PASTIKAN UNTUK SELALU VOTE DAN KOMENTAR DI SETIAP BARIS KALIMAT. BIAR AKU SEMANGAT MENULIS CERITA INI.
HAPPY READING BESTIE🤍
--------------------------------------------------------
Salah satu cara meningkatkan iman dan taqwa paling mudah ialah dengan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.
— Alvaro Danendra Pratama —
🕊🕊🕊
Tepat pukul 17.05 sore, aku, Grandma, Uncle David, Aunty Tiffany serta Nicko dan Nadeline baru saja tiba di bandara Soekarno-Hatta. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 16 jam di pesawat, akhirnya kami sampai juga.
Selama di pesawat aku terus saja menangis sampai mataku membengkak. Berharap ini mimpi buruk, akan tetapi nyata. Dan aku belum siap kehilangan Mama.
"Sha, don't cry anymore. You must be strong." Grandma berkata seraya mengelus tangan kananku yang digenggam olehnya. Sejak dari pesawat tanganku tidak pernah lepas dari genggaman Grandma. Dia yang selalu menguatkanku.
Grandma memang asal Indonesia, tetapi karena sudah lama tinggal di Jerman, dia selalu berbicara menggunakan Bahasa Inggris atau Jerman denganku. Bahasa Indonesia pun hanya di momen-momen tertentu saja.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Kemudian menyeka air mataku, lalu membetulkan kaca mata hitam yang sejak tadi bertengger di hidungku untuk menutupi mata bengkak.
Terlihat Pak Yanto yakni supir pribadi Papa datang menjemput kami menggunakan mobil Alphard berwarna hitam. Kami pun langsung bergegas menghampiri. Pak Yanto memberitahu kami bahwa Papa sudah menunggu di tempat pemakaman Mama, lantas aku, dan yang lainnya memasuki mobil.
Selama perjalanan menuju tempat pemakaman Mama. Pandanganku tidak lepas melihat lalu lalang kota Jakarta dari kaca jendela mobil. Seketika aku teringat kenangan video call bersama Mama kemarin.
"Sha, Mama boleh minta permintaan?"
"My pleasure."
"Mama minta dalam kondisi apapun hidup yang kamu jalani, kamu harus tetap menjadi perempuan yang kuat, dan sabar seperti arti dari namamu Shabira. Mama juga nggak mau lihat Sha menangis, kecuali menangis bahagia. Jadi, kamu harus tetap tersenyum bahagia dan selalu ceria. Jangan menangis ya, harus tetap tersenyum manis."
Seketika bibirku tertarik untuk tersenyum ketika mengingat percakapan itu. Bayangan wajah Mama tersenyum dengan bibir pucat pasi, pipinya yang semakin tirus, serta tubuhnya yang semakin kurus terekam jelas di ingatanku. Meskipun kondisi tubuh Mama tidak sehat seperti dulu, tetapi Mama sangat terlihat cantik di mataku. Kecantikannya dari dulu tidak pernah hilang.
Tidak terasa mobil yang ku tumpangi telah sampai di tempat pemakaman umum. Aku dan yang lain langsung keluar mobil. Terlihat Papa sedang berjongkok di dekat makam Mama. Lantas aku langsung berlari menghampirinya.
"Papa ...." panggilku dengan lirih.
Papa menoleh ke arahku. Kemudian dia langsung berdiri dan berhambur memelukku. Aku pun langsung menangis di pelukannya.
"Sha, kangen sama Mama ... Sha nggak mau kehilangan Mama ...." Aku berkata seraya terisak menangis di pelukan Papa.
"Yang kehilangan Mama bukan kamu saja Sha, Papa juga. Ini semua sudah takdir Allah, sabar dan ikhlaskan Mama, ya?" balas Papa sembari mengelus punggungku. "Sekarang Mama udah nggak ngerasain sakit lagi, Sha nggak boleh nangis. Kasihan Mama, udah ya, jangan nangis," lanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelabuhan Hati [SUDAH TERBIT]
SpiritualTersedia di Gramedia | Spin-off Takdirku Kamu 1 & 2 | Romance - Islami Shabira Deiren Umzey berhasil menikahi pria yang selama ini ia cintai-meski lewat perjodohan. Baginya, pernikahan itu adalah anugerah. Tapi tidak bagi Alvaro Danendra Pratama. Di...
![Pelabuhan Hati [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/351029258-64-k533016.jpg)