Sekuat apapun menepis rasa yang telah Tuhan ciptakan ia tak akan bisa. Apalah daya manusia hanya mengikuti garis takdir kemana ia akan bermuara. Rasa dan Cinta datang memang tak terduga, namun ia paham siapa pemiliknya.
Alunan petikan biola melankolis bergema diruang yang terasa sunyi. Diiringi hembusan angin sepoy dari jendela kamar yang menyisahkan seorang gadis dengan rambut cokelat sebahu, seolah ia sedang mengambarkan suasana hatinya yang bimbang dan penuh keraguan.
"Sampai kapan lo kaya gini?" Seorang lelaki tiba-tiba datang membuka knop pintu seenaknya.
"Apa urusannya sama lo"
Gadis itu meletakkan biola nya dengan kasar. Menatap jengah lelaki tersebut.
"Sejak kapan lo berani ngelawan gue?! Gue itu abang lo Denira."
"Ck. Gausah bawa-bawa pangkat deh, elo juga seenaknya sama gue"
Danira seperti melihat tanduk banteng dalam diri lelaki itu. Tapi perduli apa, ia sudah muak. Dengan kasar ia menghempaskan tubus gadis itu di ranjang dan menindihnya.
"Apaan sih elo, lepas! Kalo Mama tau gimana!"
"Gue nggak perduli, gue cuma mau peringatin sama elo. Bisa nggak lo tuh nurut sama gue sekali aja?!" ucapnya sambil mencengkram erat lengan gadis itu tanpa perduli rintihannya.
"Aw- stt lepassin elo nyakitin gue bang"
Sejenak ia melepaskan cengkraman nya, menatap gadis itu dengan penuh penyesalan. Perasaan emosi tak mampu ia kendalikan. Iapun bangkit dari ranjang dan membenahi posisi duduknya
"Mm-maafin gue, sakit nggak?" ucapnya menatap khawatir kearah adiknya yang masih meringis kesakitan.
Sejenak atmosfir dingin menyelimuti keduanya, ruangan itu mendadak sunyi akibat kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Gue cuma mau elo lepasin gue bang, sekuat apapun kita berusaha kita nggak akan berhasil. Kita itu saudara, seharusnya kita nggak kaya gini"
Ucapan gadis itu seolah memohok hatinya. Ia sadar selama ini perbuatannya salah, tak seharusnya ia menuruti hatinya hingga kini menyakiti mereka. Namun apa boleh buat, ia tak bisa berkuasa atas hatinya memilih siapa untuk berlabuh. Meski jatuh pada adiknya yang juga belahan jiwanya.
"Jadi elo merasa tertekan?" Tanya nya memecah mencoba keheningan.
"Gue cuma minta sekarang kita jaga jarak, lupain perasaan elo yang percuma itu bang. Karena pada akhirnya, kita bakalan hidup masing-masing"
Percuma katanya. Tidak tahukah gadis itu betapa ia mencintainya dengan segenap hati. Bertahun-tahun ia memendam perasaannya ini, tapi apa ini akhir dari semuanya.
Danira menatap nelangsa lelaki itu dengan isak tangis yang masih terdengar di bibirnya. Entah hati kecilnya berlawanan mengatakan hal tadi.
"Kalo itu mau lo, baik mulai sekarang gue akan jaga jarak sama lo. Soal perasaan gue, lo tenang aja biar gue yang menanggungnya. Maaf selama ini jadi Abang yang paling buruk buat elo Ra. Elo bebas deket sama siapa sekarang, gue juga akan belajar jadi Abang yang baik buat lo" ucapnya langsung melenggang pergi meninggalkan ruangan itu.
Sementara Danira menatap kepergian lelaki itu dengan penyesalan. Apalagi kalimat terakhir yang abangnya ucapkan seakan boomerang untuk hidupnya. Tidak tahukah ia, semenjak kejadian di kamarnya siang itu kehidupannya berubah. Lelaki itu seakan membuat benteng tinggi diantara mereka.
****
Hampir seminggu kakak beradik itu tak saling tegur sapa. Keduanya hanya berbicara sekenannya dihadapan orang tuanya. Rupanya jarak yang diciptakan Denis membuat Danira seakan kehilangan sosok kakak yang selalu ada untuknya.
"Minggu depan kalian kan liburan semester, Papa sama Mama idah merencanakan liburan ke Lombok. Kalian bisa ikut kami kan?" Ucap sang Mama ketika keluarga kecil itu berkumpul diruang makan.
"Tapi Denira ada les tambahan biola Ma" sahut Danira dengan nada pelan.
Ucapan gadis itu membuat Danis berfikir, sepertinya ia sengaja menghindarinya.
"Kan bisa di cancel dulu dong sayang, kapan lagi kita bisa liburan berempat. Abang kamu aja ikut, yakan bang?"
"Gatau deh Ma, Danis ada keperluan lain kayaknya"
"Kok kalian tega banget sama Mama-- Papa kalian udah sengaja atur jadwal bisnisnya buat kita lo"
"Nggak Papa kok Ma, kan mereka juga punya kesibukan masing-masing" sahut Papa Danis.
" Ihh Papa ini, mereka juga harus kan selama ini juga sibuk. Harunya bisa ngeluangin waktu buat kita dong" rengek Mama Lita memukul pelan bahu sang suami. Danira tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya, tak enak hati sebenarnya menolak ajakan Mamanya.
"Yaudah deh Ma, nanti Danira coba bilang sama pelatihnya dulu"
"Bagus itu, kalau kamu gimana bang?"
Tanyanya pada Danis dengan penuh harap. Melihat hal itu tentu saja ia tak bisa menolak permintaan Mama tersayangnya.
"Iya Danis juga ikut Mama"
"Yeay akhirnya kita liburan" pekik Mama Lita membuat semua orang diruangan itu terbahak
Sedangkan Papa Lion menatap curiga kearah kedua anaknya. Tak seperti biasanya mereka saling canggung, bahkan tak saling melempar candaan satu sama lain. Semoga kecurigaan nya selama ini tidak terjadi.
Danira menatap abangnya yang duduk di bangku taman sembari memangku gitar. Ia tahu jika lelaki itu duduk ditempat ini, pasti abangnya itu sedang mengalami kesulitan. Tentu ia sadar jika penyebabnya adalah dirinya. Dengan pelan ia melangkahkan kaki mendekati lelaki itu. Ia tak bisa terus-menerus dihatui rasa bersalah seperti ini
"Bang Denis" serunya pelan membuat lelaki itu mendongak menatapnya.
"Are u okay?"
Tak ada sahutan dari lelaki itu, seolah ia tak dianggap ada.
"Bang maafin ucapan gue waktu itu, nggak seharusnya gue ngomong kaya gitu" cicitnya menatap abangnya yang masih enggan membalas ucapannya.
"Bukan salah lo kok, kalo nggak ada yang diomongin lagi gue pergi dulu"
Danis mulai beranjak dari duduknya
"Tolong dengerin gue sekali ini aja"
Danira mencekal lengan abangnya yang hendak bergegas pergi. Sudah cukup selama seminggu ini ia diabaikan oleh lelaki itu. Hidupnya merasa ada yang kurang selama mereka berjauhan.
"Jangan merasa bersalah atas kejadian ini. Jarak yang lo mau sekarang udah terwujud kan. Sekarang lo udah bebas, nggak ada orang yang ngekang hidup lo lagi"
Tanpa sepatah katapun Danis meninggalkan adik yang disayanginya seorang diri. Danira terisak menangis seorang diri dibangku taman yang sunyi itu. Ia sangat menyesal sekarang, perbuatannya membuat abangnya menjauh dari hidupnya.
**
Maafkan udah lama nggak update. See you next chapter 👋
KAMU SEDANG MEMBACA
Rewrite the Stars
RomanceKetika pena memaksa untuk bercerita sedangkan hati tak lagi untuknya, namun cinta masih berkuasa diatas segalanya.. "Harus apa aku agar menghapus rasa ini untukmu, jika takdir saja menentangnya. Mengapa Tuhan harus menciptakan hati untuk mencintai o...
