menyusun rencana 🍁

16 4 0
                                    

"Sialan."

Ria mengumpat karena untuk sekian kalinya ia terbangun di tubuh Astoria. Pelayan yang sedang membersihkan tubuhnya terkejut karena baru mendengar perempuan itu mengumpat.

"Hah, aku sudah menyerah dengan semua ini." Dia menghela nafas lelah.

"Nyonya, nyonya jangan mengatakan hal itu. Saya mohon, sesedih apapun nyonya karena tidak pernah di sentuh tuan, nyonya harus tetap hidup. Mungkin tuan masih belum siap untuk punya anak, makanya beliau selalu menunda-nunda hubungan kalian."

"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak sedang membicarakan itu." Ria kesal, tentu saja karena disalah pahami oleh pelayan itu yang menganggap dia stress karena tidak di sentuh tuannya.

"Pergilah, aku ingin sendiri."

"Saya takut nyonya melakukan hal berbahaya seperti kemarin." Si pelayan membantah dengan sopan. Tangannya dengan pelan terus mengelap punggung halus milik sang nyonya.

"Tidak, aku tidak akan melakukan itu lagi. Sekarang aku sudah sadar dan ingin hidup. Kali ini aku akan berpikir lebih jernih lagi, tenang saja. Aku ingin akan melakukan bunuh diri lagi." Ria melambaikan tangannya, mengusir pelayan itu. Dengan gerakan lamban dan ragu-ragu peluang yang lebih muda dari sebelumnya berbalik dan keluar.

"Akhirnya. Aku lebih lega sekarang. Baiklah, takdir jadi kau mencoba mempermainkanku, ya. Apa yang harus kulakukan padamu, takdir? Pertama-tama kau menghancurkan hari bahagiaku lalu sekarang kau mengirimku ke tubuh Astoria yang sebentar lagi akan mati. Hah dasar gila."

Ria memukul air hingga menciprat ke segala arah, membasahi lantai yang terbuat dari marmer. Perempuan itu kemudian bersandar pada bathtub dan memejamkan mata sambil menikmati aroma terapi di air yang merendamnya.

Cukup lama dia berada dalam posisi seperti sampai akhirnya dia tersadar, barulah dia keluar dari bathtub. Namun karena dia tidak hati-hati dan lantainya basah, Ria terpeleset dan kepalanya harus membentur bathtub yang terbuat dari keramik itu.

"Sialan sialan!" Dia mengumpat kesal karena kesialan yang dia alami. Mengambil handuk untuk membungkus tubuhnya, Dia berjalan dengan langkah kesal ke ruang ganti. Sampainya di sana ia harus menghela nafas lelah karena memakai baju di jaman kerajaan harus di bantu orang lain.

"PELAYAN!" Dia berteriak sangat keras. Dua pelayan masuk dengan panik dan segera berlari menuju Ria. "Bantu aku berpakaian," dengan nada tenang Ria menyuruh keduanya. Mereka tampak bingung, tapi tetap menurut.

Setelah berpakaian dan melarang mereka memakaikannya korslet, Ria menyuruh mereka menyiapkan makanan ringan dan menghantarkannya ke taman belakang karena dia akan menghabiskan waktu di sana sambil berpikir.

Beberapa saat setelahnya makanan yang dia mau datang, kedua pelayan segera pergi saat Ria menyuruhnya. Dia mencoret satu kalimat berisi rencana masa depan karena merasa rencana yang tertulis kurang matang.

Bagaimana kalau cerai dan kabur? Tidak. Jika dia mengajukan cerai tiba-tiba maka akan menimbulkan kecurigaan. Lalu kabur? Itu rencana yang bagus, tapi Ria belum tahu cara eksekusi rencana kaburnya.

Ria meletakkan penanya di meja, dia memangku kepala sambil menatap bunga mawar putih yang tumbuh subur di taman belakang. Ria sangat tahu jika bunga-bunga itu di tanam oleh Astoria dan dia tidak menyukainya sama sekali. Ria memandang bosan mawar-mawar putih di depannya lalu menatap langit cerah.

Seketika itu juga dia menemukan ide. Segera dia mengambil pena, baru dua kata yang dia tulis seseorang mengagetkannya dari belakang. Dia memegang dada, merasa jantungnya akan keluar lalu memandang kesal pada orang yang mengagetkannya. Namun dia terkejut saat melihat wajahnya, secepat mungkin dia mengubah ekspresinya, tersenyum manis dan perlahan menutup bukunya.

MENGHENTIKAN PEMBERONTAKAN.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang