017: Rencana Aliansi (Bagian 1)

1 1 0
                                    

Kedua Cathuman itu seketika bersiaga. Bahkan Cathuman pria yang akan hendak menyerang sebelumnya tak segan untuk menodongkan senapan AK-47 ke arah Diky. Lelaki itu refleks mengangkat kedua tangannya dan berkata, "Hei, hei. Aku ke sini tidak bermaksud buruk."

Cathuman pria itu terus menodongkan senjatanya lalu berujar, "Kau ini manusia, bukan? Tidak usah ikut campur urusan kami!"

"Benar sekali. Lebih baik kau pergi saja!" ujar Cathuman wanita menimpali.

Diky hanya tersenyum sinis, lalu tertawa bernada mengejek. "Apa Cathuman selalu memperlakukan seseorang yang ingin menolong seperti ini, hah?"

"Hah? Apa maksudmu ingin menolong?!" tanya Cathuman wanita.

"Aku dengar Amberhorn sedang dikuasai oleh sekumpulan vampir. Jadi, aku ke sini untuk memeriksa keadaan dulu."

Muak mendengar manusia di hadapannya hanya membicarakan hal yang tak penting, seketika membuat lonjakan amarah Cathuman wanita itu tak terbendung lagi. Seketika ia mengeluarkan pistol dari sarung lalu mengarahkannya ke kepala Diky. "Bukannya sudah aku bilang, tidak usah ikut campur urusan kami!"

Diky menjelaskan alasan lain kedatangannya untuk menolong Emily, putri Wali Kota, atas permintaan Cassandra. Tak pelak Cathuman wanita itu terkejut sekaligus keheranan bukan main. "Cassandra? Maksudmu Cassandra Thorns, anak angkat Tetua Thomas?"

Diky langsung mengangkat sebelah alisnya, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Hah? Jadi, dia bukan anak kandung Pak Thomas?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Jika tak ada urusan lain, cepat pergi dari sini!" ujar Cathuman lelaki sembari menodongkan senjatanya.

Seketika Diky memegangi dadanya yang sesak secara tiba-tiba. Tidak hanya itu saja, tubuh lelaki itu menjadi lemas hingga kakinya bergetar hebat dan nyaris hilang keseimbangan. Beruntung, dia langsung memegangi tembok di dekatnya sehingga tidak langsung terjatuh.

Panik, Cathuman wanita itu langsung mendatangi Diky dan memeriksa keadaannya. "Hei, hei. Kau ini kenapa?"

Diky mengusap dada sembari mengatur napasnya yang berat. "Aku hanya kelelahan setelah menggunakan sihir terlalu lama," jawabnya setelah dirasa sedikit lebih baik.

"Sihir? Maksudmu saat kau menghilang tadi juga sihir?" tanya Cathuman pria.

Diky hanya mengangguk sesaat lalu duduk ke lantai. Cathuman wanita itu bergegas memasuki terowongan lebih dalam tanpa berkata apa-apa, seakan sama sekali tidak menunjukkan rasa iba. Sedangkan Cathuman pria menyarankan Diky untuk beristirahat dan segera pergi setelahnya.

"Kalau mau, kenapa kita tidak bersekutu saja untuk menghadapi vampir sialan itu?" usul Diky.

"Hah, apa maksudmu?" tanya Cathuman pria.

Diky menceritakan secara detail pertarungan dalam merebut desa di sekitar selatan Amberhorn. Tak pelak Cathuman pria itu dibuat kagum, namun ada sedikit rasa keraguan dalam hatinya. "Aku masih belum percaya denganmu. Apa kau tidak bohong?" tanyanya serius.

"Untuk apa aku bohong? Kalau tidak percaya, aku akan mengantarmu ke desa dan menemui Pak Thomas."

Cathuman pria itu menggaruk kepalanya dengan senyuman canggung. "Aku rasa itu sedikit sulit. Vampir-vampir sialan itu belakangan ini mulai memperketat penjagaan."

"Kalau mau, aku bisa mengantarmu ke sana tanpa harus keluar dari sini."

Cathuman wanita tersebut kembali dengan raut wajah kesal seraya memberi tatapan tajam. "Oi, oi, oi. Sampai kapan kau terus mengobrol? Kita masih banyak pekerjaan!" hardiknya pada Cathuman lelaki itu.

(Moved to Karyakarsa) Navanea, 300 Years AfterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang