(19) Kerinduan yang Mendalam

2.4K 184 1
                                        

"Love is not what you say

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Love is not what you say. Love is what you do."

♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤

Loemadjang, 1938

Samira ke arah luar jendela kamarnya yang terbuka lebar di lantai dua. Kamarnya menghadap langsung ke area perkebunan teh yang begitu memanjakan mata.

Hingga ia menangkap wajah yang nampak familiar di antara petani itu.

"Van Aller?" Samira terlihat tak yakin, apa itu benar sosok pria yang pernah ia temui di perumahan dinas kala itu. Untuk memastikan rasa penasarannya, ia segera turun ke lantai satu dan mencari Adeline.

Samira menemui Adeline yang tengah berbincang dengan Mbok Lastri di dapur. Mereka berdua dibantu seorang wanita muda bernama Warti tengah menyiapkan makan malam.

"Adeline, bisa kita berbicara sebentar?"

Adeline dengan senang hati menerima ajakan Samira. Ia mengikuti Samira yang berjalan menuju ke teras samping kanan rumah yang mana teras itu langsunh menghadap ke perkebunan. Samira menanyakan perilah Willem Van Aller kepada Adeline.

"Kamu mengenalnya? Dia adalah pekerja baru di pabrik ini, ia baru bekerja sebagai pengawas lapangan dua minggu ini."

Samira mengangguk paham, namun ia merasakan ada sesuatu yang aneh dengam Willem Van Aller. Setelah memperhatikan dengan seksama, Samira merasa pernah bertemu dengan Willem entah dimana.

"Dia memiliki kinerja yang cukup bagus, para inlander sangat menyukai perlakuannya yang lembut dibanding pengawas Netherland lainnya yang kasar," imbuh Adeline.

Ketika mereka sedang berbincang, secara tak sengaja Samira beradu pandang dengan Willem. Nampak raut terkejut dari wajah Willem, pria itu tersenyum sembari berjalan menuju arah Samira dan Adeline.

"Wah! Mengapa Apakah Anda orang yang digadang-gadang sebagai Nyonya rumah ini?" tanya Willem dengan penuh sopan santun.

"Anda tak perlu bersikap formal kepada Saya," balas Samira yang merasa kurang nyaman ketika seorang Belanda yang memperlakukannya dengan sopan santun.

Hingga tak lama datang Pieter dari arah dalam rumah. Pieter terkejut melihat wajah Willem, namun sebalinya, Willem malah terlihat seperti biasa saja seolah tak pernah melihat Pieter sebelumnya.

"Bukankah kita pernah bertemu?" tanya Pieter sembari mengulum senyum seramah mungkin.

"Be-benarkah? Saya tak yakin dengan hal itu," balas Willem sembari menggaruk tengkuknya tak gatal.

Samira dan Adeline hanya dapat beradu pandang kebingungan melihat kedua pria itu.

"Apakah kamu pergi ke perumahan dinas di Soerabaja waktu itu?" tanya Pieter penasaran.

Let Me Love You [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang