kabur🍁

10 3 1
                                    

"Astoria!"

"Redwis! Bagaimana kau...?"

Setelah berhasil membuat pegawai itu bicara dan mengatakan tentang kondisi di kediaman Vincount, Redwis segera pergi menuju kediaman Vincount tanpa pikir panjang. Namun, dia tak menyangka dirinya bertemu dengan Astoria dengan keadaan perempuan itu yang berantakan.

Gaunnya sobek dengan keringat yang deras dari tubuhnya lalu wajah perempuan itu juga terlihat pucat. Redwis mendekat lagi ke Astoria dan menggenggam kedua bahunya, dia meneliti tubuh perempuan itu.

"Aku baik-baik saja, lebih baik kita segera pergi dari sini sebelum Ignatius menemukanku."

Redwis mengangguk, "permisi sebentar."

"Apa yang...huaa." Ria terkejut saat Redwis secara tak terduga menggendongnya lalu berlari sambil membawanya dengan kedua tangan pria itu.

Ria menutup mulutnya dan matanya, karena guncangan dari Redwis yang berlari Ria jadi merasa pusing dan mual ditambah tubuhnya dalam kondisi yang kurang sehat. Setelah Redwis berhenti berlari, dia segera turun karena takut akan muntah di depan wajah pria itu.

"Kau baik? Apa karena aku membawamu terlalu kencang?"

Ria mengulurkan tangannya ke kebelakang, lalu dia menggeleng. Mengisyaratkan pada Redwis agar pria itu tidak mendekatinya.

"Aku baik." Setelah menetralkan rasa mualnya, Ria berbalik menatap Redwis. "Terimakasih sudah membantu. Aku tadi di kejar-kejar penjaga karena kabur dari Ignatius."

"Kau berhasil melarikan diri? Katanya kau di kurung dalam kamar."

"Memang benar aku di kurung dalam kamar dan Ignatius sama sekali tidak membiarkanku keluar selama berhari-hari bahkan jika aku memohon, semua sia-sia. Sampai satu kesempatan datang dan aku tidak menyia-nyiakannya."

Sekarang mereka ada di rumah kecil tempat biasa mereka menyusun rencana, Ria yang merasa lemas duduk di sofa sambil bersandar. Dia memejamkan matanya, sedikit lelah dengan aksi kejar-kejar tadi.

"Ngomong-ngomong apa di sini ada makanan?" tanya Ria dengan suara sedikit serak.

"Akan kucari tahu." Redwis beranjak ke ruang belakang, tempat dapur berada. Dia hanya menemukan ubi kukus di dalam wajah yang sudah dingin, entah sudah berapa hari ubi itu ada di sana. Dia berharap ubi itu tidak basi dan masih bisa di makan.

"Aku hanya menemukan ini." Redwis menunjukannya pada Astoria.

"Berikan padaku, aku sangat lapar." Redwis memberikannya dan Ria mengambilnya lalu memakannya setelah mengupas kulitnya. Perempuan itu makan sangat lahap.

"Kau benar-benar kelaparan'ya." Melihat Astoria yang makan ubi begitu lahap sampai menghabiskan tiga ubi dalam waktu singkat, dia berpikir perempuan itu tidak makan selama beberapa hari.

"Iya. Maaf aku tidak menawarimu. Aku sangat lapar dan tidak bisa membagi makanan ini," kata Ria dengan mulut penuh ubi.

"Tidak apa-apa lagi pula aku masih kenyang."

__________________________________________

Prang

Benda-benda berjatuhan dari meja karena ulah seseorang. Cozy yang melihat tuanya marah hanya bisa berdiam diri di pojokan sambil bergumam dalam hati agar Ignatius tidak melampiaskan amarahnya padanya.

"Sialan!!" Ignatius berteriak murka. Dia melempar pena sampai menancap di rak buku.

Rambut peraknya yang panjang berantakan karena Ignatius terus mengacaknya, mata emasnya yang berkilau berubah redup penuh kemarahan yang siap meluap. Ignatius memukul meja hingga retak, setelahnya mengumpat sangat keras.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 06, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MENGHENTIKAN PEMBERONTAKAN.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang