Prolog

28.9K 782 660
                                        

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Halo Alsha Squad! Ketemu lagi dengan kisah Alvaro & Shabira versi terbaru.

Untuk alur dan konflik sama saja. Tetapi ada beberapa perubahan scene, dialog, narasi dan tambahan scene.

Sebelum baca Prolog nya. Kita lihat trailernya dulu 👇🏻

Dan ini dia tokoh visualnya. Kalian bebas bayangin siapa aja 👇🏻

Firgaaa (Selebgram Indonesia) as Shabira Deiren Umzey🤍

Chen Zhe Yuan (Aktor Drachin) as Alvaro Danendra Pratama🤍

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chen Zhe Yuan (Aktor Drachin) as Alvaro Danendra Pratama🤍

Chen Zhe Yuan (Aktor Drachin) as Alvaro Danendra Pratama🤍

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

HAPPY READING BESTIE 🦋✨

----------------------------------------------------------

Weekend selalu menjadi waktu favoritku untuk menikmati hidup dengan cara yang berbeda—bukan dengan duduk manis di rumah atau berbelanja di mal, tapi dengan menekan gas mobilku, mendengar raungan mesin, dan merasakan hembusan angin yang bebas. Bersama Black Glory—geng mobil balap liarku, kami menguasai jalanan Frankfurt.

Mobil-mobil kami berderet seperti barisan kesatria baja, siap menantang dunia. Aku dan Nicko—sepupuku dari pihak Mama yang seumuran denganku—memimpin di depan, melesat di jalanan Frankfurt dengan BMW M8 Grand Coupe hitam kesayanganku.

Setelah Sunmori berakhir, aku memilih berpisah dengan Nicko dan anggota Black Glory yang lain untuk pergi ke suatu tempat yang sering ku kunjungi ketika sendirian di kota ini yaitu Sungai Main.

Aku pun memarkir mobilku di tepi Sungai Main. Hembusan angin Oktober membawa aroma musim gugur yang menenangkan. Sungai Main kali ini tampak jauh lebih indah dilihat. Sehingga bibirku tertarik untuk tersenyum melihatnya. Karena merasa lelah berjalan-jalan di pinggir sungai, aku memutuskan duduk di bangku taman, memandangi air yang berkilauan diterpa cahaya matahari sore hari.

Melihat pemandangan sungai yang indah ini, rasanya aku ingin mengobrol dengan seorang pria yang sudah ku taksir dari lama, lebih tepatnya sejak usia dua belas tahun di bangku sekolah dasar kelas enam. Bahkan sampai sekarang berusia dua puluh lima tahun pun aku masih mencintainya.

Entah sudah berapa kali aku terang-terangan menyatakan perasaanku padanya, baik secara langsung ataupun lewat chat. Namun, dia selalu menganggapku seorang adik dan tidak lebih. Bisa dibilang aku terjebak di fase adik-kakak zone, sungguh menyebalkan memang.

Sejenak, aku merogoh ponselku dari jaket kulit hitam yang ku kenakan, lalu membukanya. Jam di ponselku menunjukkan pukul tiga sore, yang berarti di Jakarta sudah pukul delapan malam. Perbedaan waktu antara Frankfurt dan Jakarta adalah lima jam lebih lambat saat musim panas. Sementara, jika musim dingin, selisihnya menjadi enam jam.

Jemariku pun langsung mencari kontak favorit—My Future Husband, yang sudah terlalu sering aku hubungi.

Tidak butuh waktu lama sampai aku menekan tombol video call. Seperti biasa, panggilanku tidak dijawab pada percobaan pertama. Aku mencoba lagi, dan akhirnya tersambung.

Aku pun mencoba tersenyum manis berharap dia akan tersenyum juga menatapku, tetapi senyumanku memudar ketika yang terlihat hanya tembok putih. Entah sudah berapa kali, ketika aku melakukan panggilan video call pasti kameranya selalu diarahkan ke tembok atau ditutupi sesuatu.

"Halo! aku mau ngobrol sama manusia ya, bukan sama tembok!" keluhku seraya mencebikkan bibir.

Hening. Tidak ada suara apapun. Tentunya membuatku semakin kesal.

"Assalamualaikum! Hello, is there anyone?" Aku mendengus kesal.

"Wa'alaikumussalam ada, kenapa Sha?" balasnya tanpa memperlihatkan wajahnya.

"Show me your face! Masa Abang doang yang lihatin wajah Sha?"

"Aku nggak lihat wajah kamu kok. Handphone nya sengaja aku letakan di rak buku, dan kameranya diarahkan ke tembok. Aku cuma lihatin buku-buku doang."

Aku menepuk jidat. Bisa-bisa nya dia mengangkat panggilan video call ku, tetapi yang dilihat hanya buku ketimbang dengan wajahku.

"Kenapa sih, Bang? Nggak mau lihat wajah Sha? Sha jelek ya? Atau karena Sha nggak berhijab?" Pertanyaan ini sudah lama ingin aku tanyakan. Setiap kali aku video call, selalu di-reject. Sekalinya diangkat, pasti kameranya diarahkan ke tembok atau ke tempat lain. Padahal, aku hanya ingin melihat wajahnya, apalagi sudah enam tahun kami tidak bertemu. Selama itu, aku hanya bisa memandangi fotonya saja.

Terdengar helaan napasnya. Kemudian dia berkata, "Sha, mau bertemu langsung ataupun tidak, aku hanya ingin menjaga pandangan dari yang bukan mahram. Sebenarnya, aku nggak mau mengangkat panggilan video call ini, tapi karena takut penting, jadi terpaksa aku angkat."

Aku terdiam sejenak, merenungi perkataannya. Dia memang lelaki yang cukup paham agama, sedangkan aku ... jauh dari kata salihah. Aku memang belum ada niat untuk memakai hijab, meski orang tuaku selalu menasihati untuk berhijab. Namun, aku belum siap memakainya.

"Sha, alasanku tidak pernah menatap wajahmu bukan karena kamu tidak cantik, tetapi, aku hanya takut menikmati sesuatu yang belum menjadi hakku."

Aku tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu, nikahi aku saja. Aku ikhlas ridho lillahita'ala menjadi istri kamu. Abang Al, mau nggak jadi suami aku?"

Pria itu langsung memutuskan panggilan video call dariku. Meskipun dia belum mencintaiku, aku tidak akan menyerah. Sebab dalam kamus hidup seorang Shabira Deiren Umzey dilarang pantang menyerah menaklukkan hati Alvaro Danendra Pratama sebelum janur kuning melengkung!

_Pelabuhan Hati_
📝Nur Hoiriah
📄Kuningan, 2 Desember 2023
Publish ulang : 10 Juni 2025

Bestie, gimana prolog nyaaa?

Seru gak? Huhu semoga ngefeel yaa😭🤍

Penasaran dengan Bab 1 nyaa??

Vote dan komentar yang banyak yaa!

Mohon untuk dukung cerita ini dengan memberikan vote dan komen.

Jangan lupa follow akun IG @alshasquad_ dan @nurhoiriah16_ untuk info cerita ini dan terbitnya. Insya Allah mau terbit. So, jangan lupa nabung yaa..

Makasih udah berkenan baca cerita Shabira🤗

Jangan lupa baca Al-quran 🤍

Pelabuhan Hati [SUDAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang