Sebuah Pertemuan

24 1 0
                                        

Waktu memelesat cepat. Bulan-bulan panjang berjalan menyakitkan.

Kamala telah memasuki jenjang kuliahnya. Setelah melalui masa yang indah dan panjang di SMA, Kamala lulus di kampus ternama di Pulau Jawa. Ia memutuskan merantau. Mencoba peruntungan dalam menaklukkan ilmu dan jauh dari orang tua.

Sebenarnya, jarak antara Kamala dan Basma semakin dekat bukan? Mereka berada di satu pulau sekarang. Tapi sejak terakhir kali mereka bertemu, mereka tidak menjalin komunikasi lagi. Kamala setelah malam itu tetap berusaha menghubungi Basma. Namun entah kenapa tidak kunjung mendapat jawaban. Pun dengan Basma, ia sampai sekarang tetap memegang janjinya. Tetap memegang erat surat terakhirnya yang ia tulis ulang dengan perasaan yang lebih indah.

Surat-surat Basma juga masih disimpan rapi oleh Kamala. Diberikan wadah khusus. Di taruh di atas meja belajarnya sebagai tanda bahwa hingga saat ini Kamala masih mengingatnya dengan baik. Menanti jawaban Basma. Menanti surat terakhirnya.

Suatu pagi di kampus Kamala.

Kamala tengah berjalan di lorong kampus. Membawa setumpuk buku yang hendak ia baca di perpustakaan. Melewati beberapa lorong kelas. Hingga sampai di sebuah ruangan luas dengan hawa dingin. Tumpukan buku berbaris rapi di lemari.

Kamala duduk. Membuka satu buku puisi karya sastrawan terkenal yang sejak tadi ia bawa. Sampai di satu bab yang kelak jadi favoritnya.

Yang fana adalah waktu. Kita abadi

memungut detik demi detik,

merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa

"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu.

Kita abadi.

-Sapardi Djoko Damono

Kamala tersenyum tipis. Kita abadi?

Seorang pria duduk di seberang meja Kamala. Menaruh laptop dan beberapa tumpukan dokumen yang hendak ia kerjakan. Tersenyum hangat kepada Kamala.

Kamala membalas tersenyum. Melanjutkan membaca bukunya.

Satu jam tak terasa. Kamala menamatkan buku itu yang memang sudah lama dibacanya sejak dulu. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Mengemasi beberapa barang. Bersiap untuk pulang.

"Mbak, barangnya ada yang tertinggal," Seorang pria menegur. Dia adalah orang yang tadi duduk di depan Kamala. Menyodorkan barang yang dimaksud.

"Astaga, maafkan aku," Kamala mengambil barang itu. "Terima kasih, ya." Sedikit malu. Lalu segera melangkah menjauh.

Hari-hari awal perkuliahan berjalan cukup sibuk. Banyak tugas yang menumpuk dan arahan berbagai senior yang cukup melelahkan. Membaca buku di perpustakaan adalah salah satu upaya rehat Kamala. Karena setelah itu harus disibukkan lagi untuk mengejar berbagai deadline dan begadang tiap malam.

Hari berikutnya, di jam yang sama.

Kamala membawa buku baru yang baru saja ia beli. Sebuah novel karya penulis terkenal. Ia sedang menuju kursi yang menjadi tempat favoritnya di perpustakaan. Tapi, hei. Seorang pria itu telah duduk di depan tempatnya. Kembali mengerjakan tugas yang menumpuk.

Lima belas menit. Kamala mengeluarkan secarik kertas dari dalam tas. Ada hal yang hendak ia tuliskan.

Untuk Basma, dimanapun kau berada.

Aku saat ini dalam masa perantauan. Sejenak mungkin sebenarnya upaya pencarianmu. Aku merasa telah dekat sekali denganmu. Tapi sayangnya hingga detik ini tak kunjung kutemukan. Sebenarnya kau dimana? Ingatkah kau denganku? Mengapa hpmu masih tidak dapat kuhubungi. Sosial mediamu seolah menghilang. Sebenarnya kau kemana Basma?

Surat SenyumanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang