Seharunya Astoria sudah pulang pagi ini, tapi hingga jam menunjukkan angka delapan pagi dan Ignatius sudah menyelesaikan pekerjaannya. Astoria belum juga terlihat.
Menyuruh Cozy menyiapkan kereta kuda. Ignatius berniat datang ke istana untuk menghantarkan berkas-berkas yang sudah dia kerjakan, sendiri. Tanpa di temani Cozy, Ignatius meninggalkan rumah menuju istana.
Dalam perjalanan, tak sengaja dia melihat pria berambut hitam bertudung dan memakai pedang. Jelas dia tahu siapa pria misterius yang sedang berbaur dengan orang-orang di sana, tapi Ignatius di buat terkejut saat melihat Astoria bersama pria itu. Dia menghentikan kereta kuda dan turun menghampiri mereka berdua.
Karena kecerobohannya, dia menjadi pusat perhatian orang-orang. Mereka menyapanya dan satu dua orang malah mengajaknya berbincang, tapi dia menolak dengan sopan. Dan melangkah lebar ke dua orang yang sepertinya berniat pergi.
"Tunggu, kalian berdua."
Mereka berhenti, Astoria menoleh dengan senyum yang sangat manis sementara pria bertudung masih bergeming membelakanginya. Ignatius mendekati mereka dan melihat tangan Astoria menggenggam lengan pria di sampingnya.
Apa-apaan itu?"Astoria bisakah kau jelaskan apa yang sedang terjadi?" Mengabaikan orang-orang yang memperhatikan, Ignatius lebih terganggu dengan Astoria yang enggan melepaskan tangannya dari pria itu.
"Ah kami hanya bertemu di jalan dan sengaja berjalan-jalan di kota menikmati waktu luang. Oh, ya." Astoria akhirnya melepaskan tangannya, tubuhnya condong kedepan.
"Tolong jangan beri tahu orang-orang jika dia duke Billmost." Ria berbisik. Dia tahu jika Ignatius sudah menebak siapa pria di sampingnya.
Ignatius memperdalam kerutan di dahinya, entah kenapa dia merasa Astoria sedang berselingkuh dan berusaha menutupi perbuatannya itu. Namun, Ignatius menepis pikiran itu. "Sebaiknya kau pulang, para pelayan selalu bertanya tentangmu."
Ria tertawa karporat, dia melirik Redwis yang sekalipun tak mengeluarkan suara semenjak kedatangan Ignatius. Dia menyenggol pria itu untuk mengatakan sesuatu atau bertindak sesuatu agar tak terlihat mencurigakan.
"Apa?" bisik Redwis.
"Kau akan terus seperti ini? Setidaknya sapalah dia."
Redwis menurut, dia berbalik dengan kepala terus tertunduk karena tidak mau orang-orang mengenalinya. Redwis mengulurkan tangan, agak lama tangannya di jaba oleh Ignatius.
"Lama tidak bertemu, saya hanya menemaninya jalan-jalan selepas pulang dari rumah temannya. Kebetulan saya sedang senggang." Ignatius hanya tersenyum dan segera menarik tangannya.
"Kau pulang sekarang." Ignatius meraih tangan Astoria, perempuan itu di tarik. Sebelum benar-benar jauh, Ria menoleh ke belakang pada Redwis yang melihatnya.
'Kita bertemu di taman kota seperti biasa ' begitulah yang Redwis tangkap dari gerakan bibir Astoria. Dan entah kenapa dia justru tersenyum.
Tadinya, saat mengetahui Ignatius melihat mereka. Dia berniat kabur dan menghindari pertemuan dengan Ignatius, tapi tak di sangka pria itu justru mengejar mereka. Redwis merasa gugup entah kenapa, dia seolah merasakan takut akan sesuatu, tapi dia juga tidak tahu apa itu. Namun setelah mendapat pesan jika dirinya dan Astoria akan bertemu kembali justru perasaan aneh yang sempat Redwis rasakan tadi sirna begitu saja.
Di rumah, Ignatius membawa Ria ke kamar mereka. Sampainya di sana segera Ria melepaskan tangannya dari genggaman Ignatius.
"Apa ini alasanmu berubah akhir-akhir ini? Apa kau memiliki hubungan dengan Duke?"
"Apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti Ignatius?"
"Jangan mencoba berkilah. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku."

KAMU SEDANG MEMBACA
MENGHENTIKAN PEMBERONTAKAN.
RandomDia bunuh diri setelah gagal menikah, tapi sialnya ia masuk ke komik kesukaannya yang memiliki alur cerita tentang pemberontakan. bekerja sama dengan ML, Dia berusaha menghentikan suami Astoria yang memimpin pemberontakan.