Sebelum baca cerita ini aku minta tolong selalu support cerita ini dengan memberikan vote serta komentar boleh? Biar aku selalu semangat terus buat update.
Please jangan silent reader. Jangan pelit ngasih Vote. Aku harap kalian yang baca cerita ini bisa mengapresiasi apa yang aku tulis.
Kalau kalian pengen update cepet, setidaknya berikan vote dan ramaikan komentar. Makasih🙏
Happy Reading 🤍
--------------------------------------------------------------
Berharap boleh saja, tapi sewajarnya. Ingat Allah adalah sebaik-baik tempat kita berharap. Jangan sampai kamu berharap lebih pada manusia.
— Pelabuhan Hati —
🕊🕊🕊
Pagi ini aku mengantarkan Papa ke Bandara, dia hendak meeting dengan kliennya di Bali. Kini suara keberangkatan pesawat tujuan Bali pun mulai terdengar. Papa pun beranjak berdiri dari tempat duduknya. Namun, sebelum beranjak pergi, dia memelukku sebentar. Sudah satu minggu Mama meninggalkan kami, tetapi aku selalu merasa Mama ada bersama kami.
"Pa, pulang dari Bali jangan lupa bawain Sha cokelat," kataku masih di pelukan Papa.
"Okay, nanti Papa belikan." Kemudian Papa melepaskan pelukannya. "Sha, nanti malam, Papa mau bicara serius sama kamu," lanjutnya.
Aku terdiam sejenak memikirkan perkataan Papa yang hendak berbicara serius denganku nanti malam. Apa dia akan membahas soal balapan mobil liar? Bagaimana kalau dia marah besar? Oh My God! Aku hanya bisa pasrah saat ini.
"Papa mau bahas soal apa?" Aku bertanya dengan raut wajah bingung.
"Ini sangat penting buat masa depan kamu. Pokoknya tunggu Papa sampai rumah saja, ya. Nanti malam kita bahas," balasnya.
Aku pun mengangguk setuju. Terdengar lagi pengumuman keberangkatan menuju Bali. Lantas Papa langsung berpamitan denganku dan Pak Yanto. Setelah itu dia berlalu pergi, begitupun denganku dan Pak Yanto pergi menuju mobil.
"Pak Yanto, aku nggak mau langsung pulang ke rumah," kataku ketika Pak Yanto hendak membuka pintu belakang mobil. "I have an appointment to meet my friends," lanjutku.
"Baik Non, mau ketemu temannya dimana?" tanya Pak Yanto.
"Nanti aku kasih tahu, tapi sebelum pergi ke sana mampir dulu ke Ravin Cake ya, toko kue Bunda Ara," balasku.
Kemudian kami langsung masuk ke mobil, dan berlalu pergi.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam dari bandara. Kini aku sudah sampai di depan toko kue dengan tema dekorasi berwarna pink dan putih. Tulisan Ravin Cake terpampang di bagian pintu kaca depan toko.
Aku pun langsung masuk, mataku berbinar cerah ketika melihat banyak sekali jenis cake dengan berbagai varian di etalase kaca. Aku melihat beberapa varian cupcake yang terpajang di sana. Enam tahun tidak pernah ke sini, membuatku cukup kagum dengan usaha kue milik Bunda Ara ini yang berkembang pesat, dan memiliki banyak cabangnya.
Sejenak aku tersenyum ketika mengingat pertama kali Bunda Ara dan Ayah Arvin membuka usaha toko kue dari singkatan nama mereka yakni Ravin singkatan Nadira dan Arvin ini saat aku berumur 10 tahun. Dimana saat itu Bang Al menyuapiku red velvet cupcake buatan Bunda nya. Rasanya ingin kembali ke masa kecil, ketika Bang Al masih perhatian denganku, tidak cuek seperti sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelabuhan Hati [SUDAH TERBIT]
SpiritualTersedia di Gramedia | Spin-off Takdirku Kamu 1 & 2 | Romance - Islami Shabira Deiren Umzey berhasil menikahi pria yang selama ini ia cintai-meski lewat perjodohan. Baginya, pernikahan itu adalah anugerah. Tapi tidak bagi Alvaro Danendra Pratama. Di...
![Pelabuhan Hati [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/351029258-64-k533016.jpg)