Bab 7 : Lamaran

4.8K 364 201
                                        

Hi Bestie, jangan lupa baca versi AU nya ya di IG @alshasquad_ dan di Tiktok @nurhoiriah16_ versi AU sedikit berbeda.

Sebelum baca bab ini, jangan lupa vote terlebih dahulu.

Sudah? Makasih🤍

Happy Reading🤍

--------------------------------------------------------------

Ya Rabb, Engkau Maha Pembolak-Balik hati. Bukakan dan luluhkan hatinya, agar ia mampu mencintaiku seperti aku mencintainya.

Shabira Deiren Umzey 

🕊🕊🕊

Aku tersenyum menatap pantulan diriku di depan cermin. Outfit serba hitam adalah favoritku—kemeja polos hitam yang dibalut blazer hitam, dipadukan dengan rok span panjang hitam, serta pashmina senada. Elegan dan profesional.

"Masyaallah, you're so beautiful, Shabira," pujiku pada diri sendiri, sebelum mengenakan kacamata hitam.

Setelah memeriksa jam dinding yang menunjukkan pukul 09.30 pagi, aku segera mengambil tas selempang hitam dan kunci mobil mendiang Mama yang selalu tergeletak rapi di atas meja. Saat menuruni tangga, Bi Nunung yang sedang menyapu menghentikan aktivitasnya, lalu tersenyum.

"Masyaallah, Non Shabira, cantik banget hari ini!"

"Really?" Aku membalas dengan senyuman.

"Iya, Non Shabira mah dari dulu selalu cantik."

Aku tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. "Bibi bisa saja. Oh ya, jangan lupa beli bahan-bahan buat masak nanti malam, ya."

"Siap, Non!"

Aku pun pamit, kemudian memasuki mobil BMW M3 Competition putih, lalu melajukan kendaraan menuju butik FA Clothing. Jalanan yang lengang membuatku tergoda untuk menambah kecepatan. Angin seakan-akan memanggilku kembali ke dunia balapan, sesuatu yang dulu selalu membuat adrenalinku terpacu. Namun aku menahan diri. Hari ini bukan tentang kecepatan melainkan ini tentang tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Kini aku sudah tiba di butik FA Clothing, warisan Mama. Butik itu sudah direnovasi menjadi tiga lantai—hasil kerja keras Mama dan timnya. Sesampainya di sana, aku disambut hangat oleh Tante Widya, kepercayaan Mama, dan tim butik.

"Welcome, Bu Shabira!" seru mereka penuh semangat.

Aku tersenyum senang. "Salam kenal semuanya. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai Mama saya, ya.”

Kemudian Tante Widya memperkenalkanku pada Mbak Rena, manajer pemasaran, dan Mbak Tania, sekretarisku. Setelah berbincang singkat, Tante Widya mengajakku ke ruangan logistik di belakang butik. Gudang itu lebih luas dari yang aku ingat, dipenuhi pakaian yang sedang dipacking oleh beberapa karyawan.

"Masyaallah, alhamdulillah. Orderan online-nya banyak sekali ya, Tante," komentarku, terkesan.

"Alhamdulillah iya Sha, brand kita sedang banjir orderan online. Marketplace sangat membantu meningkatkan penjualan kita,” balas Tante Widya diakhiri senyuman.

Aku mengangguk, tersenyum puas. "Masyaallah, semoga semakin lancar ya, Tante."

Setelah itu, aku menuju ruangan Mama di lantai tiga yang kini menjadi ruanganku. Di sana, aku menemukan sebuah bingkai foto kami bertiga yakni aku, Mama, dan Papa. Foto penuh kebahagiaan itu membuat hatiku bergetar.

Pelabuhan Hati [SUDAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang