Satu bulan berlalu.
Perkembangan hubungan mereka cepat sekali. Hanan mulai terbuka soal kisah hidupnya, keluarganya, dan beberapa mimpinya. Termasuk soal ketertarikannya terhadap isu lingkungan yang menjadi alasannya mengambil jurusan itu.
Di akhir pekan, Hanan memberanikan diri mengajak Kamala menjelajahi pameran. Banyak sekali foto-foto terpajang dengan latar alam yang menakjubkan. Satu dua foto itu berhasil mencuri perhatian Kamala. indah sekali. Mereka sama-sama mengomentari foto yang mereka suka. Mencoba mencari maksud di baliknya. Memaknai segala hal di baliknya.
Sepulangnya dari pameran itu, Kamala berpapasan dengan teman sekelasnya di dekat rumah.
"Eh, halo, Kamala! Aduh, gimana kabarmu? Udah lama ga ketemu nih." Nindya menyapa. Malam itu bulan menggantung di langit malam.
"Nindya! Aduh, iya nih udah lama. Terakhir kita ketemu pas kelas luring tiga minggu lalu ya?" Kamala menjabat tangan Nindya. Mereka sejatinya kawan akrab.
"Ngomong-ngomong udah ketemu sama Hanan?" Nindya bertanya. Dia adalah teman yang dimaksud Hanan dulu.
"Oh, jadi kau yang memberi tahu namaku ke dia?" Mata Kamala memicing. Gurat wajahnya berubah serius.
Nindya salah tingkah, "Eh, bukan gitu. Ada alasannya, dia nanya terus soalnya. 'Yang ke perpustakaan kampusmu setiap siang hari itu siapa sih?' Ya aku jawab, 'Mana aku tahu, kan orang yang dateng ke perpustakaan itu banyak!'" Nindya bercerita.
"Tapi aku tahu yang dimaksud itu kamu ketika dia bilang, 'Yang selalu membaca semacam secarik kertas di perpus.' Ah, siapa lagi kalau bukan kamu bukan?" Nindya menunjuk Kamala.
Kamala tersenyum. Ia memang sering membaca kembali surat Basma.
"Ada hal yang harus kau ketahui tentang Hanan, Kamala." Nindya tersenyum. Ada satu rahasia kecil.
"Apa itu?" Kamala tertarik.
"Dia sebenarnya bukan dari kampus kita, lebih tepatnya dia di kampus dua."
Kamala tertegun. Kampus dua? Bukankah itu jaraknya jauh sekali dari kampus pertama?
Melihat wajah kaget Kamala, Nindya meneruskan ceritanya.
"Iya, kau tidak salah dengar. Hanan itu kampus dua. Dan kau tahu seberapa jauh jaraknya bukan?"
"Lantas mengapa ia bisa setiap siang bersamaku di perpustakaan dan sorenya menghabiskan waktu di taman?" Kamala merasa tidak percaya. Jika apa yang diucapkan Nindya benar, mengapa Hanan harus rela jauh-jauh datang ke kampus pertama untuk mencari 'ketenangan'?
"Sebenarnya pertanyaanmu mudah ditebak, Kamala. Tapi biar aku lengkapi ceritanya dulu. Setiap pagi dia memang mengikuti kelas di kampusnya. Lalu selepas itu selesai, dia menumpang bus kota untuk pergi ke kampus pertama. Dan kau tahu, dia lakukan ini hampir setiap hari untuk menemuimu. Berangkat pagi hari sekali agar tidak telat lalu mengerjakan semua tugas secepatnya supaya siang bisa langsung pergi ke kampus pertama untuk menemuimu. Dan malamnya sengaja pulang larut untuk bisa menemanimu di ujung senja. Itu yang kalian lakukan selama beberapa minggu ini bukan?"
Kamala menghela nafas. Dia tidak mengira Hanan akan berbuat sejauh ini. Kamala benar-benar tidak mempercayainya. Tapi hei, Nindya tentu tidak berbohong bukan?
"Hanan menyukaimu, Kamala. Aku harap kau mengetahui pengorbanannya hanya untuk menemuimu. Mengorbankan beberapa jam perjalanan pulang pergi untuk sekedar berbincang padamu tidak lebih dari tiga puluh menit di taman itu. Aku sering melihat kalian loh."
"Ada banyak kisah cinta di dunia ini, tapi sedikit dari mereka yang memilih berkorban segila ini untuk menempuh jarak yang jauh dan mengeluarkan uang ekstra hanya untuk seseorang yang disukainya." Nindya berkata serius. Setidaknya ia ingin membantu temannya.
Kamala tertegun. Semua ini, sungguh Hanan benar-benar melakukannya. Kamala bingung bersikap. Jauh di dalam hatinya, ia merasa iba dengan hal ini. Hanan menyukainya? Benarkah begitu? Lalu bagaimana dengan dirinya? Kamala mempertanyakan itu.
Setelah berbagai pertemuan singkat. Berbagai tawa dan cerita yang dibagikan diantara mereka. Jalan-jalan di pameran dan beropini atas kehidupan. Ternyata selama ini, Hanan menyukainya. Apa yang harus ia perbuat? Kamala sekali lagi mempertanyakan dirinya.
Maka esok hari, setibanya Kamala sampai di perpustakaan kampus. Melihat Hanan juga baru sampai dengan nafas terengah-engah. Sepertinya ia tadi berlari. Kamala mengajak Hanan bicara di luar. Tidak perlu ke perpustakaan dulu.
"Bisa kau jelaskan padaku maksud semua ini?" Kamala menatap Hanan serius.
Yang ditatap bingung. Hanan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa maksudmu, Kamala?" Hanan bertanya. Ia tidak tahu maksud ucapan Kamala. Apa ia berbuat kesalahan selama ini?
"Jelaskan padaku, kenapa kau rela jauh datang dari kampusmu untuk menemuiku barang sejenak? Membayar uang lebih yang semestinya buat kehidupanmu." Air mata mulai menetes. Kamala tidak tahan. Hanan terlalu berlebihan.
Hanan terdiam.
"Maafkan aku jika hal ini membuatmu menangis, Kamala. Aku memang gila dan maafkan aku soal itu. Mungkin tidak sebanding menghabiskan waktu beberapa jam pulang pergi hanya untuk satu jam membisu dan tersenyum di perpustakaan lalu tiga puluh menit berbincang di taman menikmati senja."
"Tapi bagiku, semua ini bermakna, Kamala. Aku entah setelah berapa kali terjatuh mulai bangkit. Aku mulai menemukan alasannya. Dengan hanya tiga puluh menit perbincangan itu, aku seperti mengerti bagaimana hidupmu dan apa yang akan kau lakukan tiga puluh tahun kedepan. Juga tiga puluh perasaan yang kau tanamkan dalam hatimu. Dan tiga puluh kisah yang telah kita ciptakan selama sebulan. Semua ini, membuatku belajar banyak hal. Termasuk belajar untuk menanamkan perasaan padamu." Hanan berbicara pelan di ujung. Ia benar-benar menyatakannya sekarang.
Kamala tersedu sedan. Tangisnya bertambah kuat.
Dua menit berjalan lengang. Tidak ada suara selain tangis Kamala.
"Kau tidak perlu melakukan itu, Hanan." Kamala sesenggukan. "Kau sungguh tidak perlu melakukannya. Tapi setidaknya, aku berterima kasih karena kau telah menemaniku selama ini."
Degup jantung Hanan bertambah kencang. Apa yang dimaksudkan Kamala dalam ucapannya?
Tapi siang itu, tidak ada pembicaraan tiga puluh menit di taman. Semua berjalan lengang. Kamala setelah membasuh semua air matanya. Tersenyum kepada Hanan. Ia melangkah pulang.
Kamala sungguh bingung dengan semua ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surat Senyuman
RomanceBasma mengeluarkan sepucuk surat. Ada tulisan "Untuk Kamala" di bagian depannya. "Surat? Untukku? Apa isinya?" Kamala mengecek surat itu. Memeriksa setiap sisinya. "Aku punya permainan menarik. Selama kita berada di tempat ini. Selama kita mengikut...
