Bab 8 : Di Balik Kebahagiaan

4.5K 357 300
                                        

Sebelum baca ceritanya pastikan untuk selalu vote dan komen di setiap baris kalimat. Biar aku semangat untuk melanjutkan cerita ini yaaa bestie🤍

Happy Reading 🤍

-------------------------------------------------------------

"Ketika kita sakit hati atas perkataan orang lain, pada saat yang sama Allah ajarkan kita untuk menjaga perasaan orang lain."

Anonim

🕊🕊🕊

Setelah seminggu menjadi pemilik butik FA Clothing, aku semakin merasa nyaman meskipun masih banyak yang harus dipelajari. Hari ini, aku dan Tante Widya sedang bertemu dengan Ibu Tita, pemasok kain, untuk membahas desain abaya baru. Kami sepakat untuk menggunakan kain jetblack premium untuk abaya terbaru dengan desain limited edition. Setelah rapat selesai, aku merasa lega dan kembali fokus pada bisnis.

Siang harinya, aku memutuskan untuk memberi kejutan dengan mengunjungi kantor Bang Al. Kami sudah sepakat menikah bulan depan, dan semua persiapan sudah hampir selesai. Aku berharap bisa mengejutkannya, tetapi saat aku tiba di lantai 25, ada sesuatu yang tak terduga. Seorang wanita keluar dari ruangannya dengan senyum menggoda dan berkata, "Bye, Al Sayang."

Jantungku seolah berhenti berdetak. Rasa sakit dan cemburu menghantamku. Aku mencoba tetap tenang, tetapi perasaan kecewaku begitu mendalam. Aku melangkah maju ke pintu ruangannya, tetapi Bayu menghalangiku dan menyuruhku menunggu. Aku tak sabar, akhirnya aku memutuskan untuk membuka pintu sendiri.

Di dalam, Bang Al berdiri membelakangi pintu, menggosokkan tisu basah ke kemejanya yang putih. "Bay, bekas lipstik nggak hilang-hilang nih!" katanya, kesal.

Aku terpaku, hatiku sakit. "Bekas lipstik siapa?" tanyaku lirih.

Bang Al berbalik, terkejut melihatku. Sebelum dia sempat bicara, aku memilih pergi. Dia memanggilku, tapi aku terus berjalan, menyeka air mata yang mulai mengalir. Saat tiba di depan lift, pintunya terbuka, dan Elvano muncul.

"Shabira, lo kenapa?" tanyanya dengan nada khawatir.

Aku buru-buru menghapus air mata. "Aku nggak apa-apa, El."

Teriakan Bang Al terdengar lagi, memanggilku. Aku dan Elvano menoleh bersamaan, melihatnya berlari mendekat.

"Bang Al nyakitin lo?" tanya Elvano dengan sorot mata tajam.

Aku menggeleng, tak ingin memperkeruh suasana. Namun, Elvano tidak puas. Saat Bang Al sudah di depan kami, tanpa peringatan, Elvano menampar pipi kirinya dengan keras. Aku terkejut, tak percaya Elvano melakukan itu. Sementara Bang Al hanya diam, memegangi pipinya. Tatapannya tidak marah, hanya tenang. Dia bahkan tidak membalas.

"Nih kunci mobil lo! Thanks!" Elvano melempar kunci ke arah Bang Al, yang hanya menunduk mengambilnya.

"El, kenapa kamu tampar Bang Al? Dia Abang kamu sendiri! Kamu keterlaluan!" seruku marah.

"Dia lebih keterlaluan, Sha!" Elvano menatap Bang Al tajam. "Kalau dia nyakitin lo lagi, gue nggak akan tinggal diam!"

Tanpa menunggu jawaban, Elvano masuk ke lift yang terbuka. Aku berbalik pada Bang Al, menatapnya khawatir. "Bang Al, kamu nggak apa-apa?"

Pelabuhan Hati [SUDAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang