015: Perlawanan Kedua

6 1 0
                                    

Cassandra yang keheranan bertanya pada teman sesama ras Cathuman akan apa yang menimpa dirinya. Kemudian dia menceritakan bahwa beberapa vampir yang sedang mengendarai jetski tiba-tiba melepaskan tembakan padanya dan beberapa temannya saat hendak akan memancing di laut. Beruntung bagi Cathuman itu, dia bisa lolos karena sempat tertinggal.

"Kurang ajar! Kali ini mereka tidak bisa dimaafkan lagi!" ujar Cassandra geram.

Thomas berinisiatif membawa Cathuman muda tersebut untuk masuk dan beristirahat agar dapat menenangkan diri. Sementara Cassandra langsung menoleh ke arah Diky dan Dimas dan berucap, "Aku mohon, Tuan-Tuan sekalian. Tolong bantu kami lagi demi melawan vampir bajingan itu."

Dimas seketika bungkam karena kebingungan. Di satu sisi, dia tidak bisa membiarkan apa yang menimpa ras Cathuman. Namun di sisi lain, lelaki itu tidak tahu bagaimana caranya agar bisa melawan vampir. Terlebih, keberadaan mereka saat ini sama sekali tidak diketahui olehnya. Dimas langsung menoleh ke arah Diky dan bertanya, "Bagaimana, Diky? Apa kamu punya rencana?"

Diky menempelkan tangan ke dagunya dan berpikir sejenak. Seketika sebuah ide terlintas dalam benak laki-laki itu. "Sepertinya kita harus menginterogasi vampir-vampir yang kita tangkap kemarin. Mungkin saja mereka bisa memberi informasi lebih lanjut."

Dimas dan Cassandra setuju dengan ide barusan. Kemudian Cassandra membawa Diky dan juga Dimas menuju sebuah penjara bawah tanah, yang berada di sekitar utara desa. Setibanya di sana, Diky menatap tajam ke arah para vampir dan bertanya apa yang sebenarnya mereka inginkan dari invasi beberapa hari sebelumnya. Namun, salah satu dari vampir hanya melempar senyuman bernada sinis, lalu meludah tepat di hadapan Diky.

"Aku tidak sudi memberitahu makhluk rendah sepertimu, hei manusia tengik!"

Diky berusaha tetap tenang, walau amarah seketika bergejolak hebat dalam batinnya. Dia terus memberikan tatapan tajam, lalu menengadahkan tangan kiri seraya mengumpulkan tenaga sihirnya. Tak berselang lama, sebuah bola api berdiameter lebih dari sepuluh sentimeter muncul dan melayang tepat di telapak tangan lelaki itu, seakan siap untuk membakar apapun yang mengenainya.

"Jika tidak mau bicara, silakan saja. Aku tidak akan segan-segan membakar kalian semua," ujar Diky dengan ekspresi mengintimidasi.

Seketika para vampir tercengang. Mereka sangat terkejut melihat manusia di hadapannya ini mampu mengeluarkan api yang sangat besar, tanpa bantuan alat sama sekali. Seolah-olah apa yang dilakukan Diky barusan adalah sihir, yang tidak ada di Navanea.

"Kau! Ke-kenapa kau bisa menggunakan sihir?!" tanya vampir yang sombong sebelumnya dengan penuh ketakutan.

Melihat ekspresi ketakutan para vampir membuat batin Diky merasa puas. Dia menyeringai lebar agar dapat terus mengintimidasi lawannya itu. "Tidak usah banyak tanya. Cepat jawab, atau aku bakar kalian semua!"

Keadaan seolah berbalik. Nyali para vampir tersebut kini tampak ciut bak ketakutan setengah mati akan ancaman barusan. Diky melempar senyuman bernada sinis lalu mulai menanyakan alasa mereka menyerang desa. Para vampir berdalih mereka melakukan semua itu atas perintah atasannya, Sersan Kepala Robert Wellington.

Diky seketika tertegun. Ia sama sekali tak menyangka, bahwa vampir-vampir yang ditahan tersebut rupanya anggota militer aktif. Terpancing oleh rasa penasaran, Diky kembali menginterogasi mereka lebih lanjut. Menurut pengakuannya, para vampir tersebut adalah anggota Unit 361 yang sengaja melarikan diri saat bertugas atas perintah pemimpinnya. Selama masa desersi, ia memerintahkan anak buahnya untuk merompak kapal sipil dan juga menyerang kota-kota untuk mendudukinya dengan persenjataan yang dimiliki. Setelah itu Robert bertingkah bak pemimpin bajak laut yang kejam. Dia meminta penduduk kota yang ia kuasai agar memberikan seluruh hartanya sebagai pajak, dan juga gadis-gadis cantik untuk memuaskan nafsu sang Sersan.

(Moved to Karyakarsa) Navanea, 300 Years AfterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang