(17) Pembunuhan Berantai

2.3K 197 7
                                        

"The more I think it over, the more I feel that there is nothing more truly artistic than to love you

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"The more I think it over, the more I feel that there is nothing more truly artistic than to love you."

♤♤♤♤♤♤♤♤

Para warga terlihat antusias, mereka bahkan membawa karung agar biasa mengais pakaian dan bahan makanan yang disediakan oleh Jonathan. Mereka mengucap kata terimakasih menggunakan Bahasa Jawa kepada Jonathan secara berulang kali.

"Anda benar-benar seorang yang kaya raya," celetuk Samira sembari bersidekap di sebelah Jonathan yang sibuk mengawasi rakyat pribumi yang meninggalkan aula itu satu-persatu. Jonathan hanya mengulum senyum manisnya, ini bukanlah pertama kali bagi Jonathan membantu para rakyat pribumi.

Jonathan sudah melakukan hal ini semenjak ia berusia 20 tahunan, meskipun banyak pro-kontra, Jonathan tetap konsisten melakukan kegiatan ini dengan tujuan membantu rakyat pribumi disekitarnya.

"Kenapa anda melakukan ini semua?"

"Aku tak ingin kaya sendirian," balas Jonathan sembari terkekeh pelan.

Para warga pribumi meninggalkan kediaman Jonathan dengan penuh rasa sumringah, mereka berjalan menyeret, menenteng dan menggendong barang bawaan mereka dengan begitu antusias. Jonathan tersenyum puas melihat kebahagiaan para pribumi itu, ia melirik Samira sekilas lalu mencium singkat pipi wanita cantik itu.

Samira berhasil dibuat salah tingkah dibuatnya, meskipun Jonathan beranjak pergi sembari menatap Samira dengan ekspresi mengejek. Menyadari Jonathan yang semakin berjalan jauh menuju ruang kerjanya, ia segera berlari kecil mengejar kekasihnya itu.

♤♤♤♤♤♤♤

Mentari bersinar dengan terik, yang menandakan bahwa hari semakin siang dan panas. Samira berinisiatif menggantikan Dewi untuk menjemput Dedrick di sekolahnya, sementara Jonathan harus segera pergi ke barak militer karena ada sesuatu yang perlu dikerjakan.

Samira mengenakan kebaya putih gading yang tiap ujungnya dihiasi oleh renda. Ia berjalan melihat sekelilingnya yang nampak begitu asri dan indah. Hingga ia berpapasan dengan segerombolan wanita Belanda yang terlihat tengah minum teh bersama di salah satu halaman rumah.

Samira merasa tak enak ketika para wanita itu menatapnya dengan tatapan jijik, sinis dan heran. Tatapan itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Samira ketika ia bekerja bersama orang Belanda dulu. Hingga Samira dikejutkan dengan seorang wanita Belanda yang sebaya dengannya menghalangi jalannya sembari berkacak pinggang.

"Dus jij bent de minnares van Jonathan?" (Jadi, Kamu gundiknya Jonathan?)

Wanita itu menatap sinis dari atas hingga ujung kaki Samira. Samira hanya bisa tertunduk lemah, karena yang dikatakan wanita itu ada benarnya. Samira tak bisa menyangkal statusnya yang tak jelas namun tinggal satu rumah, bahkan tidur dengan Jonathan tanpa ikatan pernikahan. Samira menyadari itu, ia merasa tak ada bedanya dengan seorang gundik meskipun dirinya tak ingin dianggap begitu.

Let Me Love You [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang