Sebuah Pertemuan Kedua

31 2 0
                                        

Hujan turun. Deras sekali. Padahal sejak di kereta tadi langit cerah-cerah saja. Tapi siang ini, tiba tiba seperti ada yang menumpahkan tinta hitam di langit. Semua mendadak gelap.

Basma memutuskan untuk pergi ke kampus itu. Siang ini juga. Ia memang tidak tahu apakah Kamala sedang ada di sana atau tidak. Apakah hari ini dia masuk atau tidak. Basma hanya nekat melakukannya. Harus datang hari ini juga.

Basma hendak memesan ojek online. Sialnya, baterai hpnya habis. Basma lupa mengisi ulang dayanya selama perjalanan. Berseru kesal.

Basma berinisiatif bertanya ke salah satu penjual makanan dekat stasiun. Penjual itu bilang jaraknya memang jauh. Dan hujan deras seperti ini sedikit sulit menumpang angkutan umum. Boleh jadi ada, tapi harus menunggu lama sekali.

Basma tentu tidak bisa menunggu selama itu. Sedari awal alasan ia mengambil keberangkatan pertama kereta supaya bisa datang lebih awal. Langsung pergi ke kampus. Menyerahkan surat terakhir. Mengakhiri permainan ini. Lalu menyatakan apa yang dirasakan Basma selama ini.

Basma mengucapkan terima kasih pada penjual itu. Bergegas pergi.

Lima menit. Di tengah derasnya hujan. Dari kejauhan terlihat sebuah truk besar. Maka tanpa pikir panjang, Basma berinisiatif untuk meminta tumpangan.

Basma melambaikan tangan. Truk itu berhenti tepat di depan Basma. Syukurlah.

"Ada yang bisa saya bantu, nak?" Seorang bapak-bapak. Mungkin sekitar umur empat puluhan. Dia bertanya dari balik kaca truk. Ada tiga orang di dalam ruang kemudi. Nampak penuh.

"Bolehkah saya menumpang, pak? Jika memang bapak melewati tujuan saya." Basma memohon.

"Kau mau ke mana, anak muda?" Teman lainnya bertanya.

Basma menyebutkan nama kampus.

"Oh, kampus itu memang dekat dengan jalur yang kami lewati. Tapi tidak melewati persis di dekatnya. Mungkin perlu berjalan sekitar sepuluh menit." Seseorang yang memegang kemudi memberitahu.

Basma mengangguk kencang. Ia tidak masalah. Walau harus melewati hujan ia benar-benar tidak masalah. Dia memang tidak membawa jas hujan, tapi setidaknya tasnya memilikinya. Melindungi segala keperluan. Melindungi surat itu.

"Tapi kami memohon maaf sebelumnya, nak. Kamu memang boleh ikut bersama kami. Tapi tidak ada ruang di dalam sini—"

"Aku akan naik di belakang. Bersama muatan truk ini." Basma memotong. Berbicara cepat.

"Kau betulan tidak masalah?" Bapak itu bertanya sekali lagi.

Basma menggeleng kencang, "Tidak, pak."

"Baiklah, sebentar aku akan membantumu naik." Bapak itu turun. Menutupi kepalanya supaya tidak mengenai air hujan.

Hal buruknya, muatan yang dimaksud tidak seperti yang Basma bayangkan.

Pintu muatan dibuka. Ada enam ekor kambing di sana bersama tumpukan makanannya. Baunya menyengat.

"Kau betulan tidak apa, anak muda?" Bapak itu berteriak. Mencoba mengalahkan suara hujan.

Basma menelan ludah.

"Hei, cepat putuskan! Hujan semakin menggila. Kau naik apa tidak?" Bapak itu memastikan untuk terakhir kalinya.

"Iya, pak. Saya naik!"

Maka perjalanan itu berjalan cukup menyesakkan. Entah dari baunya atau ruangannya. Basma duduk di pojokan. Menjauhi semua kambing yang pada akhirnya mendekat karena penasaran dengan sosok manusia ini.

Basma memakai masker, walau sebenarnya tidak berguna juga. Semua bau ini menyengat. Baik bau kotoran atau kambingnya sendiri. Ditambah dengan jalanan yang tidak mulus membuat kepalanya mual sekali. Ia hendak muntah.

Surat SenyumanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang