berat.
"Akhirnya muncul juga," suara dingin memecah keheningan.
Devano menoleh dan melihat tiga sosok yang berjalan mendekatinya. Lelaki yang berbicara itu adalah Panji, ketua Galleon Gang, dengan tatapan tajam dan senyum penuh ejekan. Di belakangnya ada Allen, kakaknya yang merupakan mantan ketua Galleon, serta Rengga, tangan kanan sekaligus antek-antek Baitita n The Gang. Ketiganya berhenti di depan Devano, membentuk barikade.
"Long time no see. Gue pikir lo udah kabur," kata Panji, nada bicaranya penuh provokasi.
Devano hanya tersenyum miring. "Kangen gue?"
"Mungkin. Tapi gue lebih kangen sama Si Culun Dean," balas Panji, menyebut nama kakak Devano dengan nada merendahkan.
Mata Devano menyipit, tangan kanannya mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Tapi ia tahu, emosi tidak akan membawanya pada penyelesaian.
"Bicara yang sopan. Mulut lo tuh bikin setan malu," balas Devano dengan senyum sinis.
Senyum Panji langsung menghilang. Ia maju dan mencengkram kerah jaket Devano. "Gue kasih peringatan terakhir. Jaga mulut lo.. atau orang yang lo sayang bakal pergi lagi."
Devano kehilangan kesabaran. Dengan gerakan cepat, ia melepaskan diri dari cengkeraman Panji dan melayangkan pukulan keras ke rahang lelaki itu. Dentuman suara pukulan bercampur dengan suara hujan yang semakin deras.
"Lo udah melampaui batas, Nji," desis Devano.
Rengga segera menarik tubuh Devano dari belakang, mengunci kedua lengannya. Allen yang tak terima dengan perlakuan yang didapat oleh adeknya, kemudian maju dan melayangkan tinju keras pada pelipis Devano. Pukulan itu membuat pandangannya buram untuk sesaat. Rengga juga yak mau kalah dengan menendang punggung Devano, hingga terjerembab ke aspal basah.
"Masih mau ngelawan?" Allen mendekat dengan seringai puas di wajahnya. "Apa lo mau bikin Dean mati untuk kedua kalinya?"
Kata-kata itu menyulut amarah Devano. Ia berguling cepat, menghindari tendangan Allen yang hampir mengenai kepalanya. Meski tubuhnya terasa nyeri, Devano berdiri dengan gerakan lambat. Ia meludah ke samping, darah bercampur dengan air hujan di bawahnya.
"Lo pikir gue takut?" suara Devano rendah dan tajam. "Walaupun gue harus jatuh buat bikin hidup lo berantakan, gue siap."
Ketiga anggota Galleon Gang mengepungnya. Panji melayangkan pukulan ke perutnya, tetapi Devano dengan sigap memutar tubuh dan menangkap tangan Panji, lalu menghantamkan lututnya pada perut lelaki itu.
Rengga maju, mencoba memukul rahang Devano, tapi Devano menghindar dan mengunci tangan Rengga, menggunakannya sebagai tameng saat Allen kembali melayangkan tinju. Pukulan Allen justru mendarat tepat pada pipi Rengga, membuat lelaki itu tersungkur ke aspal.
"Hah, kalian lebih lambat dari yang gue kira," kata Devano sambil terkekeh.
Panji maju dengan tinju terkepal. Namun, Devano memutar tubuhnya dengan cepat, memelintir tangan Panji ke belakang hingga lelaki itu meringis kesakitan. Dengan lututnya, Devano mendorong Panji ke depan, membuatnya jatuh ke genangan air.
KAMU SEDANG MEMBACA
2021: Ephemeral
FanficBisingnya keramaian pantai mengingatkan Reyshena akan buku hariannya yang berlogo kupu-kupu biru dengan cover ungu pastel. Mari kita intip list gadis sapu-sapu yang pada tahun 2021 ini akan menginjakkan umur 17 tahun. Rey's wish list : 4. ....... 5...
