Bab 6 : Perfect Day

4.7K 377 220
                                        

Apa yang menjadi milikmu, akan menemukanmu.

— Ali bin Abi Thalib —

🕊🕊🕊

Kabar bahwa aku dijodohkan dengan Bang Al membuatku semangat menjalani hari. Meski belum tahu apakah Bang Al menerima perjodohan ini, aku terus berdoa agar Allah mempermudah jalan kami.

Semalam, aku mengambil keputusan besar—mengundurkan diri dari Black Glory. Aku sudah menyampaikan keputusan ini kepada Nicko lewat telepon. Dia sempat kecewa, tapi akhirnya mengerti.

Pagi ini, aku memulai langkah baru dengan berhijab, meskipun belum sepenuhnya menutup dada. Saat Papa melihatku berhijab untuk pertama kalinya, senyumnya begitu lebar hingga aku merasa haru. “Papa bangga sekali sama kamu, Sha,” katanya.

Tak hanya Papa, Elvano juga memujiku pagi tadi ketika dia hendak menjemputku untuk pergi ke mal. “Masyaallah kamu cantik banget pakai hijab. Semoga istiqomah ya.” Begitulah perkataanya.

Kini aku berada di mobil bersama Elvano, dalam perjalanan ke mal. Setelah memarkir mobil, dia membukakan pintu untukku. “Thanks, El,” ucapku sambil tersenyum.

My pleasure,” balasnya santai.

Kami menuju lift, dan Elvano mulai bernostalgia. “Udah lama ya, kita nggak jalan berdua kayak gini.”

Aku mengangguk. “Terakhir itu kelas tiga SMA, pulang sekolah langsung nonton bioskop. Masih ingat?”

"Of course. Gue nggak pernah lupa kebersamaan kita," katanya. Aku tersenyum tipis, termasuk kebersamaanku dengan Bang Al, pikirku.

Di mal, Elvano mengajakku ke Timezone. Kami memulai dengan Pump It Up, saling berlomba mengikuti irama layar.

“Shabira, semangat!” serunya.

“Kamu juga! Never give up!” balasku dengan tawa.

Usai itu kamu memutuskan lanjut ke permainan basket.

“Kalau lo menang, gue traktir makan. Kalau gue menang, lo yang traktir,” tantangnya.

“Siapa takut!” jawabku penuh percaya diri.

Kami pun bermain serius, tapi akhirnya aku yang menang.

Elvano tertawa sambil mengangkat tangan menyerah. “Baiklah, gue traktir. Pilih tempat makan, Sha!”

“Aku pengin sushi,” kataku tersenyum.

“Oke, let’s go!” Kami pun meninggalkan Timezone dengan tawa, menikmati kebersamaan yang sederhana, tetapi penuh arti.

Baru saja memasuki restoran sushi, mataku langsung tertuju pada meja di sebelah kiri dekat pintu masuk. Di sana Bang Al duduk bersama Kiara dan seorang pria yang tak kukenal.

"Kak Sha! Kak El!" seru Kiara riang sambil melambai. "Gabung sini!"

Aku tersenyum lebar. "El, yuk gabung sama mereka!"

Elvano menghela napas. "Kita cari tempat lain aja, Sha."

"Loh, kenapa? Itu ada Kia sama Bang Al. Atau kamu nggak suka sama cowok di sebelah Bang Al?" tanyaku, penasaran.

Pelabuhan Hati [SUDAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang