Setelah semua yang terjadi, apakah Neuvillette menyerah?
Tentu saja tidak.
Meski begitu, apakah Neuvillette juga punya kesempatan?
Sayangnya, jawabannya juga tidak.
Sehari setelah ledakan, sebuah kasus baru masuk ke meja Neuvillette. Itu adalah kasus yang benar-benar berbeda dari kasus yang diselidikinya saat itu. Bukan soal pembunuhan atau penyelundupan, kasus tersebut adalah kasus gadis hilang yang terjadi di Fontaine.
Neuvillette tidak bisa terlalu lama menunda pengadilan atas tuntutan Severin. Sebelum muncul korban baru, ia harus menyelesaikan kasus pertamanya dengan segera dan memulai penyelidikan kasus lainnya.
Pagi itu juga, Neuvillette mengirim surat ke Benteng Meropide untuk membawa Wriothesley ke Opera Epiclese. Begitu sang tahanan tiba, persidangan kedua kasus mereka segera dimulai.
Berbeda seperti terakhir kali mereka bertemu, Wriothesley jauh lebih sehat dan penuh semangat menjalani hidup sekarang. Meskipun nampak sederhana, hal tersebut cukup membuat suasana hati Neuvillette membaik.
Wriothesley juga memberinya surat melalui Sigewinne yang turut menghadiri persidangan dengan alasan ingin memantau kesehatan sang narapidana. Dalam surat, pria itu bercerita kalau ia bertemu seorang tahanan bernama Deryl yang mengenal Severin. Neuvillette disuruh datang ke gudang yang dimiliki oleh Tuan Henry sebelum persidangan dimulai untuk mendapatkan bukti. Di sana ada loteng yang berisi penuh dokumen yang bisa membuktikan kalau Severin bersalah.
Rupanya Severin membakar gudang tak hanya untuk melenyapkan barang dagangan, tapi juga dokumen-dokumennya. Sayangnya semuanya lagi-lagi terlambat. Gudang itu hangus terbakar dan tidak ada lagi yang tersisa.
TAK! TAK! TAK!
Seperti biasa. Begitu hentakan tongkat terdengar, Neuvillette dengan resmi membuka persidangan.
Dari balkon tersangka, Wriothesley tersenyum lebar untuk menyapa sang Hakim Agung namun direspon dengan dingin. Awalnya ia tak ambil pusing. Ia pikir Neuvillette seperti itu untuk menjaga profesionalitasnya.
Tapi begitu Wriothesley mendengar hasil penyelidikan, mendengar bagaimana Neuvillette membacakan laporannya, seketika Wriothesley menegang. Ia menatap Severin di seberang balkonnya dan menyadari pria itu sama buruknya dengan tuan-tuannya.
Harusnya waktu itu Wriothesley juga membunuhnya. Harusnya ia menghajarnya lebih kuat sampai Severin tak lagi mampu melayangkan senyumnya yang menjijikkan.
Pantas saja Neuvillette terlihat jauh lebih dingin dari biasanya. Jelas Hakim Agung itu sedang melewati hari yang buruk. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang yang menjunjung tinggi keadilan namun tidak bisa berkutik sedikit pun.
Wriothesley kemudian bertanya pada Sigewinne yang menemani di sampingnya. "Apa yang para Garde itu lakukan? Apa mereka tidak membantu Neuvillette dalam penyelidikan?"
Sigewinne menggeleng pilu. "Monsieur Neuvillette berjuang sendiri dalam kasus ini."
"Apa? Lalu bagaimana dengan Gardemek?" Sebelum Sigewinne bisa menjawab, Wriothesley buru-buru meralat, "Oh ya, mereka hanya mesin petarung. Tidak punya otak."
Sigewinne kemudian mencubit lengan Wriothesley lalu berbisik, "Shh, Monsieur Neuvillette sedang membacakan hukumanmu."
"Tuan Wriothesley, apa kau mendengarku?" tanya Neuvillette dengan tegas.
"Ah, ya, Yang Mulia. Aku dengar."
Semuanya terjadi begitu cepat. Persidangan seolah hanya formalitas, tanpa ada perdebatan, dan berakhir sebelum Wriothesley sempat mencerna kemalangan dari akhir kasusnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cruel World with You in It [Wriolette]
FanfictionDibanding Wriothesley, anjing jalanan bahkan lebih tahu cara bertahan hidup. Mencabik tanpa belas kasih, mengais tanpa harapan pasti. Kriminal itu begitu menjijikkan sampai-sampai air tersuci di dunia tak akan mampu membersihkan noda di hatinya. "Ka...
![Cruel World with You in It [Wriolette]](https://img.wattpad.com/cover/353334267-64-k145572.jpg)