Bab 10 : Memendam Luka

5.1K 351 253
                                        

Pastikan sebelum baca, jangan lupa vote dan komentar nya ya. Jangan silent reader. Makasih🤍

Happy Reading🤍

--------------------------------------------------------------

Sekarang aku hanya bisa berusaha untuk selalu tersenyum dibalik kesedihanku. Biarlah luka dan sakit ini aku pendam sendiri, yang entah sampai kapan kamu akan mengetahuinya.

Shabira Deiren Umzey

🕊🕊🕊

Kami bertiga berdiri di hadapan dua makam yang berdampingan. Makam Kakek Farhan dan Nena Nafisa. Sudah setahun mereka berpulang, hanya selang sebulan.

“Kakek Farhan dan Nena Nafisa itu pasangan yang sangat menginspirasi Bunda,” ucap Bunda Ara, memecah keheningan.

Aku menoleh, mendengarkan penjelasannya.

“Mereka menikah karena dijodohkan, sama seperti kalian. Awalnya Nena Nafisa tak mencintai Kakek, tapi setelah menikah, cinta tumbuh di antara mereka. Ujian datang silih berganti, tapi mereka tetap saling menguatkan. Sehidup semati, kata orang.” Suara Bunda terdengar serak. Ia mengusap sudut matanya yang basah. “Kakek menyusul Nena di hari Jumat, hanya berselang satu bulan.”

Aku tercekat mendengarnya, sementara Bang Al hanya tertunduk diam, menatap rumput.

“Satu minggu lagi pernikahan kalian. Bunda harap, meskipun awalnya dijodohkan, kalian bisa saling mencintai karena Allah. Jadikan pernikahan ini sebagai ibadah, ya. Semoga kalian bisa menciptakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah,” lanjut Bunda, tersenyum lembut ke arah kami.

Aku mencuri pandang ke Bang Al, berharap mendengar tanggapannya. Namun, seperti biasa, ia hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis.

“Iya kan, Bang?” tanyaku, mencoba menghangatkan suasana.

Bang Al menoleh sekilas. “Iya.”

Jawabannya singkat, tapi cukup bagiku untuk tetap berharap. Aku menarik napas panjang, meyakinkan diriku sendiri. Semangat, Shabira! Enggak boleh nyerah!

***

Sepulang dari pemakaman, aku, Bang Al, dan Bunda Ara memutuskan salat dzuhur di masjid terdekat sebelum makan siang di restoran Lavender, yang sedang hits karena interiornya yang instagramable. Sesampainya di sana, kami memilih duduk di lantai dua yang lebih lega meski tetap ramai.

Kami memesan makanan dan minuman best seller, lalu aku bertanya, “Kiara jadi nyusul ke sini, Bun?”

“Sebentar, Bunda cek dulu,” jawab Bunda Ara sambil mengambil ponsel.

Namun, Bang Al lebih dulu menunjukkan chat dari Kiara yang membatalkan rencananya. “Dia masih sibuk cari referensi tesis,” katanya.

Bunda Ara mengangguk. “Tolong bilang Kia pulangnya jangan malam-malam, ya. Kalau bisa sebelum maghrib.”

Aku menambahkan, “Kia bawa mobil sendiri, kan?”

“Iya,” jawab Bunda Ara. “Dia memang lagi sibuk, tapi insyaallah waktu pernikahan kalian nanti, dia pasti luang.”

Obrolan berlanjut setelah makanan datang. Bunda Ara bercerita kalau setelah wisuda, Kiara berencana menikah dengan Daffa, sahabat Bang Al. “Minggu lalu mereka baru lamaran,” katanya.

Pelabuhan Hati [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang