Chapeter 12

17 4 2
                                        


"Papa ini gimana sih, Danira jadi curiga sekarang sama kita" omel Mama Leta.

Sang suami hanya menahan sabar mendengar ucapan istrinya tersebut. Merasa sangat menyesal ia pun hanya mengelus bahu istrinya pelan.

"Maafin Papa--Ma, tapi bagaimanapun juga Nira harus tahu masalah ini kan" Mama Leta menatapnya tajam.

"Nggak, pokoknya nggak! Sampai kapanpun Danira nggak boleh tahu masalah ini. Nira itu anak aku Pa, dia nggak boleh ketemu perempuan itu" Papa Tomi menghela nafas pelan.

"Mau sampai kapan kita sembunyikan ini sama Nira Ma. Dia berhak tahu siapa ibu kandungnya" ujar Papa Tomi semakin membuat tangis Mama Leta terdengar keras.

"Mama cuma nggak mau kehilangan putri kita, dari kecil dia sama kita. Kita yang udah ngebesarin Nira, Mama nggak mau perempuan itu mengambil Danira dari kita" helaan nafas panjang terdengar dari Papa Tomi. Ia pun berjalan pelan mendekati sang istri seraya memeluk tubuh renta tersebut.

"Mama tenang aja, Danira akan tetap tinggal sama kita. Dia akan tetap jadi anak kita selamanya" sahutnya mencoba menenangkan sang istri yang menangis tersendu.

****
Danis memakirkan mobil Ferarri miliknya dipelataran kampus. Kemudian ia bergegas keluar dari mobil dengan  slow motion dengan kacama mata yang bertengger di hidung mancungnya. Sontak hal itu membuat para kaum hawa menjerit kesenangan melihat penampilan lelaki tampan itu. Dengan gaya bak model ia berjalan menuju koridor sembari mengibaskan rambut diringi teriakan dari para mahasiswi.

Danira yang melihat kelakuan ajaib abangnya itu mendengus sebal. Si tukang tebar pesona itu memang tak hentinya membuat keributan di kampus. Ia memutar bola matanya malas melihat lelaki itu mulai berjalan kearahnya.

"Hai" sapanya sambil menampilkan senyuman penuh anoying.

"Gausah sok kegantengan deh, mana buku gue lo bawa nggak?" Ujarnya sambil menyodorkan tangannya.

"Tenang aman sama gue " sahut Danis santai seraya merangkul bahunya tanpa menghiraukan protesan dari gadis itu.

"Lo selesai kelas jam berapa?"

"Jam 2 udah selesai kayaknya, emang kenapa?

"Ikut gue ke kafe biasa, ada yang perlu gw omongin" Danira menyeringit heran mendengar ucapan abangnya.

"Emangnya mau ngomongin apa sih? Jangan aneh-aneh deh" ucap Danira.

"Pokoknya gw tunggu didepan kelas lo nanti, kita berangkat bareng. Awas aja lo sampe kabur kaya kemarin" peringat Danis sambil mengacungkan telunjuknya pada Danira

"Iya-iya"

"Kayanya mereka beneran pacaran deh" bisik salah satu mahasiswi kampus pada temannya.

"Ih mereka kan kakak adek, mana mungkin mereka pacaran"

Ucapan dari orang sekitar membuat Damira mengalihkan pandangannya. Ia merasa sungkan degan sikap Danis hingga dituduh berpacaran dengan abangnya sendiri. Gosip gila macam apa ini.

Akhirnya kedua kakak beradik itu tiba ditempat yang diucapkan Danis tadi. Tapi bukanlah kafe, melainkan sebuah museum yang terletak disudut kota.

"Tadi katanya ngajakin gue ke kafe, kok jadi kesini?" tanya Danira ketika mereka sudah tiba didalam museum tersebut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Tadi katanya ngajakin gue ke kafe, kok jadi kesini?" tanya Danira ketika mereka sudah tiba didalam museum tersebut.

"Kata Rika lo sering kesini kalo lagi ada masalah. Makanya gue ajak kesini, siapa gau pikiran lo jadi tenang"

Perkataan Danis membuat Danira mematung, tak menyangka lelaki itu begitu perhatian terhadapnya.

"Dulu gue selalu kesini tiap banyak pikiran. Dengan ngelihat lukisan aja, gue jadi lebih tenang" ujar Danira sembari menatap seni lukisan didepannya.

"Kalo lo ada masalah cerita aja"

"Gue nggak papa kok"

Dengan pelan ia memengang bahu adiknya agar menghadapnya. Ia menatap kedua mata cantik itu yang kini terdapat luka disana.

"Gue cuma lo tau, kalo perasaan gue nggak main-main. Gue nggak perduli kata orang apalagi Mama sama Papa, yang penting gue cuma mau sama elo." Danira menyimak ucapan Dani seksama. Lidahnya serasa kelu untuk membalas ucapan Danis.

"Jangan pernah sekalipun ngelarang gue buat berhenti suka sama lo, karena gue sendiri nggak berkuasa atas perasaan gue sendiri. Yang gue tahu lo itu cuma milik gue Danira"

Perkataan Danis terdengar penuh ketulusan membuat Danira tak sadar menitikkan air mata. Jujur saja ia bingung dengan perasaan nya sendiri saat ini.

"Gue sebenarnya nggak tahu mau ngomong apa yang pasti gue juga sayang sama lo" sahutnya pelan hingga Danis menyunggingkan senyumannya.

"Jadi kita hadapi ini bersama ya. Biar gue yang urus masalah ini, tugas lo hanya tetap disamping gue kaya gini" ujarnya sambil menyatukan jari mereka.

Sementara Danira menatap lelaki yang tak lain adalah abangnya itu dengan penuh haru. Tak lama lelaki tegap Danis membungkus tubuh mungil milik Danira dalam pelukannya. Perlahan ia melepas pelukannya namun tangannya masih bertengger pada kedua sisi pinggang Danira. Ia mulai memiringkan kepala dan membawa gadis itu dalam ciuman hangat miliknya.

Kedua insang itu semakin larut dalam suasana, tanpa memperdulikan orang sekitar yang lalu lalang disekitar mereka. Biarlah saat ini hanya mereka yang tahu mengenai cinta yang mengakar pada keduanya. Meskipun mereka tau hubungan  ini salah, tapi seakan lupa jika takdir melarang hubungan tersebut.

Danira tak berhenti menyunggingkan senyuman mengingat kejadian tadi. Gadis itu memekik dalam hati, tak menyangka ia bisa jatuh cinta pada abngnya sendiri. Lelaki itu terkadang bersikap manis hingga membuat tubuhnya serasa melayang diperlukan selembut mungkin.

Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya untuk membantu sang Papa membersihkan gudang rumah miliknya. Sementara Danis sedang memenami Mama Peta untuk pergi belanja bulanan. Di Minggu pagi yang cerah ini mereka membagi tugas untuk membersihkan rumah karena para Art dirumahnya izin cuti satu hari. Jadinya ia bertugas untuk membersihkan gudang lama bersama Papanya. Rencananya gudang itu akan direnov menjadi ruang keluarga yang baru.

Pandangan Danira tertuju pada selembar kertas ditumpukan baju kecil miliknya waktu masih bayi. Baru sekarang ia melihat kardus itu, seperti mengulang memories saat ia masih baby dulu.

"Tolong jaga putriku dengan baik"

Ia dibuat heran melihat tulisan yang ada dibalik foto kecilnya tersebut. Ada apa ini sebenarnya, berbagai macam pertanyaan muncul diotak pintarnya .

"Danira boleh minta tolong ambilkan topi Papa" seru sang Papa membuat Danira segera memasukan foto tersebut kedalam saku miliknya.

"Iya bentar Pa" balasnya segera menemui sang Papa.

***
Thank you for your responses, I will be even more enthusiastic about writing in the future 🙏🏻

📌Jangan lupa vote dan komen


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 05, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Rewrite the Stars Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang