[MAAF BANGETT BEBERAPA CHAPTER AKU UNPUB UNTUK KEPERLUAN PENERBITAN]
"Biarkan aku mencintaimu dengan caraku," -Anonim
Kisah cinta klasik berlatar Hindia-Belanda. Berkisah tentang seorang wanita Pribumi yang jatuh cinta pada Pria Belanda. Kisah cinta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
♤♤♤♠︎♤♤♤
Samira menghabiskan masa kehamilannya dengan membantu Pieter merawat bunga tulipnya. Mereka hidup dengan begitu sederhana, namun Samira tak pernah mengeluh karena bahkan dulu kehidupannya lebih buruk daripada ini.
Ratusan surat telah coba ia tulis untuk Jonathan. Namun, tak satu pun surat itu mendapatkan balasan dari kekasih hatinya itu. Samira mencoba untuk terus bersabar menantikan kabar dari Jonathan. Ia akan berjuang untuk tetap semangat melanjutkan kehidupannya.
Di sisi lain, Samira sangat bersyukur dengan Pieter yang begitu tulus membantunya. Bahkan, ia menghidupi dirinya beserta Mbok Lastri yang berada di rumah itu. Selain menanam bunga tulip untuk dijual, Pieter bekerja menjadi seorang mandor di lahan kopi yang tak jauh dari rumahnya.
"Samira," sapa Pieter yang datang membawakan Samira segelas susu segar.
"Terimakasih, Pieter." Samira meraih gelas susu itu, ia meneguknya dengan perlahan. Samira meletakkan gelas susu itu di meja yang ada tepat di depannya. Pieter mendudukkan dirinya di kursi yang bersebelahan dengan Samira, pria itu nampak begitu kelelahan setelah pulang dari kebun kopi.
"Pasti sangat melelahkan," lirih Samira sembari menatap ke arah Pieter.
"Aku tak peduli asal kau, anakmu dan Lastri tak kelaparan," jawab Pieter sembari terkekeh pelan. Pria itu menyeka kringat yang membasahi keningnya, karena memang cuaca siang itu begitu terik dan panas.
"Pieter, kamu tak perlu melakukan ini." Wajah Samira terlihat begitu serius, Pieter tahu arah pembicaraan Samira akan pergi kemana. Samira akan terus menyuruh Pieter untuk meninggalkannya dan menjalani kehidupannya sendiri tanpa terbebani oleh Samira.
"Samira, sudah aku katakan berulang kali. Aku tulus membantumu, kamu hanya perlu duduk dan menjaga kesehatan bayi dan dirimu," tutur Pieter dengan begitu lembutnya.
Sejujurnya, Samira merasa sangat bersalah karena merampas kehidupan Pieter yang mapan itu. Ia tak seharusnya menjadi parasit bagi orang lain. Namun, dirinya sendiri begitu lemah karena kehamilan ini.
"Aku hanya ingin kamu berbahagia, Pieter. Hiduplah sesukamu, menikahlah dengan wanita yang kau cintai."
Pieter tersenyum tipis lalu berkata, "Bagaimana bisa aku menikah dengan orang lain jika wanita yang ku cintai adalah-"
Ucapan Pieter terhenti karena ia hampir saja mengungkapkan perasaannya dengan cara yang sangat memalukan.
"Adalah siapa?" Samira menatap Pieter dengan penuh rasa penasaran. Pieter tersenyum, ia beranjak dari tempatnya meninggalkan Samira yang menggerutu kesal karena Pieter tak mau memberitahu wanita yang ia cintai.
♤♤♤♠︎♤♤♤
Keesokan paginya, Samira ditemani oleh Pieter pergi ke pasar tradisional yang tak jauh dari rumah mereka. Mereka berdua berjalan beriringan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Biasanya Mbok Lastri yang berangkat ke pasar, kali ini Samira menginginkan untuk pergi sendiri karena dia sangat ingin melihat suasana pasar pedesaan yang begitu asri.