Surat yang disampaikan Neuvillette dengan tulisan latin nan indah membuat sirkuit otak Wriothesley tidak berfungsi semalaman. Selain apa yang dikatakan Sigewinne, surat itu juga berisi banyak sekali nasihat dari sang Hakim Agung.
Neuvillette memberi petuah agar Wriothesley menjaga sikapnya, mengontrol emosinya, dan menstabilkan mentalnya. Selama ini Wriothesley terbiasa menjadi bawahan dan merupakan sebuah tantangan besar jika ia ingin memimpin pergerakan untuk menghancurkan sistem yang sudah berjalan selama puluhan tahun lamanya.
Neuvillette tahu rintangan yang dihadapi Wriothesley. Pria yang juga sedang berjuang melawan kebusukan politik Fontaine itu memberi banyak nasihat agar Wriothesley tidak jatuh ke dalam jurang.
Wriothesley tidak tahu apakah ia harus terharu atau tertawa karena cara Neuvillette berbahasa seperti orang tua yang sedang mengomeli anaknya. Wriothesley sendiri tidak pernah merasakan kasih sayang dan kekhawatiran seorang ayah atau ibu sejak kecil. Matanya tanpa sadar jadi lembab selagi membaca kata demi kata yang ditujukan padanya.
Setelah membaca ulang surat Neuvillette untuk kesekian kalinya malam itu, akhirnya Wriothesley tertidur tanpa ada beban di hatinya.
Keesokan harinya, Wriothesley siap melaksanakan rencana selanjutnya. Sembari membujuk Leonard untuk berada di pihaknya, Wriothesley juga berniat membujuk pihak lain.
Pihak yang ia maksud adalah pihak bangsawan.
Selain Laurent dari keluarga Chevalier, ada dua bangsawan lain yang dijebloskan ke penjara di waktu bersamaan. Mereka adalah Martin dari keluarga Beaumont dan Bernard dari keluarga Dubois.
Ketika Wriothesley mendistribusikan obat-obatan terlarang dulu, ia tidak pernah tahu kalau mereka yang menggunakannya. Ia hanya mengirim pada budak yang mereka pekerjakan sehingga tidak pernah berbincang langsung dengan para bangsawan. Meski begitu, Wriothesley pernah bertemu mereka dalam beberapa pesta dansa ketika ia melayani para tamu undangan.
Tidak seperti Laurent, Martin dan Bernard bukanlah orang yang sulit. Selama ada keuntungan yang didapatkan, mereka bersedia untuk berbisnis dengan siapapun. Karenanya, Wriothesley optimis saat menghadapi mereka. Ia melangkahkan kaki dengan penuh percaya diri ketika menghampiri sel tahanan mewah mereka.
"Apa kabar, Tuan Martin dan Tuan Bernard?" sapa Wriothesley dengan senyum manis seperti serigala yang bertamu di rumah gadis berkerudung merah.
Mata kedua bangsawan terbelalak. Mereka yang sedang bersantai di atas kasur bulu angsa buru-buru duduk tegap dan merapikan pakaian mereka agar nampak bermartabat.
"Wriothesley!" Martin berteriak menegaskan siapa yang hadir di hadapannya. "Apa yang kau lakukan di sini?!"
Wriothesley masih menunjukkan senyumnya saat menjawab, "Bukankah keluarga Marseille dan keluarga Beaumont berkerabat? Aku hanya ingin beramah-tamah dengan kawan lama."
Martin tertawa. "Pengkhianat sepertimu bisa-bisanya masih membawa nama Marseille di hadapan kami."
Dengan santai, Wriothesley melangkah masuk ke kamar dan duduk di kursi makan. Ia mengabaikan baguette dan sup jamur, menu yang tidak mungkin disajikan kantin penjara, di atas meja dan fokus menatap kedua pria paruh baya di kanan kirinya.
Wriothesley berkata, "Enak sekali jadi orang-orang yang memiliki uang. Bisa tidur nyaman dan makan makanan lezat tanpa perlu bekerja keras."
Merasa dipuji, Martin seketika melupakan kekesalannya. Ia kini tertawa dan membanggakan dirinya. "Tentu saja. Terlahir sebagai bangsawan akan selalu menjadi pria terhormat meski berada di Benteng Meropide. Berbeda denganmu yang ditakdirkan sebagai budak. Mau membunuh tuanmu atau tidak, kau akan tetap menjadi sampah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cruel World with You in It [Wriolette]
FanfictionDibanding Wriothesley, anjing jalanan bahkan lebih tahu cara bertahan hidup. Mencabik tanpa belas kasih, mengais tanpa harapan pasti. Kriminal itu begitu menjijikkan sampai-sampai air tersuci di dunia tak akan mampu membersihkan noda di hatinya. "Ka...
![Cruel World with You in It [Wriolette]](https://img.wattpad.com/cover/353334267-64-k145572.jpg)